Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #24

Chapter tanpa judul #24

Tangis Karina perlahan mereda. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Saat kelopak matanya kembali terbuka, yang tersisa bukan lagi tatapan seorang ibu yang dikuasai kepanikan, melainkan sorot mata seorang dokter spesialis bedah toraks senior.

"Bumi..." Suara Karina terdengar pelan. Sangat pelan. Namun cukup membuat Bumi menunduk menatap wajah ibunya. "Lepaskan Mama."

Bumi terdiam, ragu. "Mah..."

"Lepaskan." Kali ini nada suaranya tegas, dingin. "Kalau Mama hanya menangis, Bima tidak akan kembali."

Kalimat itu menghantam dada Bumi. Dengan tangan yang bergetar, ia perlahan mengendurkan dan melepaskan pelukannya pada sang ibu.

Karina berdiri. Lututnya sempat goyah, namun ia memaksa dirinya tetap tegak. Ia mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan, lalu melangkah mantap menuju sisi brankar.

Sebagai sesama dokter bedah toraks, Karina tahu persis apa artinya melihat tangan Erlangga saat ini. Suaminya sudah kelelahan dan mulai gemetar. Setiap detik yang terbuang karena kelelahan fisik dapat merenggut kesempatan terakhir putra mereka.

"Berhenti, Erlangga. Biar aku yang bangunkan Bima," ucap Karina menepuk pundak suaminya.

Mendengar suara istrinya yang mendadak tenang, Erlangga perlahan menghentikan kompresi dadanya. Ia mundur satu langkah, berusaha keras menguasai dirinya yang sudah terengah-engah.

"Dokter! Iramanya berubah!" seru salah seorang perawat yang terus memantau monitor. "Ventricular fibrillation!"

Karina menoleh cepat ke arah monitor. Matanya menangkap gelombang listrik jantung yang kini berubah menjadi pola kacau dan bergetar.

Karina mengambil alih posisi di samping tubuh putranya. Ia menatap dr. Januar dengan rahang yang mengeras. "Januar. Siapkan defibrillator, serahkan paddles-nya pada saya."

Dokter muda itu tak punya pilihan selain sigap mengangguk. Ruangan mendadak sunyi mencekam. Semua mata memandang Karina yang kini memegang dua gagang alat kejut jantung di samping tubuh putra bungsunya.

"Bima, ini Mama, bangun nak. Mama minta maaf sudah keterlaluan sama kamu," bisik Karina, air matanya menetes namun tangannya tetap lurus memegang alat. "Jika kamu bangun nanti, Mama janji... Mama izinkan kamu bertemu Senja."

Bumi yang mendengar ucapan ibunya hanya mampu memalingkan pandangan ke arah lain. Dadanya sesak, ia tak tega melihat tubuh adiknya yang sebenarnya sudah tidak kuat, tapi dipaksa oleh keadaan untuk bertahan.

"Atur di dua ratus joule!" perintah Karina tegas pada perawat instrumen, sambil mengoleskan gel pada permukaan dada Bima.

NGIIIING...

Lihat selengkapnya