Seminggu telah berlalu sejak hari di mana Bima mengutarakan niatnya untuk mendaftarkan diri ke Bank Mata. Sejak hari itu pula, Bumi lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam. Bumi merasa seperti sedang dipaksa membalik kalender, menghitung mundur hari-hari terakhir adiknya di dunia.
Sore itu, setelah pasien terakhir keluar, Bumi berdiri di dekat jendela ruang praktik. Di ufuk barat, langit memamerkan warna jingga yang pekat. Cantik, tapi sekaligus menyakitkan. Jingga sore itu mengingatkannya pada Senja—gadis yang hadir sekejap di hidup Bima Sakti, membawa kehangatan, dan mungkin nanti takdir merenggut semua cahaya dan menyisakan kegelapan malam.
Bumi memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Air matanya luruh juga, menetes tanpa suara.
"Ya Rabb..." bisik Bumi pada kaca jendela yang berembun. "Kalau masih boleh menawar, jangan ambil Bima. Hamba rela menutup hati ini selamanya, asal Bima tetap bersama kami.”
Pikiran Bumi mendadak ditarik jauh ke belakang. Memori dua puluh tujuh tahun lalu mendadak berputar sejelas kejadian pagi ini.
Kenangan tentang bagaimana Bima pertama kali hadir di dalam hidupnya.
"Mama, Bumi bosan main sendiri terus. Kenapa Mama nggak ambil adik saja di rumah sakit buat Bumi?"
Suara polosnya saat berusia delapan tahun terngiang kembali. Waktu itu, ia terus-menerus merengek, bosan berteman dengan bayangannya sendiri di rumah sebesar itu.
Lalu setahun kemudian, Karina pulang dengan senyum paling cerah yang pernah Bumi lihat. Wanita itu memeluknya erat, mencium puncak kepalanya dengan gemas.
"Bumi, coba tebak, Mama punya hadiah apa buat kamu?"
"Hadiah apa, Mah?"
"Sebentar lagi, Bumi bakal punya adik bayi."
Bumi kecil melompat kegirangan hari itu. Dan tepat saat usianya menginjak sepuluh tahun, Bima lahir ke dunia. Dan selama dua puluh lima tahun terakhir menemani hari-harinya.
Bumi tersenyum getir, menyeka pipinya yang basah. "Bim, kamu nggak tahu seberapa kesepiannya aku saat itu. Dan sekarang… ”
BRAKK!
Pintu ruang praktik dibuka paksa dari luar dengan suara dentuman yang cukup keras. Bumi tersentak, memutar tubuhnya cepat. Di ambang pintu, Karina berdiri dengan napas yang tersengal-sengal. Wajah wanita itu basah oleh air mata, sementara sepasang matanya memancarkan kilat amarah luar biasa yang bercampur dengan ketakutan.
"Katakan pada Mama, Bumi... katakan kalau semua lembaran ini tidak benar!" suara Karina bergetar, terbata-bata menahan gejolak di dadanya. "Kamu sengaja memanfaatkan kelemahan dan keterbatasan adikmu sendiri?!"
Bumi melangkah maju, dadanya kian sesak melihat kondisi ibunya yang tampak hancur. "Mah... ada apa? Mama kenapa, Mah?"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Bumi, memutus kalimatnya seketika. Tamparan itu begitu kuat hingga membuat tubuh tegap Bumi terhuyung limbung ke arah kanan.
Bumi mematung, perlahan mengusap pipinya yang terasa panas dan perih. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama sang ibu melayangkan tangan ke wajahnya. Di tengah rasa syok yang mendera, Bumi menatap ibunya dengan pandangan terluka. "Mah... tenang dulu, Mah. Sebenarnya ada apa?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan Mama, Bumi!" bentak Karina histeris. Dengan gerakan kasar, ia melemparkan seberkas dokumen berlogo resmi Bank Mata tepat ke arah wajah putra sulungnya.