Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #12

Chapter tanpa judul #12


Senja telah sepenuhnya berganti malam saat Erlangga duduk di balik meja kerjanya dengan tatapan mata yang tajam. Di hadapannya, Bumi Aksara berdiri tegak dengan jas putih yang tersampir di tangan kanannya. Ia bahkan belum sempat duduk saat kembali ke rumah dan sang ayah memanggilnya masuk ke dalam ruangan itu.

Suasana begitu hening, menyisakan dengung pelan dari pendingin ruangan sebelum akhirnya Erlangga membuka suara dengan suara datar yang menuntut sebuah penjelasan.

"Papa sengaja menunggumu pulang, Bumi. Ada satu pembaruan data di sistem Bank Mata yang sangat mengusik ketenangan Papa."

Bumi tidak terkejut. Ekspresi wajahnya tetap kaku dan tenang, karena ia sudah menduga jika pembicaraan ini cepat atau lambat akan datang menemui mereka.

"Tentang Senandung Senja?" tebak Bumi langsung pada inti masalah.

"Kamu memotong antrean prioritas untuknya, Bumi. Kamu menempatkannya di nomor urut teratas tanpa ada indikasi darurat medis yang sah secara regulasi," Erlangga memajukan tubuhnya, menumpu kedua lengan di atas meja. Tatapannya menembus tajam mata putra sulungnya. "Sejak kapan putra sulungku yang selalu mengedepankan integritas kedokterannya mulai bermain-main dengan hukum rumah sakit? Apa alasanmu?"

Bumi menarik napas panjang, membiarkan pasokan udara dingin memenuhi dadanya. Ia sama sekali tidak menghindari tatapan menghakimi dari sang ayah.

"Secara klinis, struktur fisik mata depan dan jaringan pendukung Senja berada dalam kondisi yang sangat prima, Pah. Respons motoriknya masih ada," jawab Bumi, membela diri dengan tameng medisnya. "Di saat ratusan pasien lain memiliki risiko penolakan jaringan yang tinggi setelah transplantasi, Senja justru memiliki peluang keberhasilan yang jauh lebih besar. Sebagai seorang dokter, aku hanya memilih efisiensi tingkat keberhasilannya."

Erlangga terkekeh hambar, sebuah tawa getir penuh penolakan. "Jangan membodohi Papa dengan dalih klinis, Bumi. Kita sama-sama dokter. Alasan yang kamu rakit itu terlalu lemah untuk ukuran seorang lulusan Jerman yang paham betul arti dari sebuah kode etik."

Erlangga mengembuskan napas pelan, menyandarkan kembali punggungnya. "Papa pergi ke ruanganmu sore tadi. Papa menemukan buku catatan yang terbuka tepat di samping bingkai foto Jasmine."

Tatapan Erlangga kian tajam menghujam langsung ke ulu hati Bumi. "Nama gadis itu tertulis di sana, Bumi. Berdampingan dengan barisan aksaramu untuk Jasmine."

Mendengar nama Jasmine disebut benteng ketenangan di wajah Bumi seketika runtuh tanpa sisa. Rahangnya mengeras seiring detak jantungnya yang mendadak berantakan. Jemarinya mencengkeram kain jas putih di tangannya dengan kuat.

"Papa boleh menanyakan masalah operasional pekerjaan, tapi Papa sama sekali nggak berhak mencampuri urusan pribadiku."

"Papa berhak, Bumi!" potong Erlangga tegas, suaranya naik satu oktav. "Terutama ketika urusan pribadimu mulai mengaburkan batas profesionalismemu sebagai seorang dokter spesialis di rumah sakit ini!"

Ruangan kembali sunyi. Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum akhirnya Bumi kembali mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan sorot mata yang perlahan melembut.

"Papa nggak pernah melihat bagaimana seorang ayah memohon di ruang praktikku?" ucap Bumi, suaranya kini terdengari pelan penuh emosi yang tertahan. "Papa nggak pernah melihat bagaimana seorang ayah yang terpandang, rela menanggalkan seluruh harga dirinya demi meminta setitik harapan semu untuk putrinya?"

Bumi menghela napas panjang, melarutkan sesak di dadanya. "Di mata Papa, mungkin yang kulanggar hari ini hanyalah sebaris prosedur rumah sakit. Tapi di depan meja praktikku hari itu... aku melihat seorang ayah yang sedang berjuang mati-matian mempertahankan harapan hidup anaknya. Sama seperti Papa ... sama seperti Papa yang setiap hari berjuang tanpa lelah mempertahankan harapan untuk sisa waktu Bima."

Kalimat penjelasan Bumi seketika membuat Erlangga membeku di tempatnya duduk. Kata-kata itu seperti mata pisau yang menusuk tepat di titik paling rapuh dalam jiwanya sebagai seorang ayah. Untuk beberapa saat yang panjang, tak satu pun dari mereka yang sanggup mengeluarkan suara.

Lihat selengkapnya