Pagi hari berikutnya membawa ketenangan yang semu di dalam ruang VVIP itu. Karina duduk di sisi ranjang, menggenggam erat telapak tangan Bima yang terasa dingin. Di ujung sofa, Bumi sudah berganti pakaian rapi dengan kemeja berwarna biru langit, sementara Erlangga hanya berdiri membisu menatap keluar jendela besar.
"Bim... jangan buat Mama ketakutan. Mama mohon, Nak," bisik Karina, menyuarakan kecemasan yang menggelayut di dadanya sepanjang malam.
Bima mengulas senyum tipis di balik wajahnya yang kian pias. "Apa yang Mama takutkan? Setiap hari Mama menghadapi pasien yang kondisinya persis sepertiku di ruang operasi, kan?"
"Itu beda cerita, Bima! Di meja operasi, Mama bisa memberikan pertolongan, menyuntikkan obat, dan mengusahakan kesembuhan untuk mereka. Tapi kamu?" Karina menjeda kalimatnya, napasnya memburu tertahan ego yang terluka. "Bahkan setiap kali kamu kritis, mereka melarang Mama untuk mendekat. Padahal Mama lebih berhak atas kamu daripada siapapun di rumah sakit ini! Mama yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan kamu... apa menurutmu ini cukup adil untuk Mama?"
Protes itu mengalir begitu saja dari bibir Karina, entah ditujukan pada kode etik atau pada garis takdir.
Bima tidak membantah. Ia mempererat genggaman tangannya pada sang ibu. "Mah... Mama mau dengar arti kehilangan yang sesungguhnya nggak?"
Karina mengernyitkan dahi, menatap putranya dengan gurat bingung. "Apa maksud kamu, Bim?"
"Bima punya teman, Mah. Namanya Senandung Senja. Dia nggak bisa melihat dunia, tapi dia punya semangat yang luar biasa besar. Dan dari dia... aku berhasil menemukan kembali semangat hidupku yang sempat hilang. Dia mengajarkan banyak hal padaku, dan karena itu, aku nggak lagi mengkhawatirkan apa pun yang akan terjadi pada tubuhku sekarang, Mah. Aku hanya ingin Mama, Papa, dan Kak Bumi jangan larut dalam duka yang dalam saat aku pergi nanti."
"Kamu ngomong apa sih, Bim?!" potong Karina ketus, buru-buru mengusap sudut matanya yang kembali basah.
"Mah... kehilangan itu sebenarnya adalah cara takdir memaksa kita untuk mengembalikan apa yang sejak awal memang bukan milik kita," ucap Bima, mengulang untaian kalimat Senja dengan suara tenang namun sorot matanya menerawang jauh pada senyum gadis itu, "Sakit, sudah pasti. Tapi kehilangan mengajarkan kita untuk berhenti menggenggam terlalu erat, Mah. Agar tangan kita selalu siap menerima bentuk kebahagiaan lain yang dikirimkan Tuhan melalui cara-cara yang nggak pernah kita duga."
Karina mendongak, menatap wajah putra bungsunya lekat-lekat dengan perasaan campur aduk. "Kamu sedang mengajarkan teori hidup pada Mama? Gampang sekali kamu ngomong begitu, Bima. Tapi faktanya, lihat kakakmu! Sepuluh tahun berlalu sejak Jasmine pergi, dan dia masih begitu-begitu saja. Tak ada sedikit pun niat di hatinya untuk membuka lembaran baru."
Erlangga yang sejak tadi membisu di dekat jendela, mendadak memutar tubuhnya. Pandangannya luruh pada Bumi yang tengah menunduk menatap layar ponselnya yang mati, ia bisa melihat bagaimana wajah Bumi sangat tidak nyaman ketika Bima bercerita tentang Senja.
‘Bumi bukan belum membuka hati, Karina. Dia... sebenarnya sudah menemukan pengganti Jasmine. Hanya saja… ‘ Erlangga menghentikan suara hatinya, ia segera menggelengkan kepala pelan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mama..." panggil Bima lagi. "Saat hari itu tiba dan aku harus pergi, yang kubutuhkan adalah doa dan keikhlasan Mama. Bukan air mata kesedihan atau ketidakridaan Mama pada takdir."
"Sudahlah, Bima. Mama tidak mau mendengar omong kosong apa pun lagi pagi ini," potong Karina dingin, melepaskan genggaman tangannya dari jemari Bima dengan gerakan canggung. Ia beralih merapikan barisan botol obat di atas nakas. "Yang penting sekarang kamu minum obat dulu agar kondisimu stabil."