Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #4

Chapter tanpa judul #4

“Pak, Mas Bima tidak mau pulang. Mas Bima sekarang ada di taman kota. Saya tidak berani mencegahnya, takut Mas Bima akan mengamuk seperti biasanya.”

Pesan singkat dari Pak Rahmat di layar ponsel itu seketika memicu guncangan di dada Erlangga. Pria paruh baya itu menghentakkan tangannya ke permukaan meja dokter dengan kasar, menyalurkan rasa frustrasi yang mendadak naik ke ubun-ubun.

"Papa kenapa?" tanya Bumi Aksara yang duduk tepat di hadapannya.

Sore itu, mereka berdua masih berada di ruang kerja Erlangga. Bumi baru saja memberikan laporan pada Ayahnya.

"Bima... anak itu tidak langsung pulang ke rumah. Dia malah mampir ke taman kota. Pak Rahmat baru saja mengirim pesan ke Papa," sahut Erlangga, suaranya bergetar dilingkupi kecemasan.

Bumi yang semula sudah bersiap beranjak dari kursinya karena harus bersiap menjelang jadwal operasi, seketika menghentikan langkah. Jas putihnya yang bersih tampak kontras dengan atmosfer berat yang mendadak mengunci ruangan itu. Ia melirik jam dinding, lalu kembali menatap ayahnya.

"Aku kemungkinan baru bisa pulang malam, Pa. Habis Isya nanti ada jadwal operasi, dan ini sudah sore. Lebih baik Papa sendiri yang menjemput Bima ke sana. Pak Rahmat tidak akan pernah bisa mengatasi keras kepalanya anak itu." Bumi memberikan saran, suaranya terdengar datar namun sarat akan ketegasan seorang kakak.

Erlangga mengangguk lesu. Bahunya merosot, seolah seluruh beban dunia mendadak ditumpahkan ke atas pundaknya yang mulai ringkih dimakan usia. "Bahkan dari hasil laboratorium pagi tadi, perkembangan fungsi jantungnya hari ini semakin menurun, Bumi. Papa khawatir setengah mati... tapi adikmu itu terlalu keras kepala."

"Bima bukan keras kepala, Pah. Dia cuma butuh ruang gerak. Dia cuma butuh sedikit kebebasan," potong Bumi lembut namun menghujam.

Langkah Bumi bergeser, mendekati meja sang ayah. Ia menatap lekat sepasang mata Erlangga yang sudah merah. "Papa tolonglah... Papa kan juga seorang dokter spesialis jantung. Papa pasti tahu betul, yang dibutuhkan Bima saat ini adalah waktu untuk dirinya sendiri. Jangan terus-menerus memperlakukan Bima seolah-olah dia adalah seonggok raga yang sudah tidak berdaya. Dia butuh kita untuk memberinya semangat, Pah. Papa dan Mama selama ini terlalu mengekang, sampai akhirnya Bima merasa kehadirannya di dunia ini sudah tidak lagi berguna."

Air mata yang sejak tadi ditahan Erlangga akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang mulai berkerut. "Bagaimanapun juga, Papa ini hanya ingin menjaganya, Bumi. Papa takut... Papa takut setengah mati," ratap Erlangga, suaranya pecah menjadi bisikan pilu yang menyayat hati. "Setiap hari, setiap detik, Papa seolah-olah dipaksa oleh waktu untuk menghitung mundur sisa napasnya..."

Bumi menghela napas panjang. Kalimat sang ayahnya adalah ketakutan terbesar yang juga diam-diam menyiksa batinnya sendiri. Namun sebagai pilar yang harus tetap tegak, Bumi memilih menepuk pelan bahu Erlangga, memberikan kekuatan yang tak kasat mata.

"Pah, percayalah pada Bima. Kali ini saja. Biarkan dia memilih kebebasannya sendiri, tanpa harus selalu merasa bersalah karena telah mencuri waktu setiap kali ia ingin melangkahkan kaki keluar dari rumah."

Erlangga tidak menyahut lagi. Ia hanya mampu mengembuskan napas berat yang sarat akan lara. Sebagai seorang ayah, ia hanya tidak rela. Ia terlampau rapuh untuk menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin harus kehilangan sosok anak bungsu yang sangat ia sayangi—anak lelaki yang dulu ia sambut kelahirannya dengan penuh tawa, namun kini harus ia saksikan perlahan meredup menuju kegelapan malam.

***

Lihat selengkapnya