Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #13

Chapter tanpa judul #13


Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, dan bulan-bulan itu akhirnya berlalu. Takdir memang masih menjadi misteri yang tak bisa ditawar, tetapi waktu perlahan mengubah banyak hal. Luka yang dulu terasa menganga kini mulai belajar berdamai, sementara harapan yang sempat hampir padam justru menemukan bara baru untuk tetap menyala.

Kehadiran Senja dalam sunyinya telah mengubah segalanya. Meski tubuh pemuda itu semakin kurus dari hari ke hari, semangat di dadanya justru menolak untuk surut.

Pagi itu, Bima mengeratkan sweater rajut tebal berwarna abu-abu yang membungkus tubuh kurusnya. Dari balik jendela kamar, ia menatap langit yang mulai digayuti awan kelabu. Hujan mungkin akan segera turun, namun niatnya sudah bulat.

Dengan langkah perlahan, ia menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sudut meja, pemandangan langka tersaji. Ayahnya, ibunya, dan Kakaknya sedang berkumpul, menikmati hari libur yang jarang mereka miliki bersama.

"Kamu mau ke mana, Bim?" tanya Karina. Pandangan sang ibu langsung tertuju pada putranya yang sudah rapi, kontras dengan anggota keluarga lain yang masih bersantai.

"Mau ke suatu tempat, Mah," jawab Bima tenang.

Erlangga hanya diam. Sebagai ayah yang, tahu persis kemana langkah putra bungsunya akan bermuara. Pria paruh baya itu hanya melirik sekilas ke arah Bumi yang tengah tenang menikmati sarapannya.

"Kamu jangan terlalu sering keluar rumah dulu, Bim. Udara di luar sedang tidak bagus," suara Karina kembali mengalun, masih dengan nada protektif yang sama, yang selama belas tahun ini mengikat hidup Bima.

"Mah... aku hanya melakukan apa yang masih bisa kulakukan di sisa waktuku. Kali ini saja, izinkan aku pergi," sahut Bima. Suaranya mengalir lembut, tak ada lagi bentakan atau nada tinggi penuh amarah seperti dulu.

Karina tertegun. Ia mengembuskan napas pelan. Sejak Bima sering menghabiskan waktu di luar, ia pun menyadari ada riak yang berbeda dari putra bungsunya. Bima bukan lagi pemberontak yang putus asa.

"Pergi sama Pak Rahmat. Jangan sendiri," putus Karina akhirnya, mengalah pada binar hidup di mata anaknya.

"Iya, Mah."

Bima meraih gelas jusnya, namun pandangannya mendadak beralih pada sang kakak yang duduk di seberang meja. "Kak... untuk orang yang pernah kehilangan penglihatan akibat Retinoblastoma, apa mereka masih memiliki harapan untuk bisa melihat lagi?"

Klontang!

Garpu di tangan Erlangga mendadak jatuh, beradu keras dengan permukaan piring di hadapannya. Sontak, suasana meja makan menjadi senyap. Semua mata tertuju pada Erlangga yang kini mendadak tegang dengan napas yang sedikit tertahan.

Bumi tidak terkejut melihat reaksi ayahnya. Di dalam kepalanya, ia mengira sang ayah merasa bersalah karena telah menolak sistem prioritas Bank Mata untuk Senja tiga bulan lalu. Namun bagi Erlangga, fakta bahwa Bima menanyakan hal itu adalah sebuah konfirmasi: orang yang dimaksud Bima pastilah gadis buta yang sama.

Bumi mengalihkan pandangannya dari sang ayah, lalu menatap adiknya dengan lekat. "Bisa, Bim. Bahkan tingkat keberhasilan transplantasi kornea pada kasus seperti itu mencapai sembilan puluh persen, asalkan kondisi jaringan pendukungnya masih prima," jawab Bumi, menekan setiap kalimatnya seolah kalimat itu sengaja ia tekankan pada ego sang ayah yang duduk di ujung meja. "Memangnya kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?"

"Nggak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir... jika seseorang yang hidup dalam gelap saja bisa menjadi manusia yang sangat bermanfaat untuk orang lain, maka suatu hari nanti, aku juga ingin bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk hidupnya."

Erlangga meletakkan gelas kopinya dengan penekanan yang cukup keras, menimbulkan suara dentingan yang memutus kalimat Bima.

Bumi diam, memperhatikan kerutan di dahi ayahnya. Namun di saat yang sama, ingatan Bumi justru melesat kembali pada momen beberapa minggu lalu di ruang praktiknya. Hari di mana ia dipaksa oleh etika dan perintah ayahnya untuk mematahkan harapan seorang seorang ayah lain.

"Jadi bagaimana, Dokter Bumi? Apa sudah ada kabar baik tentang donor kornea untuk Senja?"

Hari itu, Bayu Aditama datang dengan binar harapan yang begitu besar, menatap Bumi seolah pemuda itu adalah dewa penyelamat.

Lihat selengkapnya