Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #7

Chapter tanpa judul #7

Sebuah bangunan berlantai dua bertuliskan Yayasan Lentera Senja berdiri kokoh di jantung kota yang sibuk. Gedung minimalis modern itu dikelilingi pagar rapi dengan hamparan rumput hijau di halamannya. Tidak ada kesan kaku apalagi suram.

Jendela-jendela kaca besarnya sengaja dirancang lebar agar sinar matahari sore leluasa masuk, menghangatkan setiap sudut ruangan. Begitu melangkah masuk, keheningan menyedihkan yang biasa membayangi tempat panti sama sekali tak ditemukan. Yang terdengar justru riuh tawa anak-anak, petikan gitar yang bersemangat, dan ketukan ritmis tongkat-tongkat putih di atas lantai bertekstur.

Senja tidak pernah berniat menyerah pada keterbatasannya. Justru dari kegelapan yang memeluknya, ia bertekad menjadi peneduh bagi mereka yang bernasib sama. Bersama Namira—ibunya yang selalu menjadi pelindung—ia mendirikan wadah ini: sebuah rumah kreativitas dan vokasi inklusif tempat teman-teman difabel belajar public speaking, seni musik, hingga teknologi digital.

"Nah, sekarang bait keduanya ya! Suaranya harus lebih nyaring!"

Senja tersenyum ceria di tengah aula. Jemari lentiknya lincah memetik senar gitar, memimpin paduan suara kecil anak-anak tunanetra yang disambut tepuk tangan riuh. Di tempat ini, Senja adalah pusat semesta mereka—lentera yang menghidupkan suasana.

Dari ambang pintu, Namira menyaksikan pemandangan itu dengan senyum tipis, meski dadanya mendadak dihantam sesak. Rasa bersalah yang lampau kembali datang mengikis hatinya. Dulu, saat sel-sel terkutuk akibat Retinoblastoma—kanker mata ganas—mulai merenggut penglihatan Senja balita, Namira justru tenggelam dalam ambisi pameran tunggal butik fesyennya di luar negeri. Ia mengabaikan kilatan putih samar di pupil mata putrinya yang dulu ia kira hanya pantulan kilat kamera.

Bzzzt... bzzzt...

Ponsel di tasnya bergetar, memutus pusaran penyesalan itu. Nama sang suami tertera di layar. Namira melangkah sedikit menjauh dari keriuhan aula lalu segera mengangkat panggilan.

"Bun, Senja mana? Sore nanti Ayah akan mengajak dia ke rumah sakit."

Suara penuh semangat di ujung telepon bahkan tak memberinya ruang untuk bersuara. Namira meremas ponselnya kuat-kuat. Bayu Aditama benar-benar belum menyerah. Di saat para dokter spesialis menyatakan saraf mata Senja pasca-operasi telah mati total, Bayu masih enggan mengibarkan bendera putih. Baginya, selama pundi-pundi uangnya mampu membiayai pengobatan eksperimental hingga ke ujung dunia, ia akan terus bertarung.

Namun bagi Namira, perjuangan suaminya kini justru mulai terasa seperti memaksakan luka pada Senja yang sebenarnya sudah berdamai dengan keadaan.

Namira melangkah mendekat ke arah kerumunan anak-anak. "Senja..." panggilnya lembut.

Mendengar suara sang bunda, Senja menoleh. Senyumnya mengembang. Ia meletakkan gitarnya perlahan ke lantai, lalu jemarinya dengan cekatan meraba tongkat lipat yang bersandar di kursi. "Ya, Bun?"

"Ayah telepon tadi. Katanya sore ini kamu ada jadwal pemeriksaan lagi," ujar Namira, menahan nada suaranya agar tetap tegar.

Lihat selengkapnya