Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #14

Chapter tanpa judul #14

Hari berikutnya, Senja merentangkan telapak tangannya ke udara, merasakan sapuan angin yang hangat di kulitnya ketika ia membuka jendela kamarnya. Gadis itu tersenyum kecil, mencoba menebak jika hari ini langit tidak akan menumpahkan hujan.

Sudah berbulan-bulan kota ini terus diguyur mendung, membuatnya rindu dengan suasana temaram taman kota di sore hari. Jemari lentiknya perlahan meraba tas miliknya, mengeluarkan ponsel berseri lama—ponsel dengan tombol fisik untuk mengirimkan sebaris pesan singkat.

Sementara itu di kediaman Hartawan, Bima masih terduduk di atas sajadahnya. Tubuhnya kian hari terasa kian rapuh, seolah tenaganya terkikis secara perlahan setiap kali ia terjaga. Setelah menunaikan ibadah, ia sengaja berdiam diri lebih lama di atas hamparan kain itu, menunduk dalam kekhusyukan yang getir.

‘Apakah waktuku sudah tidak akan lama lagi, ya Allah?’ tanyanya lirih dalam hati. ‘Jika memang iya... hamba memohon, jangan biarkan kepergian hamba meninggalkan luka baru bagi orang-orang yerdekatku. Terutama untuk Kak Bumi. Sudah cukup ia kehilangan Jasmine sepuluh tahun lalu... jangan biarkan raga hamba yang rusak ini kembali membebaninya.’

Bima menoleh saat mendengar getar pelan dari ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menampilkan sebaris pesan masuk dari Senja.

“Bima, sepertinya sore ini cerah. Kamu sibuk nggak? Aku ingin mendengarmu bercerita tentang warna.”

Bima membaca deretan kalimat itu dengan dada yang berdenyut nyeri. Tanpa bisa ditahan, sebutir air mata lolos menetes membasahi sajadahnya. Ia tersenyum tipis, menghapus jejak basah di pipinya.

"Akan kuceritakan semuanya... selagi aku masih bisa," gumamnya pelan.

Dengan sisa kekuatan yang ia punya, Bima bangkit berdiri dan melipat sajadahnya. Ia membulatkan tekad untuk pergi ke taman, mengabaikan rasa berat dan kebas yang mulai menjalar, menggelayuti kedua kakinya.

***

"Mas Bima yakin mau keluar sore ini? Wajah Mas Bima pucat sekali lho, Mas. Saya takut Ibu nanti marah besar kalau tahu," ujar Pak Rahmat penuh kecemasan saat mereka sudah sampai di teras rumah. Pria paruh baya itu menatap khawatir pada putra bungsu majikannya yang hari itu tampak lebih lemas dari biasanya.

"Biar nanti aku yang bicara sama Mama, Pak. Tenang saja," jawab Bima, mengulas senyum terbaiknya demi menenangkan kegelisahan pria yang sudah belasan tahun mengawasi tumbuh kembangnya itu.

Pak Rahmat akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Hatinya terasa teriris. Baginya yang selalu mendampingi Bima, melihat pemuda itu melangkah keluar rumah dengan tubuh serapuh itu adalah sebuah ketakutan terbesar.

Sore itu, tak seperti biasanya yang selalu memilih duduk di jok belakang, Bima memutuskan untuk duduk di kursi depan, tepat di samping Pak Rahmat

"Pak Rahmat... jangan pulang kampung dulu dalam waktu dekat ini ya, Pak," ucap Bima tiba-tiba, memecah keheningan di dalam kabin mobil.

Pak Rahmat mengernyitkan dahi, menoleh sekilas tanpa menurunkan fokus berkendaranya. "Kenapa memangnya, Mas?"

"Karena sepertinya... aku akan sering pergi nanti," sahut Bima dengan nada santai, namun tatapannya lurus menatap jalanan di depan. "Pak Rahmat kan tahu sendiri, Mama, Papa, dan Kak Bumi semuanya sibuk di rumah sakit. Jadi hanya Pak Rahmat yang bisa kuandalkan."

Kalimat itu seketika memicu rasa ngilu yang hebat di dada Pak Rahmat. Genggamannya pada kemudi mengerat. Meski hatinya dilingkupi firasat yang tidak nyaman, ia memaksa dirinya untuk membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. "Iya, Mas. Saya janji tidak akan ke mana-mana."

Lihat selengkapnya