Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #17

Chapter tanpa judul #17

Sore harinya, Bima sudah duduk termenung di sofa kamarnya. Setelah siang tadi ia bersikeras meminta pulang dari rumah sakit, Karina tidak lagi sanggup menolak keinginan putra bungsunya. Wanita itu terpaksa mengalah, mengosongkan seluruh jadwal praktiknya hari itu demi mendampingi Bima di rumah, sebuah keberuntungan karena tidak ada jadwal operasi besar malam ini.

Karina melangkah masuk membawakan sepiring potongan buah. Di usianya yang menginjak kepala enam, ia masih terlihat bugar, meski sore ini ia harus memaksakan senyum hangat demi menyembunyikan rasa ngilu di dadanya. Ada penyesalan yang mendadak menumpuk di hatinya. Di saat-saat kritis seperti ini, Bima justru mencari ketenangan pada sosok orang asing.

Mata Karina menatap Bima lekat-lekat. Anak itu tumbuh tanpa banyak teman, lebih banyak menghabiskan hari bersama Pak Rahmat sejak lulus SMP karena kondisinya tak memungkinkan mengecap sekolah formal. Dulu Karina berpikir, menyelamatkan puluhan nyawa di ruang operasi adalah hal paling mulia—tanpa pernah menyadari betapa putranya sendiri kesepian.

"Bim... kamu sedang memikirkan apa?" tanya Karina lembut saat melihat Bima menatap kosong ke arah gumpalan awan mendung yang mulai menggantung di ufuk barat.

"Senja pasti sedang menungguku di taman, Mah. Dan sore ini... aku mengecewakannya," bisik Bima lirih.

"Senja tidak tahu kalau kamu sedang sakit, Bim? Beritahu dia kalau kondisimu sedang tidak enak badan. Mama yakin dia pasti akan mengerti," saran Karina, mencoba memberikan solusi terbaik yang ia tahu.

"Nggak semudah itu, Mah," jawab Bima. Ia menerima suapan buah dari sang ibu, lalu meraih ponsel miliknya di atas nakas.

Jemari Bima membuka folder galeri, menampilkan barisan foto Senja yang berhasil ia abadikan diam-diam di setiap kesempatan mereka bertemu.

Dengan binar mata yang mendadak hidup, Bima menyodorkan layar ponsel itu ke hadapan ibunya.

Karina menerima ponsel itu dengan jantung yang mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Ia meletakkan piring buah ke pangkuannya, lalu perlahan mengamati dengan seksama sosok gadis di dalam foto yang diambil dari arah samping tersebut.

"Jasmine...?" gumam Karina lirih, hampir berupa bisikan tak sadar.

Bima terkekeh pelan, "Bukan Jasmine, Mah. Dia Senja... aku yakin kalau Kak Bumi melihat wajahnya, dia juga pasti akan mengira itu Jasmine yang hidup kembali."

Namun, Karina mengabaikan kalimat Bima. Kepalanya mendadak pening saat ia menggeser layar ponsel ke foto berikutnya. Ia teringat pada kejadian beberapa bulan lalu—hari di mana ia bertemu gadis yang sama di musala rumah sakit.

‘Gadis ini... gadis yang waktu itu,’ batin Karina bergejolak. ‘Jangan-jangan Bumi justru sudah mengenalnya? Jangan-jangan sore itu gadis ini memang datang untuk memeriksakan diri ke rumah sakit ini?’

Karina menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak bergetar. "Bim... kamu kenal Senja di mana?"

"Di taman kota, Mah. Aku melihatnya pertama kali, di hari saat Kak Bumi kecelakaan tujuh bulan lalu," kenang Bima, senyumnya mengembang mengingat betapa ketusnya ia saat melihat gadis itu pertama kali. "Tapi aku nggak pernah lagi melihatnya, baru tiga bulan terakhir aku dekat sama dia. Mama harus bertemu Senja suatu hari nanti. Aku yakin Mama pasti suka dengan Senja."

Karina meletakkan ponsel itu kembali ke atas nakas, lalu menatap lekat-lekat wajah putra bungsunya. "Bim, apa kamu... mencintai Senja? Apa kamu berniat memiliki hubungan serius dengannya?”

"Enggak, Mah," potong Bima tegas. Tatapannya luruh menatap matahari yang samar karena tertutup awan.

"Aku cukup tahu diri, Mah. Aku nggak mau meninggalkan luka di hati Senja saat aku pergi nanti. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa ia kenang... dan jika suatu hari nanti aku bisa bermanfaat untuknya, aku akan melakukan sesuatu untuknya."

Karina terdiam, tak mampu menanggapi lebih jauh tentang perasaan putranya. Sebagai seorang dokter toraks kardiak senior, ia tahu betul makna mengerikan di balik setiap kalimat Bima.

Tepat saat Karina menoleh ke arah ambang pintu yang terbuka, sekelebat tubuh tegap melintas di koridor luar. Itu Bumi yang baru pulang, Bumi masih mengenakan pakaian dinas rumah sakit, dan dari jarak beberapa meter, Karina bisa melihat dengan jelas betapa kusutnya wajah putra sulungnya malam itu.

Karina kembali menatap Bima, mencoba menyuarakan pembelaan seorang ibu yang enggan melihat anaknya berkorban sendirian. "Bim... Mama akan mendukung apa pun keputusanmu jika itu memang baik untukmu. Tapi tolong, jangan siksa perasaanmu sendiri, Nak. Senja harus tahu kalau kamu mencintainya. Senja... harus tahu bagaimana kondisi kamu yang sebenarnya."

Lihat selengkapnya