Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #8

Chapter tanpa judul #8

Di dalam ruang praktiknya yang kedap suara, Bumi Aksara melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 17.10, waktu praktik hampir selesai, dan isi kepalanya mendadak dipenuhi oleh bayangan Bima yang terbaring di ruang perawatan khusus. Ia tahu betul jadwal operasi besar sang ibu sangat padat hari ini, begitu pula dengan sang ayah. Ia ingin segera bisa melihat keadaan adiknya yang ia tahu pasti sangat kesepian.

"Sus, apa pasien sore ini masih banyak?" tanya Bumi akhirnya, menanyakan pasien sore itu pada perawat yang sedang merapikan dokumen di meja konter.

"Masih ada dua pasien lagi, Dok. Kebetulan yang satu pasien baru," jawab sang perawat ramah.

Bumi menoleh sekilas. "Pasien baru?"

"Iya, Dok. Baru saja menyelesaikan skrining dasar di ruang depan. Dia mengalami kebutaan," jawab perawat melihat laporan dari layar komputer itu sebelum akhirnya berdiri dan berjalan keluar untuk memanggil antrean.

Bumi hanya mengangguk-angguk pelan, mencoba mengusir letih yang bergelayut di pundaknya setelah seharian berkutat dengan pasien.

Sebuah ketukan pelan dari balik pintu memecah kesunyian. Bumi segera mendongak. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pria paruh baya dan wanita yang melangkah masuk sembari mengulas senyum hormat ke arahnya. Namun, pada detik berikutnya, Bumi Aksara di paksa menahan napas. Jantung di dalam dadanya mendadak berdegup tak karuan.

Di belakang pasangan itu, seorang gadis melangkah dengan tangan yang bertumpu pada lengan sang ibu. Tangan kanannya memegang tongkat.

Bumi terpukau di atas kursinya. Goresan luka di dahinya mendadak terasa berdenyut ngilu.

Itu dia. Gadis dari perempatan berdarah tiga bulan lalu. Gadis yang siluetnya selalu menjelma menjadi hantu masa lalu bernama Jasmine di dalam kepala Bumi. Bumi tahu, gadis di depannya ini bukanlah Jasmine. Namun gadis itulah yang berhasil membuatnya kembali membalik bingkai foto Jasmine.

Kehadiran Senja sore itu dengan jarak yang begitu dekat dengan kesadaran yang penuh mengusik dinding kewarasannya, mengalirkan getaran yang selama satu dekade ini telah membeku di dalam batin Bumi Aksara.

"Selamat sore, Dokter Bumi," sapa Bayu Aditama sopan, memecah keheningan.

Bumi berdeham pelan, memaksa seluruh otot wajahnya untuk kembali tenang dan profesional, meski badai di dadanya belum sepenuhnya reda. "Selamat sore. Silakan duduk, Pak, Bu."

Namira menuntun Senja untuk duduk di kursi pasien yang berhadapan langsung dengan meja Bumi, sementara Bayu mengambil posisi di sebelahnya. Senja duduk dengan tegak, wajah cantiknya menghadap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

Bumi membaca hasil skrining awal dari layar monitornya. Ia membaca barisan data itu dengan saksama demi mengalihkan tatapannya yang terus-menerus ingin mengunci wajah Senja.

"Berdasarkan data skrining awal dari perawat di depan, tekanan bola mata Senja terpantau normal," Bumi mulai membuka suara yang terdengar berat dan teratur. "Namun, dari catatan riwayat medis masa kecil yang Bapak bawa, Senja pernah menjalani operasi pengangkatan masa tumor akibat Retinoblastoma saat berusia dua tahun. Boleh saya tahu, apakah setelah operasi itu Senja sempat menjalani terapi radiasi atau kemoterapi?"

Bayu mengangguk cepat, wajahnya penuh binar harapan yang besar. "Benar, Dok. Waktu balita dulu, setelah tumor di mata kanannya diangkat, mata kirinya sempat menjalani beberapa kali prosedur laser dan radiasi untuk mematikan sisa sel kankernya. Tapi sejak saat itu, penglihatannya perlahan gelap total sampai sekarang. Selama dua puluh tiga tahun ini, saya sudah membawa Senja ke berbagai klinik spesialis di luar negeri, Dok. Semua bilang saraf matanya sudah mati total. Tapi saya yakin, di Aksara Medika ini pasti ada teknologi baru yang bisa menyembuhkan anak saya."

Bumi mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Ia melirik sekilas ke arah Senja. Gadis itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang menyiratkan bahwa ia sudah teramat lelah mendengar ambisi ayahnya yang terus-menerus mengejar sesuatu yang semu.

Bumi menegakkan posisi duduknya, menautkan jemarinya di atas meja. Sebagai seorang dokter lulusan Jerman, logikanya tahu persis jawaban apa yang harus ia berikan. "Pak, secara medis, kasus Retinoblastoma yang sudah merusak jalur saraf optik utama memang sangat sulit. Saraf mata yang sudah atrofi atau mengecil akibat radiasi masa lalu tidak bisa dihidupkan kembali hanya dengan obat-obatan atau terapi laser biasa.”

"Lalu... apa masih ada harapan untuk putri saya, Dok?" tanya pria paruh baya penuh harap.

Bumi tidak langsung menjawab. Ia tahu betul bagaimana perasaan seorang ayah yang kini berdiri di hadapannya. Sebab saat ini, ayahnya sendiripun sedang berada di posisi yang sama—berharap pada setitik keajaiban, meski logika tahu hal itu sangat sulit.

Bumi menoleh ke arah Senja yang hanya diam saja, namun diamnya sanggup menggetarkan hati Bumi.

Bumi berdeham pelan untuk menstabilkan suaranya. "Maaf, Bapak...?"

"Bayu, Dokter. Saya Bayu Aditama dan ini istri saya, Namira," potong Bayu cepat, seolah paham akan kebingungan dokter muda itu untuk memanggil namanya.

Lihat selengkapnya