Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #6

Chapter tanpa judul #6

Bumi kembali meletakkan bingkai foto Jasmine ke posisi semula, tertelungkup dan mati, menyembunyikan kembali senyuman abadi dari gadis yang telah pergi jauh meninggalkan duka yang belum usai.

Setelah menarik napas panjang demi mengunci rapat delusi yang baru saja bergejolak di dadanya, ia bangkit berdiri. Langkah kakinya terasa gontai dan berat saat ia memutus jarak menyusuri koridor rumah sakit, menuju ke satu ruangan di mana adiknya berada.

Di dalam ruangan VVIP itu, Bumi bisa melihat kedua orang tuanya. Karina masih setia menggenggam jemari pucat Bima sembari menyembunyikan isak tangannya, sementara Erlangga berdiri mematung dengan tatapan kosong yang luruh ke lantai.

Langkah kaki Bumi yang mendekat seketika memecah kesunyian di dalam ruangan itu. Erlangga mendongak, menatap putra sulungnya dengan gurat mata yang teramat pias.

"Bumi... adikmu," bisik Erlangga, suaranya parau tercekat di tenggorokan.

Bumi tidak langsung menyahut. Ia berdiri di samping sang ayah, memaku pandangannya pada tubuh Bima yang kini dikelilingi oleh barisan kabel dan mesin pemantau jantung.

Bunyi ritmis bip... bip... bip... yang monoton dari alat itu seolah menjelma menjadi melodi penghitung mundur yang kejam di telinga mereka.

"Bagaimana kondisinya, Pah?" tanya Bumi. Suaranya terdengar datar dan tenang, namun Erlangga bisa merasakan, ada cengkeraman erat jemari Bumi lengannya untuk menahan getaran batin.

"Jantungnya mengalami penurunan fungsi yang drastis, Bumi. Tekanan darahnya sempat anjlok di titik kritis sebelum kamu datang," Erlangga mengusap wajahnya yang basah oleh peluh dengan frustrasi. "Papa sudah memberikan dosis maksimal untuk menstabilkannya, tapi raga Bima seperti... menolak untuk bertahan lebih lama lagi."

Bumi terdiam, menatap lekat garis wajah Bima—wajah adik bungsunya yang selama ini selalu menyembunyikan kerapuhan di balik topeng keangkuhan dan amarah. Malam ini, di bawah temaram lampu ICU, Bima tampak begitu pasrah, seolah ia sudah terlampau lelah bertarung melawan takdir fisiknya yang rusak.

***

Kelopak mata Bima perlahan bergerak terbuka saat sayup-sayup ia mendengar gema suara azan Subuh berkumandang dari kejauhan. Kesadarannya merangkak naik seiring dengan rasa hangat yang menjalar di jemari tangan kanannya. Ketika netranya terbuka sempurna, ia menemukan sang ayah, Erlangga, tertidur pulas dalam posisi duduk di kursi sembari menyandarkan kepala di sisi ranjang, menggenggam tangannya erat.

Bima kemudian menoleh ke sudut lain, mendapati sang ibu, Karina, terlelap di atas sofa dalam balutan selimut tipis.

Bima kembali menatap langit-langit kamar VVIP khusus itu dengan pandangan kosong. Jantung di dalam dadanya kini berdegup teratur, meskipun ia masih bisa merasakan ada sisa rasa kebas dan nyeri yang samar di ulu hatinya sisa semalam yang nyaris merenggut paksa napasnya.

Pintu kamar mandi di dalam ruangan itu terbuka tanpa suara. Sesosok pria tegap dengan pakaian yang tampak sedikit kusut melangkah keluar. Itu Bumi Aksara. Kakaknya itu ternyata sama sekali tidak pulang ke rumah sepanjang malam, memilih tetap berjaga di ruangan itu demi memastikan sang adik berhasil melewati masa-masa paling kritis.

Lihat selengkapnya