"Pak Rahmat, ini terakhir kalinya. Aku janji, besok-besok nggak akan pergi lagi. Pak Rahmat bisa pegang janji aku."
Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Bima yang pucat, membuat Pak Rahmat berdiri bimbang di ambang pintu kamar.
"Mas, jangan, saya takut," tolak Pak Rahmat dengan suara bergetar. "Sudah sebulan Ibu mendiamkan Mas Bumi. Saya tidak mau nanti Ibu semakin marah kalau Mas Bumi harus menjemput Mas Bima lagi di taman."
"Kalau Pak Rahmat nggak mau antar, aku akan pesan taksi online saja sekarang."
Seketika Pak Rahmat mendongak. Ia menatap wajah pias anak yang ia jaga sepenuh hati itu.
"Mas Bima... kali ini saja tolong jangan keluar, Mas," pinta Pak Rahmat dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Pak..." Bima menatapnya lekat wajah Pak Rahmat, "Aku nggak tahu kapan aku akan pergi. Kalau besok aku sudah nggak ada, siapa yang akan memberitahu Senja semuanya? Apa Pak Rahmat tega melihat Kak Bumi sakit lagi? Pak Rahmat kan tahu sendiri bagaimana Kak Bumi, hanya Senja yang bisa mengetuk hati Kak Bumi, Pak."
Pak Rahmat bungkam. Ia melangkah mendekat, mengusap punggung Bima dengan lembut. "Sekarang sudah sore. Nanti kalau keduluan Bapak sama Ibu pulang bagaimana?"
"Nggak akan. Aku sudah cek, hari ini Papa ada jadwal rapat direksi dan Mama ada jadwal operasi jam tujuh nanti malam."
Entah mengapa, firasat buruk seketika menyeruak di dada pria paruh baya itu. Pak Rahmat tidak ingin melepas anak asuhnya pergi, namun menahan Bima pun ia tak tega melihat jari-jari tangan anak itu yang sudah dingin.
"Mas Bima tunggu di sini. Saya ambilkan jaket sama syal dulu." Tanpa menunggu jawaban, Pak Rahmat bergegas menuju lemari pakaian.
***
Di sudut taman kota, Senja tengah bersenandung riang mengikuti alunan musik dari ponselnya. Kepalanya mendongak, menatap lurus ke arah langit. Meski kelopak matanya hanya menangkap kegelapan, ia bisa merasakan udara dingin dan embusan angin yang menandakan mendung. Tapi, telepon dari Bima yang mengajaknya bertemu di taman ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Bim... entah kenapa, sekarang aku mulai percaya kalau nggak ada yang nggak mungkin, seperti yang sering kamu katakan," gumam Senja, senyumnya mengembang manis. "Aku benar-benar ingin bisa melihatmu."
Saat embusan angin sore kembali menerpa wajahnya, di saat yang sama telinga sensitif Senja menangkap suara helaan napas yang berat di dekatnya.
"Bima?" tebak Senja. Ia menoleh ke samping, jemarinya bergerak meraba permukaan bangku taman. Kosong. "Bim, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu meskipun kamu cuma diam. Jangan sembunyi, kamu tahu sendiri kan kalau aku nggak bisa melihat."
"Aku di depan kamu," suara Bima terdengar, disusul suara tawa yang terdengar garing dan dipaksakan.
"Depan? Sejak kapan di depanku ada bangku lain?"
Bima terdiam beberapa detik, otaknya berputar mencari alasan agar Senja tidak menyadari keberadaan kursi roda yang kini menopangnya, "Ada kok. Aku juga nggak tahu, tiba-tiba saja kursinya sudah dipindah ke sini," jawab Bima, menambah satu lagi barisan kebohongan yang sudah tak terhitung.
Senja menekan tombol di ponselnya, seketika menghentikan alunan musik yang sejak tadi berputar. Ia menghadapkan wajahnya lurus ke depan, ke arah sumber suara Bima. "Kamu nggak lagi bohong, kan? Tadi waktu aku datang, di depan sini kosong, lho."
"Nggak bohong, Senja. Aku yang menggesernya sendiri tadi. Aku lagi ingin duduk di depan kamu, bukan di samping kamu. Biar aku bisa melihat wajah kamu." Bima mencengkeram erat sandaran kursi rodanya, berusaha keras menahan getaran yang mulai menyerang seluruh sendi tubuhnya.
"Oh, ya? Terus kalau sudah di depan begini, kamu mau ngapain?"
"Aku cuma mau memberi tahu kamu... kalau langit di atas kita sekarang mendung. Semburat jingganya tipis, sebentar lagi senja akan tiba, dan matahari bersiap tenggelam."
"Pasti cantik ya, Bim?"
"Cantik. Secantik nama kamu yang hadir hanya sesaat, sebelum akhirnya menghilang ditelan malam."
"Tapi aku nggak akan menghilang, kok," potong Senja meyakinkan.
Bima tertawa. "Kamu memang nggak akan pergi, Senja. Tapi... apa kamu tahu? Kalau di balik keindahan senja di langit, sebenarnya ada Bumi yang selalu memandang keindahan itu dalam keheningan?"
Senja merenungkan kalimat itu. "Kata-kata kamu bagus."
"Ini bukan sekadar kata-kata, Senja. Di langit malam nanti, memang akan ada galaksi Bima Sakti yang bisa kamu lihat keindahannya dari kejauhan. Tapi ingatlah, ada Bumi yang sedang kamu pijak sekarang. Bumi yang menopang seluruh langkah kakimu. Bima Sakti hanya bisa kamu pandang, sedangkan Bumi... Bumi adalah tempat yang nyata, yang bisa kamu genggam."