Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #5

Chapter tanpa judul #5

Langkah kaki Bima terasa jauh lebih berat saat ia turun dari taksi di depan gerbang komplek rumahnya. Semburat jingga di langit barat sudah hampir sepenuhnya menghilang berganti kelam.

Di dalam dadanya, jantung yang telah lama tidak berfungsi normal itu berdetak kian tak beraturan, mengalirkan rasa kebas yang perlahan menjalar ke ujung-ujung jemari.

Namun, bukan rasa sakit fisik yang membuat langkahnya goyah. Melainkan ucapan Senja yang terus berputar di dalam kepalanya..

“Terus, apa yang bisa aku lakukan selain tersenyum? Aku kan enggak memiliki kuasa apa pun untuk mengatur atau mengubah takdirku sendiri.”

Suara lembut itu seolah menjelma menjadi tangan tak kasat mata yang mencekik ego Bima. Bagaimana bisa seorang gadis yang dunianya dirampas sejak balita mampu memeluk takdir dengan senyuman seikhlas itu? Sedangkan dirinya, yang memiliki sepasang mata untuk melihat megahnya dunia, justru menggunakan sisa usianya untuk terus meratapi nasibnya.

Sayup-sayup, suara selawat dari pengeras suara masjid di ujung jalan komplek mulai terdengar, menandakan waktu Maghrib telah di ambang pintu.

Bima menghentikan langkahnya tepat di persimpangan menuju rumahnya. Bukan untuk belok kanan menuju gerbang rumah yang megah namun terasa seperti penjara, matanya menatap lurus ke arah kubah masjid yang berselimut cahaya lampu temaram.

Bertahun-tahun ia tak pernah lagi ke sana karena amarahnya. Namun malam ini, seruan itu mendadak terdengar begitu keras mengetuk dadanya yang sesak.

Bima membalikkan tubuh. Ia memilih melangkah menuju masjid. Ia ingin bersujud, setidaknya untuk sekali ini, sebelum sisa waktu di dalam dadanya benar-benar berhenti berdetak.

***

Di saat yang sama, mobil Erlangga baru saja memasuki halaman rumah dengan terburu-buru. Begitu mesin mati, Erlangga dan Rama langsung berhamburan keluar, melangkah lebar memutus jarak menuju pintu utama.

"Bima! Bima sudah pulang?!" seru Erlangga panik pada salah seorang pelayan yang menyambut mereka di ruang tengah.

"Belum, Bapak. Kamar Mas Bima di atas masih kosong sejak Mas Bima berangkat kontrol," jawab pelayan itu dengan wajah ketakutan melihat gurat kepanikan di wajah sang majikan.

Dunia Erlangga rasanya runtuh seketika. Tubuhnya limbung, memaksa tangannya mencengkeram pinggiran sofa demi tetap tegak. "Kemana anak itu, Rama? Ponselnya masih tidak bisa dihubungi. Fisiknya tidak akan kuat berada di luar ruangan tanpa obat selama ini!"

"Tenang, Pak Erlangga. Biar saya keliling komplek sekali lagi menggunakan motor. Barangkali Mas Bima turun di depan gerbang," Rama mencoba menenangkan, meskipun ia sendiri tahu bahwa kondisi jantung Bima bisa kolaps kapan saja di waktu kritis seperti ini.

Tepat saat Rama hendak berbalik menuju pintu luar, suara kumandang iqamat membelah langit malam dengan begitu sakral. Suara muazin itu mendadak menghentikan kepanikan sesaat di dalam rumah, menyisakan keheningan penuh doa seorang ayah yang cemas. Erlangga memilih untuk melepas beban dunianya sejenak untuk memenuhi panggilan sang pencipta.

Sementara di dalam masjid, Bima mengambil saf paling belakang, mencoba menyembunyikan gemetar tubuhnya di balik punggung para jemaah lain. Udara masjid yang sejuk oleh embusan kipas angin perlahan menyentuh kulit wajahnya yang pucat.

Lihat selengkapnya