Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #15

Chapter tanpa judul #15

"Senja... apa kamu pernah berharap suatu hari bisa kembali melihat cahaya?" tanya Bima lirih. Kalimat itu mengalun tenang, membelah keheningan sore dan sampai ke indra pendengaran Bumi yang masih mematung dari kejauhan.

Senja seketika menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. "Aku sudah nggak terlalu berharap lagi, Bim. Berkali-kali Ayah bertanya tentang donor kornea dan terakhir membawaku ke rumah sakit Aksara Medika. Di sana, Ayah berharap banyak. Tapi lagi-lagi... dokter nggak bisa menjanjikan apa pun."

Bumi yang berdiri di balik rindangnya pohon seketika mencelos. Dada kirinya berdenyut ngilu mendengar penuturan pasrah dari gadis itu, seketika rasa bersalah menghujamnya karena tak mampu mengusahakan apapun.

Sementara Bima, kalimat Senja memicu sebuah pertanyaan di dalam benaknya. 'Rumah Sakit Aksara Medika? Jangan-jangan dokter yang memeriksa Senja dan ditemui Om Bayu itu... Kak Bumi? Aku harus menanyakannya langsung nanti,' batin Bima penuh tekad.

"Bima? Kenapa diam?" panggil Senja, membuyarkan lamunan pemuda di sampingnya.

"Ah, nggak apa-apa, Senja. Tapi percayalah padaku... suatu hari nanti, kamu pasti bisa melihat dunia lagi."

"Kok kamu bisa seyakin itu, Bim?" tanya Senja, wajahnya dihadapkan lurus menatap ke arah matahari yang kini sudah memerah sempurna di ufuk barat.

"Aku hanya mencoba meyakini kebesaran Allah. Jika kita percaya pada-Nya, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Senja."

Senja memutar seluruh tubuhnya menghadap Bima. Garis wajahnya tampak berseri-seri. "Jika hari itu benar-benar datang, aku ingin kamu adalah orang pertama yang aku lihat, Bim." ujar Senja penuh semangat.

Bima terkekeh pelan. Sebuah tawa hambar yang sarat akan rasa getir dan kepasrahan. "Aku nggak bisa janji untuk menjadi orang pertama, Senja. Tapi percayalah... saat perban matamu dibuka nanti dan kamu mendongak ke atas, kamu akan menemukan galaksi Bima Sakti di langit malam. Mungkin langit malam itu gelap, tapi di sana selalu ada keindahan saat bintang-bintang bertaburan."

Senja hanya tertawa renyah, menyimpan binar bahagia di hatinya tanpa pernah tahu makna perpisahan yang terselubung di balik setiap untaian kalimat Bima.

Dari jarak beberapa meter, Bumi merasakan matanya memanas mendengar janji adiknya pada Senja tanpa Senja sadari jika orang yang berbicara itu kini tengah menahan sekarat.

Namun, keharuan itu seketika sirna. Tubuh Bumi menegang saat melihat jemari Bima tiba-tiba meremas kuat dada kirinya, wajahnya yang semula pucat kini mendadak pias kebiruan. Bima mulai kesulitan menarik napas.

Tanpa memedulikan apa pun lagi, Bumi berlari secepat yang ia bisa.Dengan gerakan senyap, ia menopang tubuh Bima yang mulai limbung. Bumi melihat adiknya sendiri sekuat tenaga menahan suara erangan sakitnya agar tidak terdengar oleh Senja. Dalam hitungan detik, Bumi mengangkat tubuh lemas adiknya dan membawanya pergi menjauh dari bangku taman menuju mobil meninggalkan Senja yang mendadak disergap sepi di tempatnya duduk.

"Bima? Kok kamu diam saja?" Senja mengernyit bingung. Udara sore yang menerpa wajahnya tiba-tiba membawa kepungan aroma yang asing namun terasa sangat lekat di memorinya. "Bim, apa di sekitar kita ada orang lain? Aku... seperti mencium aroma parfum yang familier?"

Tak ada jawaban dari Bima membuat Senja mencebikkan bibir. "Bima kebiasaan deh, selalu pergi begitu saja tanpa pamit."

Lihat selengkapnya