Erlangga melipat kedua jemarinya, menumpu kening di atas meja kerja dalam keheningan yang berat. Setelah berhasil menguasai badai di dadanya, ia bernimat untuk bangkit. Namun, sebelum benar-benar melangkah pergi, tatapannya tertambat sekali lagi pada bingkai foto Jasmine. Di sana, Jasmine tersenyum seolah sedang membaca seluruh kebingungan yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Jadi ... gadis itu," gumam Erlangga lirih, seolah sedang memberi tahu Jasmine yang telah tiada.
Ia mengembuskan napas panjang, berat oleh beban masa lalu. "Bumi, sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri setelah sekian lama terjebak memikirkan bayang-bayang Jasmine. Tapi ... papa juga tidak bisa membenarkan tindakanmu yang memprioritaskan Senandung Senja."
Erlangga mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, mencoba menghapus lelah yang telanjur menjalar. Detik berikutnya, ia benar-benar bangkit dari kursi, lalu melangkah keluar dari ruangan Bumi dengan langkah kaki yang terasa kaku.
Ketika benaknya masih dipenuhi oleh jalinan rumit antara Bumi dan Senja, getaran halus dari saku jasnya memecah lamunan. Erlangga seketika menghentikan langkah, tepat di depan daun pintu ruang ICU yang dingin. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
“Bapak, mohon maaf, Mas Bima pergi ke taman kota lagi. Saya tidak berani mencegahnya.”
"Bima ..." gumam Erlangga. Ibu jarinya meremas sisi ponsel dengan erat. "Kamu benar-benar keras kepala, Nak. Kamu tidak pernah tahu ketakutan Papa. Mungkin bagimu rumah adalah penjara, tapi bagi Papa, kehilanganmu adalah kelemahan terbesar Papa."
Erlangga mengalihkan pandangannya ke luar jendela koridor, menatap lurus ke arah matahari yang mulai condong ke barat, membiaskan warna madu yang hangat sekaligus sepi. Jemarinya bergerak cepat di atas layar ponsel, mengetik balasan:
“Biar saya saja yang menjemputnya, Pak. Sekalian saya jalan pulang.”
Pesan terkirim. Erlangga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu bergegas membelah koridor dengan langkah yang lebih terburu-buru.
***
Setengah jam telah berlalu, dan Bima masih duduk termenung sendirian di atas bangku kayu yang mulai menua. Di hamparan taman luas itu, tawa anak-anak perlahan mulai surut seiring berjalannya sore. Namun, sosok yang sedari tadi ia cari di antara kerumunan tidak juga kunjung ditemukan.
Bima Sakti memejamkan mata, mendongakkan kepala ke atas langit, membiarkan embusan angin sore menerpa bebas permukaan wajahnya.
"Ya Allah, ternyata aku belum bisa sesabar itu. Namun, berilah aku satu lagi kesempatan," bisiknya pada langit yang mulai melunak.
Cukup lama Bima tenggelam dalam kesunyiannya sendiri, hingga perlahan dadanya mulai terasa sesak. Penyakit itu kembali menyapa, namun ia mencoba menahannya sekuat dan seanggun yang ia bisa, enggan merusak sore ini.
Hingga kemudian, indra pendengarannya menangkap sebaris ritme yang familier. Ketukan tongkat pemandu yang beradu seirama dengan susunan paving blok taman yang rata.
Tuk ... tuk ... tuk …
Sudut hati Bima mendadak berdesir. Ada kehangatan yang menyeruak begitu cepat, begitu pekat, hingga rasa sesak di dadanya seolah menguap tanpa sisa. Dari ujung kanan, sosok yang belakangan ini berhasil mengusik ketenangannya berjalan kian mendekat.
Gadis berambut panjang yang tergerai indah ditiup angin sore, melangkah dengan sepasang mata kosong yang menatap lurus ke depan.