Karina baru saja melipat kain sajadahnya usai salat Magrib di musala rumah sakit, saat telinganya menangkap bisikan cemas dari Rama yang ditujukan kepada suaminya di barisan jemaah pria. Meskipun suara asisten suaminya itu terdengar pelan, informasi tentang kolapsnya Bima cukup untuk membuat dunia Karina runtuh seketika.
Dengan tubuh gemetar dan jantung berdegup kencang, Karina berlari keluar dari musala, mengabaikan tatapan heran dari beberapa pasang mata di sekitarnya.
Di persimpangan koridor Karina dihadapkan pada dilema yang menyiksa batinnya.
Langkahnya sempat tertahan, dipaksa memilih antara dua arah: berbelok ke kanan menuju Ruang Staf Medis Fungsional Bedah Toraks untuk melakukan prosedur handover jam tujuh nanti kepada dokter pengganti, atau terus berlari lurus ke IGD untuk melihat putra bungsunya yang kritis.
Namun, sisi kemanusiaan memaksa Karina memilih ke Ruang SMF lebih dulu. Di tengah jalan, seolah takdir sudah berpihak pada kehancuran hati seorang Ibu. Rama berlari menyusul dengan napas tersengal-sengal.
"Ibu… biar saya yang mengurus. Saya akan panggil dokter pengganti on-call. Silakan Ibu langsung menunggu Mas Bima."
Karina tidak mampu bersuara. Ia hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca, lalu memutar arah, berlari sekuat tenaga menuju Red Zone IGD.
Begitu menginjakkan kaki di IGD, Karina melewati Bumi begitu saja. Fokusnya terkunci pada suaminya. Erlangga, yang sedang tertahan di depan pintu ruang tindakan.
Erlangga tampak murka, terlibat perdebatan sengit dengan Andika, salah seorang perawat senior IGD yang memasang badan menghalangi suaminya.
"Dokter Erlangga, mohon tenang! Secara aturan Aksara Medika yang Anda tanda tangani sendiri, Anda tidak boleh masuk ke ruang tindakan dalam kondisi emosional seperti ini! Anda ayah kandung pasien, penilaian klinis Anda bisa bias!" seru Andika tegas, kedua tangannya merentang menahan dada Erlangga.
"Minggir, Andika! Saya tahu apa yang harus saya lakukan, saya tahu persis anatomi jantung anak saya! Setiap detik yang kamu buang untuk berdebat dengan saya bisa membunuh Bima!" bentak Erlangga, kehilangan seluruh kesabaran medisnya.
"Saya tahu Anda pemilik rumah sakit ini, Dok! Tapi keselamatan pasien tetap nomor satu. Tim medis IGD sedang melakukan Advanced Cardiovascular Life Support di dalam. Jika Anda masuk tanpa kontrol emosi, Anda justru akan mengacaukan resusitasi mereka!" Andika tidak gentar, tatapannya lurus menantang mata atasannya.
Erlangga mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga bergetar. Napasnya memburu, amarahnya sudah di ubun-ubun. Namun, saat matanya melirik ke arah kaca pintu ruang tindakan—melihat tim dokter IGD sedang sibuk bergantian memompa dada Bima, sementara mesin defibrillator sedang disiapkan—logika medis Erlangga perlahan memukul egonya.
Dia tahu Andika benar.
Tangan yang gemetar karena panik tidak akan bisa menyelamatkan nyawa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya, sang direktur utama itu kalah oleh aturan yang dibuatnya sendiri. Erlangga menurunkan kepalan tangannya, bahunya merosot runtuh dalam keputusasaan.
"Beri saya waktu satu menit..." bisik Erlangga dengan suara yang mendadak parau dan habis, mengalah pada sistem. "Satu menit untuk menstabilkan tangan saya, Andika. Setelah itu, saya yang akan ambil alih."
Melihat suaminya tak bisa berbuat apa-apa, Karina pun sadar pasti dirinya juga akan bernasib sama. Namun, saat ia menoleh dan melihat putra sulungnya, Bumi, yang berdiri dengan keadaan kacau, Karina mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarah seketika menguasai dirinya. Tanpa pikir panjang, Karina melangkah mendekat.
"Bahagia sekarang kamu, Bumi? Mama yakin ini adalah hari yang kamu tunggu-tunggu, kan? Berharap Bima seperti ini agar kamu bisa segera mengambil matanya, lalu Jasmine hidup lagi di tubuh Senja!"
Sudah sebulan ini Bumi kehilangan sosok ibunya. Ia hanya bisa menunduk, menerima setiap tuduhan dan makian yang menyayat hati. "Mama, maaf..."
"Mama akan memaafkan kamu hanya jika kamu membatalkan donor kornea yang sudah kamu sepakati dengan Bank Mata!" Tunjuk Karina tepat di dada Bumi, mendorongnya hingga Bumi terhuyung ke belakang.