Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #26

Chapter tanpa judul #26

Tiga hari telah berlalu sejak malam menegangkan ketika jantung Bima dipaksa kembali berdetak oleh kompresi dada yang agresif dan hantaman gelombang kejut listrik. Sejak malam itu pula, ruang ICU VVIP berubah menjadi rumah kedua bagi keluarga Hartawan.

Karina tidak lagi menyentuh gagang pintu kamar operasi. Seluruh jadwal bedah toraksnya dibatalkan tanpa batas waktu. Erlangga hanya pulang beberapa jam untuk sekadar mengganti kemeja, lalu kembali berdiri mematung di sisi ranjang putra bungsunya.

Sedangkan Bumi—ia tetap membalut tubuhnya dengan jas putih setiap pagi, memeriksa kornea dan retina pasien seperti biasa, lalu menghabiskan setiap detik waktu luangnya di balik pintu kaca ICU. Menjaga emosi ibunya, sekaligus menyembunyikan retak di dadanya sendiri.

Saat melihat ranjang ICU Bima kosong dari penjagaan Sang Ibu sore itu, pertahanan Bumi luruh. Ia melosor di kursi samping ranjang, menggenggam erat telapak tangan Bima yang terasa semakin dingin. Kelopak mata Bima masih terpejam rapat. Namun, setiap kali Bumi membisikkan sesuatu, setitik air mata meluncur lambat dari sudut mata adiknya yang terpejam.

Bima mendengar, tapi tubuhnya terkunci.

Bumi mengusap pipinya sendiri yang basah. Dada Bima tampak naik-turun kaku, dipompa secara paksa oleh mesin ventilator yang berdesis monoton.

"Bim... kamu harus dengar ini. Senja sangat mencintaimu. Saat kamu bangun nanti, kamu akan jadi laki-laki paling bahagia di dunia. Percayalah sama aku..."

Bumi menarik napas dalam-dalam. Rongga dadanya sesak saat teringat bagaimana Senja mencurahkan seluruh isi hatinya di bangku taman sore lalu. Gadis itu menangis, tanpa tahu bahwa aroma parfum yang ia benci adalah aroma yang sedang mengitari napas orang yang sangat ia rindukan saat ini.

Ingatan Bumi buyar. Ada kedutan halus di jemari Bima. Lemah, namun nyata meremas balik telapak tangan Bumi.

Jantung Bumi melompat. Matanya melebar menatap tautan jemari mereka. "Bim? Kamu bisa dengar aku? Bima?!"

Kepanikan yang bercampur bahagia membuncah membuat lutut Bumi mendadak gemetar. "Bim, aku... aku panggil Mama sebentar, ya..."

Bumi perlahan melepaskan genggaman tangan Bima. Dengan kaki lemas, ia melangkah lebar keluar bilik kaca. Namun, di balik sekat sudut ruangan ICU, langkahnya mengambang. Ia melihat ibunya sedang bersujud khusyuk menunaikan salat Asar di atas sajadah, bahunya bergetar dalam diam.

Bumi urung mengetuk pintu ruang salat. Ia meraba saku, menekan nomor ayahnya. Begitu panggilan terputus karena Erlangga sedang rapat, Bumi bergegas kembali ke bilik ICU. Di sana, Karina ternyata sudah selesai salat dan berdiri di samping ranjang Bima, sedang memeriksa kantung urine dan mesin syringe pump.

"Kamu mondar-mandir seperti kehilangan arah, Bumi. Fokusmu di mana?" tegur Karina dingin, menyadari kepanikan putra sulungnya.

"Mama... bukan begitu. Tadi aku mau panggil Mama, tapi Mama sedang salat. Lalu aku menelepon Papa, tapi Papa sedang ada rapat, Mah," jelas Bumi terbata-bata, mencoba membela diri di hadapan ibunya.

Karina membuang pandangan, enggan melihat wajah putra sulungnya itu.

"Mah, tadi tangan Bima bergerak! Barusan dia merespons genggaman tangan aku, Mah!" ucap Bumi meyakinkan dengan suara bergetar.

Karina menoleh tajam, rahangnya mengeras. "Jangan mengada-ngada kamu, Bumi! Dia dalam pengaruh sedasi berat. Itu cuma refleks spinal!"

Lihat selengkapnya