Satu minggu telah berlalu sejak badai yang sempat meremukkan ketenangan di balik dinding Rumah Sakit Aksara Medika. Tujuh hari yang penuh ketakutan dan untaian doa itu akhirnya membuahkan ketenangan yang semu.
Kondisi Bima Sakti berangsur membaik, meski rona pias masih enggan beranjak dari garis wajahnya. Ada sesak yang sesekali datang menghimpit, memicu batuk kecil yang terkadang meninggalkan bercak merah tipis di ujung saputangannya, sebuah tanda bahwa organ di dalam dadanya sedang bekerja terlampau keras. Namun, keluarga Hartawan memilih untuk tetap bersyukur. Tuhan masih bermurah hati mengizinkan denyut itu berdetak hari ini.
"Mama ada jadwal operasi sore ini, Papa juga harus menghadiri rapat dewan direksi. Sebaiknya kita pulang ke rumah sekarang. Kamu pasti sudah bosan mengurung diri di rumah sakit," ujar Bumi Aksara sore itu. Tangannya bergerak cekatan menutup ritsleting koper kecil berisi pakaian adiknya.
Bima yang duduk di tepi ranjang perawatan tidak langsung menyahut. Ia menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampilkan seliweran awan sore. "Aku butuh waktu sebentar, Kak."
Gerakan tangan Bumi seketika terhenti. Ia meletakkan kembali koper di tangannya ke atas nakas, lalu berbalik menatap adiknya dengan saksama. "Kamu mau ke mana?"
"Melihat seseorang... sekali lagi," bisik Bima. Suaranya terdengar datar, matanya masih enggan menatap langsung ke arah sang kakak.
Dahi Bumi mengernyit heran, sepasang alisnya bertaut rapat. "Seseorang?"
"Iya. Seseorang yang berhasil mengubah cara pandangku pada dunia. Seseorang yang bisa membuatku menyadari tentang arti sebuah sabar dan syukur," Bima menerawang jauh, mengingat kembali tawa renyah yang seminggu lalu menghidupkan sudut taman kota.
Bumi tertegun, membisu di tempatnya berdiri. Sepanjang ingatannya, ia tidak pernah mendengar semangat Bima. Sore ini, kemarahan dan keangkuhan yang biasanya membentengi jiwa Bima seolah lenyap, menyisakan ketulusan rasa yang rapuh.
Tak ingin mematahkan harapan yang baru saja tumbuh di dada sang adik, Bumi akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan menemanimu ke sana."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri," tolak Bima cepat.
Bumi terdiam sejenak, menimbang-nimbang keinginan Bima di dalam kepalanya, mempertimbangkan segala risiko fatal yang mungkin saja terjadi andai fisik adiknya tiba-tiba kolaps di luar jangkauan pengawasannya. "Tapi, Bim... kamu belum kuat betul untuk berjalan jauh. Kamu baru saja melewati masa kritis."
"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku hanya pergi ke taman kota," potong Bima dengan nada datar tak ingin dibantah.
Bumi akhirnya mengangguk pasrah. "Kalau begitu, biar kuantar ke sana. Setelah itu, aku akan menjemputmu nanti." Bima terdiam sejenak, lalu mengangguk, memilih menyudahi perdebatan panjang mereka.
***
Setengah jam kemudian, Bumi menghentikan laju mobilnya tepat di pembatas jalan luar taman pusat kota. Dengan penuh kehati-hatian, ia membantu Bima untuk turun dari kabin, lalu menyiapkan kursi roda milik Bima.
Demi menjaga privasi sang adik dan mencoba untuk tidak bersikap egois, Bumi membiarkan Bima meluncur sendiri ke dalam taman dengan roda otomatisnya. Ia ingin memberikan ruang gerak bebas yang selama ini dirampas dari hidup adiknya.
Setelah punggung Bima hilang di balik rimbunnya pepohonan, Bumi kembali masuk ke balik kemudi. Sepanjang jalan, ia tidak tahu harus ke mana. Ia hanya berkendara berputar-putar tanpa tujuan jelas di jalur kota yang mulai padat. Pekerjaanya sore ini sedang senggang. Niat awalnya adalah menghabiskan sisa sore bersama Bima, namun faktanya, Bima justru lebih memilih untuk menyendiri.
Laju mobil Bumi perlahan melambat ketika pandangan matanya menangkap sebuah pemandangan di sudut persimpangan jalan raya. Sebuah gedung luas nan asri berlantai dua, berdiri dengan arsitektur minimalis modern yang dikelilingi taman hijau rapi. Di dinding depannya, sebuah papan nama berkilau diterpa cahaya sore: Yayasan Lentera Senja.
"Senja..." gumam Bumi tanpa sadar. Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Seketika, potongan memori berputar acak di kepalanya—detik-detik saat ia memeriksa mata gadis itu di ruang praktik semalam, hingga wajah Jasmine yang terus-menerus muncul sebagai hantu masa lalu.
'Mengapa setiap kali mengingat gadis itu, aku selalu dipaksa membuka kembali makam masa laluku?' batin Bumi bergejolak, meremas lingkar setir mobilnya.
Semakin mobil itu mendekat ke area pagar, semakin jelas Bumi bisa menangkap riuh keramaian dari balik jendela kaca besar bangunan tersebut. Entah dorongan dari mana, Bumi akhirnya menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan. Cukup lama ia mematung di dalam kabin, memandangi fasad bangunan itu, hingga sepasang netranya menangkap sesosok figur wanita yang melangkah di area teras dalam.
Namira, ibu Senja. Wanita itu mendadak menjelma menjadi magnet kuat yang memaksa Bumi untuk membuka pintu mobil dan turun.