Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #25

Chapter tanpa judul #25

Bumi menatap lurus ke arah tubuh tak berdaya adiknya yang kini terbaring di ruang ICU VVIP. Selang-selang infus dan kabel EKG menjalar di tubuh Bima. Sebuah pipa bantuan napas terlihat dari sudut bibirnya, menghubunginya ke mesin ventilator yang terus mendengung memaksa paru-parunya untuk terus bekerja keras. Di sisi ranjang, monitor hemodinamik terus mengeluarkan bunyi, menyuarakan grafik detak jantung yang rapuh.

Jalur intravenous, jajaran syringe pump yang menyuntikkan obat penopang jantung dosis tinggi, serta berbagai kabel elektroda memenuhi tubuh yang kini tampak jauh lebih lemah daripada semalam.

Di sisi kanan ranjang, Karina masih menggenggam erat jemari putra bungsunya yang terasa dingin. Bahu wanita itu merosot, tatapannya kosong mengunci wajah Bima, seolah takut melepaskannya walau sedetik.

Sementara Erlangga berdiri di dekat kaki ranjang, membaca lembar hasil Analisis Gas Darah, EKG, dan pemeriksaan enzim jantung dengan wajah yang semakin mengeras setiap kali membalik halaman berikutnya.

Tak jauh dari sana, dr. Januar berdiri tegak. Meski telah bertahun-tahun menghadapi kondisi kritis di ruang intensif, kali ini tenggorokannya terasa kering. Ia sadar, yang berdiri di hadapannya bukan hanya direktur rumah sakit, tetapi seorang ayah yang sedang membaca sendiri vonis untuk anaknya.

"Dokter Erlangga... fungsi miokardium Mas Bima memang menunjukkan respons setelah resusitasi semalam. Namun..." Januar menarik napas sejenak, menyusun kalimat sehalus mungkin. "Kerusakan akibat hipoksia serebral terlalu luas. Otaknya terlalu lama mengalami kekurangan oksigen sebelum jantungnya kembali berdetak, sehingga..."

"Aku tahu, Januar," Erlangga memotong kalimat yang tidak ingin ia dengar ujungnya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat di balik jas labnya. "Putraku akan bertahan. Dia anak yang kuat."

Mendengar sang ayah yang terus menyangkal kenyataan, jantung Bumi rasanya seperti diremas tanpa ampun. Dadanya sesak hingga sulit untuk sekadar menghirup udara ICU yang dingin. Bumi tahu, kalimat dr. Januar yang terputus tadi adalah vonis brain death.

Secara medis, Bima sudah tidak ada; raga itu hanya dipaksa "hidup" oleh embusan angin dari mesin ventilator dan pacuan obat-obatan kimia di syringe pump.

Rasa bersalah yang sangat besar seketika menghantuinya. Bima disiksa seperti ini karena aku... batin Bumi menjerit perih dalam diam.

Sebagai dokter spesialis mata, Bumi sadar betul konsekuensi dari surat kesepakatan donor kornea yang telah ditandatanganinya bersama Bima. Jalur donor darurat ini hanya bisa aktif jika ayah dan ibunya menyerah, lalu mencabut semua alat bantu hidup Bima.

Siksaan batin Bumi melipatgandakan penderitaannya: ia dipaksa berdiri di sana, menjadi satu-satunya orang yang menghitung mundur kematian adiknya sendiri, menunggu fungsi organ Bima menurun hingga titik akhir agar ia bisa mengambil kornea mata itu demi Senja.

Sepeninggal dr. Januar, Bumi berjalan gontai lalu duduk di ujung sofa ICU. Ia tak mampu lagi bertahan; air mata yang sejak semalam ia tahan kini tumpah tanpa bisa dibendung. Bumi menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya, membiarkan isak tangisnya lolos di ruangan yang dingin itu.

Namun, pendengaran Bumi menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Saat ia membuka tangan dan mendongak, ia mendapati sang ibu sudah berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke luar. Karina berdiri bersedekap dada, membelakangi Bumi dengan punggung yang kaku.

"Simpan air mata itu, Bumi..." Suara Karina terdengar sangat dingin, di antara suara-suara yang mencekam di dalam ruangan itu. "Jika itu hanya sandiwara, Mama tahu kamu sudah tidak sabar, kan? Kamu pasti ingin segera membuat Senja melihatmu sebagai pahlawan."

"Mama..." Bumi tercengang. Dadanya seperti dihantam bongkahan batu besar.

Lihat selengkapnya