"PUAS KAMU, BUMI?!"
Karina berdiri tegak di ambang pintu kamar dengan sepasang mata yang memerah menahan amarah yang meluap-luap. "Lihat adikmu sekarang! Kamu itu seorang dokter, Bumi! Seharusnya kamu menjadi orang pertama yang paham dengan kondisi fisik adikmu, bukan malah membiarkan dia berkeliaran keluar rumah dalam keadaan serapuh ini!"
Karina menunjuk kasar ke arah jendela besar di koridor luar. Di balik kaca itu, hujan deras tengah mengguyur bumi sore itu, membasahi kota dengan kilatan petir yang sesekali menyambar, memutus keheningan dengan suara gemuruh yang menakutkan.
Wanita itu meluapkan semuanya tanpa bertanya, dan tanpa memberikan Bumi kesempatan sedikit pun untuk membela diri. Baginya, saat ini Bumi adalah satu-satunya sasaran untuk melimpahkan seluruh ketakutan terbesarnya yang kian hari kian terasa mencekik.
Bumi diam membisu di balik meja kerjanya. Jemari tangannya menggenggam erat pena plastik di tangannya saking kuatnya menahan gejolak rasa, hingga pena itu kini telah patah menjadi dua bagian di dalam telapak tangannya. Bumi mengembuskan napas panjang, berusaha sekuat tenaga menahan egonya agar tidak meledak, karena jauh di lubuk hatinya ia juga sadar—tak seharusnya ia mengalah pada keinginan Bima untuk menemui Senja pagi tadi.
Bumi menutup buku catatan di atas mejanya dengan pelan, lalu melangkah mendekat ke arah sang ibu. Dengan gerakan lembut, ia meraih dan menggenggam jemari tangan ibunya yang terasa bergetar. "Mah... aku minta maaf. Aku yang salah di sini. Tapi aku benar-benar nggak tega menolak permintaan Bima untuk menemui Senja pagi tadi."
Karina membuang pandangannya ke samping, menolak menatap mata putra sulungnya. "Bima? Atau sebenarnya kamu sendiri yang justru sedang merindukan Jasmine di sana?"
Bumi tersentak tak percaya. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Bagaimana bisa... ibunya mengetahui tentang rahasia yang selama ini ia kunci rapat di dalam bilik hatinya tentang Senja?
"Apa maksud Mama?"
"Jangan berpura-pura lagi, Bumi. Lupakan obsesi gilamu pada Senja, karena tindakan konyolmu itu tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali Jasmine yang sudah melebur dengan tanah!"
"Aku nggak ngerti arah pembicaraan Mama," Bumi mencoba menata kembali suaranya yang mendadak parau. "Mama ke sini ingin membicarakan kondisi Bima atau hanya mencari-cari kesalahanku? Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan Jasmine, Mah! Bima yang meminta tolong untuk menemui Senja, lalu di mana letak kesalahanku? Aku mengantarnya supaya Bima nggak kecewa, Mah. Hanya itu."
"Harusnya kamu bisa menolak, Bumi! Kamu tahu persis bagaimana kondisi cuaca di luar dan seberapa besar pengaruhnya pada kegagalan pompa jantung Bima! Kamu tidak memiliki niat untuk menolaknya karena kamu sendiri memiliki kepentingan yang sama untuk melihat gadis itu, kan?" tuduh Karina bertubi-tubi.
"Ini nggak seperti yang Mama pikirkan," suara Bumi kian merendah, terdengar sangat lirih seolah ia sedang mengemis kepercayaan dari sang ibu yang mendadak menguap tanpa bekas. "Aku sudah berusaha keras untuk melupakan Senja, Mah. Aku nggak mungkin tega menghancurkan kebahagiaan Bima. Aku bukan anak kecil lagi... aku sudah cukup tahu diri dan paham bagaimana cara menempatkan posisiku di rumah ini. Nggak mungkin, Mah... nggak mungkin aku tega menyakiti Bima."
Karina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kabut amarah yang menyelimuti hatinya sore itu. "Mama tidak mau mendengar alasan apa pun lagi dari mulutmu, Bumi. Mama tidak mau melihat Bima keluar dari gerbang rumah ini lagi setelah hari ini. Karena membiarkannya menemui Senja sama saja dengan menyakiti fisiknya sendiri. Bima juga tidak akan mendapatkan apa pun dari hubungan semu itu, selain hanya memendam rasa sakitnya seorang diri."
Setelah mengucapkan kalimat yang menghujam telak ulu hati Bumi itu, Karina membalikkan tubuhnya, melangkah lebar meninggalkan kamar putra sulungnya dengan bantingan pintu yang cukup keras.
Braaak
Di kamarnya, Bima yang sejak tadi mendengar sayup-sayup suara sang ibu yang meledak penuh amarah di kamar sebelah, merasa sangat bersalah. Menurutnya, sang ibu terlalu membesar-besarkan masalah. Meskipun ia tidak bisa mendengar barisan kalimat itu dengan begitu jelas dari balik dinding, namun ia tahu pasti bahwa sang ibu kembali menyalahkan kakaknya atas kondisinya yang siang tadi.
Didera rasa bersalah yang menggunung, Bima memutuskan untuk menemui sang kakak. Tak ingin membuat Bumi kian merasa tersiksa oleh rasa bersalah, ia memaksakan kedua kakinya yang lemas untuk turun dari kursi roda. Ia mencoba berdiri tegap, berjalan menapak lantai dengan langkah tertatih-tatih.
Di pertengahan jalan, rasa pening yang berputar-putar mendadak menyerang kepalanya, memaksa Bima untuk diam sejenak di tempat, berpegangan pada dinding demi menjinakkan rasa berputar di kepalanya.
Setelah beberapa saat, kakinya berhasil sampai di ambang pintu kamar Bumi yang setengah terbuka. Bima menarik napas dalam, berusaha melukis wajahnya agar terlihat biasa saja saat melihat sang kakak sedang berkutat di balik meja kerja dengan buku dan penanya.
Sebuah kebiasaan yang sudah dihafal luar kepala oleh seluruh anggota keluarga Hartawan sejak kematian Jasmine sepuluh tahun lalu; entah sudah berapa ribu bait untaian kata duka yang Bumi torehkan di sana untuk meratapi masa lalunya.
"Puisi untuk Jasmine lagi, Kak?" tanya Bima sembari melangkah masuk. "Nggak capek apa, Kak, terus-menerus menghukum diri seperti itu? Padahal kecelakaan Jasmine, bukan kesalahan Kak Bumi."
Bumi tersentak. Dengan gerakan cepat, ia menutup buku catatannya, lalu bangkit berdiri berjalan menuju ranjang tempat adiknya kini mendudukkan diri dengan napas yang sedikit memburu. "Jangan membahas Jasmine, Bim. Aku sudah nggak pernah lagi memikirkan tentang Jasmine."
"Serius?" tanya Bima, sepasang matanya menatap penuh antusias, mencoba mencari kebohongan di wajah kaku kakaknya.
Bumi mengangguk pelan, mencoba mengulas senyum tipis untuk menenangkan adiknya. "Aku mau mandi dulu ya, Bim. Badan rasanya lengket," pamit Bumi, beranjak berdiri mengambil handuk.
"Kak... Mama barusan marah karena aku, kan?" tutur Bima dengan nada penuh penyesalan.