Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #10

Chapter tanpa judul #10

Hari terus berganti membawa secercah harapan baru untuk bertahan satu hari lagi, mengizinkan organ di dalam dada Bima Sakti tetap berdenyut. Meskipun rasa nyeri tetap setia menjadi teman karib di setiap tarikan napasnya, belakangan ini sebuah semangat baru tampak menyalakan kembali jiwanya.

Kursi roda itu sengaja ia tinggalkan di sudut kamar. Selama kedua kakinya masih sanggup menumpu raga, Bima akan terus memilih menapakkan kakinya di atas bumi. Meskipun gemetar kerap kali datang menyerang lututnya yang kian melemah, pemuda berusia dua puluh lima tahun itu selalu mencoba untuk berdiri tegak, menolak takluk pada takdirnya

Setelah menuntun rakaat demi rakaat kewajibannya sore itu, Bima menoleh ke arah jendela kamarnya. Pancaran matahari sore yang hangat masih jelas bisa ia rasakan menyentuh permukaan kulit wajahnya yang pias. Bima mengembuskan napas panjang, sebuah desahan berat penuh lelah batin yang ia pendam sendiri.

Langkah kakinya perlahan menuntun raga itu turun, berjalan menuju halaman depan rumahnya yang sepi.

"Pak Rahmat, antar aku ke taman kota sebentar," panggil Bima lirih.

Pak Rahmat yang sore itu tengah sibuk mengelap kaca mobil di garasi segera menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badan dan melangkah mendekat. "Mas Bima mau ke taman lagi?"

"Iya, Pak. Aku bosan mengurung diri terus di dalam rumah," ujar Bima, mendongakkan wajahnya menatap hamparan langit yang sore itu masih berselimut warna biru. "Setidaknya di taman sana aku bisa melihat anak-anak kecil berlari bebas... meskipun pemandangan itu kadang membuatku iri, membuatku ingin ikut berlari bersama mereka."

Mendengar penuturan jujur tersebut, Pak Rahmat seketika merasakan ada sesak yang menghimpit ulu hatinya. Selama dua belas tahun terakhir, di saat kedua orang tua Bima dan kakak sulungnya terlampau sibuk dengan dunia medis mereka, dialah orang yang paling setia menemani Bima ke mana pun. Pak Rahmat adalah saksi hidup bagaimana penyakit gagal jantung itu perlahan menggerogoti raga sang anak majikan sejak usia belia.

"Saya antar sekarang, Mas. Tapi... bagaimana dengan Ibu, Bapak, juga Mas Bumi? Apa mereka sudah memberikan izin?" tanya Pak Rahmat dengan nada cemas yang tak bisa ia sembunyikan.

Bima menarik sudut bibirnya, mengulas senyum tipis yang terasa begitu dingin. "Aku nggak butuh pendapat atau izin mereka, Pak. Aku hanya memiliki sisa waktu yang sebentar di dunia ini, sedangkan mereka... mereka selalu sibuk dengan dunia dan ambisi mereka sendiri."

Hati Pak Rahmat mencelos seketika mendengarnya. Di balik kemegahan arsitektur rumah ini, di balik jabatan, kekuasaan, serta tumpukan materi yang keluarga Hartawan miliki, ternyata ada sebuah lubang menganga dalam jiwa Bima. Rasa kesepian yang bahkan tidak pernah disadari oleh kedua orang tuanya.

"Terima kasih banyak ya, Pak Rahmat, sudah mau menjagaku dengan sabar selama dua belas tahun ini," Bima menjeda kalimatnya, menatap lekat sepasang mata tua pria yang sudah menjaganya sejak kecil. "Kalau suatu hari nanti aku sudah nggak ada... tolong jangan pernah lupa untuk doakan aku ya, Pak."

"Mas Bima ini ngomong apa toh, Mas Bima pasti akan sembuh," potong Pak Rahmat cepat. Suaranya mendadak bergetar karena menahan air mata yang nyaris luruh. Ia menolak mendengarkan kalimat putus asa itu lebih jauh lagi. "Ya sudah, ayo masuk ke dalam mobil. Saya antar ke taman sekarang."

Lihat selengkapnya