Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #18

Chapter tanpa judul #18

Waktu terus berjalan tanpa pernah bertanya apakah seseorang sudah siap atau belum. Seperti Bima yang selama ini dipaksa untuk terus terlihat kuat, meski kondisi fisiknya kian hari kian mengalami pasang surut.

Ada hari-hari di mana ia merasa cukup bugar, namun ada pula hari di mana tubuhnya terasa begitu lemas, bahkan hanya untuk sekadar duduk di tepi ranjang. Namun pagi ini, di tengah rasa kebas yang kembali mendera, sebaris pesan singkat dari Senja di layar ponsel menolak untuk ia abaikan begitu saja. Dengan tekad yang sudah bulat, ia menggerakkan kursi rodanya, mengetuk pelan pintu kamar sang kakak.

Tak butuh waktu lama hingga daun pintu itu terbuka. Sosok Bumi muncul dari dalam, masih mengenakan kaos oblong putih longgar dan celana training abu-abu. Begitu matanya menatap Bima yang terduduk di atas kursi roda, dada Bumi seketika bagai dirisi. Ia tahu betul tabiat adiknya; Bima tidak akan pernah mau menyentuh kursi roda itu jika kakinya masih mampu menopangnya untuk berdiri, walau harus berjalan tertatih-tatih sekalipun.

Bumi membuka pintunya lebar-lebar, membiarkan roda itu bergulir memasuki kamarnya yang luas.

Bima terkekeh pelan, kepalanya mendongak menatap Bumi saat sayup-sayup telinganya menangkap lagu dari Jikustik yang mengalun dari pengeras suara kamar kakaknya. "Lagunya ganti “Saat Kau Tak Disini”, Kak. Apa Kak Bumi sekarang benar-benar sudah mulai melupakan Jasmine?"

Bumi menatap adiknya datar, mengangkat sebelah alisnya. "Kamu sengaja mengetuk kamarku pagi-pagi hanya untuk membahas Jasmine?"

"Bukan," rona di wajah Bima mendadak melunak, berganti gurat keseriusan yang tulus. "Aku mau minta tolong sama Kak Bumi."

"Minta tolong apa, Bim?" Bumi mendudukkan diri di tepi ranjang, menyetarakan tinggi pandangan mereka.

"Antar aku ke Yayasan Lentera Senja."

Deg.

Nama itu kembali disebut, tepat di saat ia sedang mati-matian mencoba menghapus nama itu dari bilik hatinya demi mematuhi perintah sang ayah, takdir justru membawanya kembali melalui tangan adiknya sendiri.

"Di mana tempatnya?" tanya Bumi akhirnya. Ia terpaksa membuang muka, berpura-pura asing dan tidak mengetahui letak yayasan tersebut.

"Ada. Nanti di jalan aku beri tahu rutenya. Kalau aku minta tolong pada Pak Rahmat, aku yakin kali ini Mama nggak akan ngasih izin," tutur Bima, memanfaatkan celah bahwa hari ini adalah hari libur kakaknya.

Cukup lama Bumi terdiam, menimbang-nimbang keinginan adiknya. Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan Bima. Namun di sisi lain, hatinya sendiri sedang dilingkupi kekecewaan. Pada akhirnya, ego seorang kakak luluh. Bumi mengalah. "Tapi di luar mendung, Bim."

"Sebab itu aku mau ke sana sekarang, Kak. Kalau cuacanya nggak mendung, aku pasti lebih memilih menemuinya di taman kota," sahut Bima, tersenyum tipis.

Bumi akhirnya mengangguk pasrah. "Ya sudah. Tunggu sebentar, aku ambilkan sweater."

Bumi berjalan menuju lemari pakaian di sudut kamar Bima, berniat mengambilkan penghangat tubuh untuk adiknya. Namun, gerakannya mendadak terhenti saat jemarinya menyentuh selembar kain rajut tebal berwarna abu-abu yang tergeletak di atas tumpukan pakaian Bima. Di ujung kain wol itu, sebuah nama terukir rapi melalui barisan benang putih: Senandung Senja.

Bumi meremas kuat syal rajut itu di dalam genggamannya, merasakan kehangatan yang tertinggal di sana, sebelum akhirnya berbalik membawa benda itu bersama sebuah jaket tebal.

"Pakai jaketnya. Syalnya juga dipakai, udara di luar dingin," ujar Bumi, menyampirkan kain wol itu ke leher adiknya.

Bima menatap syal abu-abu di dadanya, lalu binar bangganya kembali mencuat. "Kak, percaya nggak kalau syal serapi ini adalah buatan tangan Senja sendiri? Di dalam keterbatasan dunianya yang gelap saja, ada banyak hal luar biasa yang bisa ia lakukan untuk orang lain. Aku... benar-benar ingin dia bisa melihat kembali, Kak."

Lihat selengkapnya