Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #20

Chapter tanpa judul #20

Di luar, gerimis masih mengguyur meski tak sederas sore tadi. Di kediaman keluarga Hartawan, meja makan yang luas yang biasanya terasa hangat, malam ini mendadak mencekam layaknya medan perang. Setiap kepala yang duduk di sana menyimpan peluru rahasia masing-masing, siap membidik dan melesat kapan saja.

Di ujung meja, Erlangga duduk tegak, merasa dirinya adalah pria yang paling memiliki kendali atas segalanya. Sementara di sisinya, Karina menatap lurus dengan dagu terangkat; di matanya, semua orang di rumah ini harus tunduk pada setiap titahnya. Di seberang mereka, Bumi memilih menunduk, merasa menjadi satu-satunya orang yang paling bersalah malam itu. Padahal, di antara semua orang yang sibuk dengan ego masing-masing, Bimalah pemilik luka yang sesungguhnya.

Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar begitu nyaring di tengah keheningan. Karina meletakkan garpunya perlahan, bersiap melepaskan tembakan pertamanya.

"Bima, Mama tidak mau mendengar alasan apa pun lagi," ucap Karina tegas, suaranya dingin tak menerima bantahan. "Mulai besok, jadwal kontrolmu akan Mama perketat. Pagi tadi adalah hari terakhir kamu diizinkan keluar dari rumah ini tanpa sepengetahuan Mama. Kamu lihat sendiri kan hasilnya sore tadi? Mama tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun untuk jantungmu."

Bumi tetap diam, tak berniat menyahut ataupun membela diri. Erlangga yang baru saja membuka mulut untuk menengahi, seketika mengatupkan bibirnya kembali saat Bima tiba-tiba mengulas sebuah senyuman tipis. Senyuman yang tampak begitu tulus di wajahnya yang pucat.

“Nggak apa-apa, Mah," potong Bima lembut, mengalihkan pandangannya dari piring, lalu menatap lamat-lamat ke arah sang kakak, sebelum beralih pada ayahnya.

"Aku sudah jauh lebih tenang sekarang. Tak selamanya Senja harus menghiasi cakrawala, setelah aku tahu... sudah ada Bumi yang kokoh untuknya berpijak."

Deg.

Tangan Bumi yang tengah memegang sendok seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mendongak, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Sementara di ujung meja, Erlangga langsung menegakkan punggungnya, wajah paruh bayanya mendadak pias. Sup yang baru saja ditelannya terasa begitu pahit. Sang ayah sadar, anak bungsunya baru saja membongkar sandiwara egois yang selama ini ia tutupi.

Bima mengabaikan perubahan ekspresi kedua pria itu. Ia mengembuskan napas pendek yang terasa berat, lalu melanjutkan kalimatnya dengan binar mata yang redup namun penuh keikhlasan. "Di sisa waktuku yang sebentar ini, satu-satunya yang ingin kulakukan adalah... bisa bermanfaat untuk Senja. Seperti dia yang selalu bermanfaat untuk orang banyak."

Ruang makan yang semula sudah dingin kini semakin membeku

Hanya Karina yang mengernyitkan dahi bingung, menjadi satu-satunya orang yang tidak memahami arah metafora anak bungsunya. Namun bagi Bumi dan Erlangga, kalimat Bima barusan adalah sebuah bom atom yang meluluhlantakkan pertahanan mereka tanpa menyisakan celah untuk berbohong lagi.

***

Bagi Senja, rumah keluarga Aditama bukan tentang luas tanah atau pilar-pilar marmer impor yang sering dipuji rekan bisnis ayahnya di majalah-majalah bisnis. Rumahnya adalah orang-orang di dalamnya. Orang-orang yang selalu membuatnya merasa aman.

Tentang suara langkah kaki Ayah yang selalu sengaja diperberat agar Senja tahu ke arah mana harus melangkah, atau hangat pelukan Bunda yang selalu menenangkan hatinya.

Di meja makan, Bayu selalu memotongkan daging untuk Senja. Bukan karena Senja tidak bisa melakukannya sendiri, melainkan karena Bayu selalu mengatakan kalimat yang sama, “Selama Ayah masih ada, Ayah akan memastikan kamu tidak akan kesulitan, apalagi kekurangan cinta. Karena Ayah sudah mencintaimu bahkan sejak kamu belum ada di dunia ini.”

Kehangatan itu mengalir bersama aroma makan malam yang menenangkan. Namun, ketenangan itu sedikit terusik saat sebuah pertanyaan meluncur dari bibir sang ibu.

“Senja, Bunda lihat akhir-akhir ini Bima kelihatan pucat. Apa Bima sedang sakit?” tanya Namira di sela-sela makan malam mereka.

Senja meletakkan garpunya, lalu mengulas senyum. “Bima bilang begitu, Bun. Aku juga sering dengar Bima batuk belakangan ini. Tapi katanya, dia cuma kebanyakan minum es.” Kekeh Senja terdengar renyah, mencoba mengusir kekhawatiran ibunya.

Bayu yang sedang mengunyah makanannya menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap putri tunggalnya dengan penuh kasih. “Putri Ayah sudah besar sekarang, ya. Sudah punya teman cowok rupanya,” goda Bayu, membuat suasana meja makan mendadak riuh oleh canda tawa.

Lihat selengkapnya