Karina dan Erlangga yang semula terpaku di dekat jendela, merangsek maju dilingkupi kepanikan luar biasa. Alat monitor hemodinamik di samping brankar mendadak meraung, mengeluarkan bunyi alarm beruntun yang melengking cepat.
Tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit!
Grafik EKG di layar monitor melompat-lompat berantakan, membentuk gelombang tajam tak beraturan yang saling tumpang tindih. Jantung Bima mengalami Ventricular Tachycardia—sebuah badai listrik mematikan.
"Bima...!" teriak Karina dan Erlangga histeris, menyambar sisi ranjang.
Bumi melangkah mundur, memberikan ruang bagi kedua orang tuanya untuk mendekat.
"Bim, jangan bicara lagi! Papa mohon, Nak!" Erlangga panik, tangannya yang gemetar mengusap rambut putranya yang basah oleh keringat dingin.
"Bima, jangan buat Mama takut, Bima... Tolong..." Karina mencengkeram jemari Bima yang terasa semakin dingin.
Bima menatap ibunya dengan tatapan memohon di sisa kesadarannya yang kian menipis. "Mah... jangan salahkan Kak Bumi lagi. Donor mata itu... murni aku yang menginginkannya sejak awal."
"Bim, jangan dilanjutkan! Mama mohon diam, Nak!" isak Karina. Sebagai dokter spesialis toraks, ia paham betul arti grafik merah yang berkedip di monitor. Jantung Bima sudah berada di ambang batas kemampuannya untuk memompa darah.
"Mah... saat aku nggak ada nanti, setidaknya... masih ada bagian dariku yang bisa Mama lihat di dunia ini," kata Bima, menarik napas yang terasa semakin berat.
"Bumi, panggil Dokter Alya sekarang! Cepat!" teriak Karina, air matanya kian deras membanjiri wajah.
"Mama... dengerin Bima..." Dengan gerakan yang sangat lemah, Bima mengusap punggung tangan ibunya, "Kak Bumi sangat mencintai Senja, Mah. Biarkan mataku... menjadi jembatan bagi Senja untuk melihat Kak Bumi."
Bima menjeda kalimatnya, dadanya tersedak saat pasokan oksigen ke otaknya turun deastis. "Papa... terima kasih. Maaf jika aku tak bisa sehebat Kak Bumi dan nggak bisa menjadi anak yang membanggakan..." Napas Bima kian tersengal, "Dan sampaikan rasa terima kasihku... untuk Pak Rahmat yang selalu menjagaku selama ini… "
"Bima... dengarkan Papa! Jangan menyerah!" Erlangga berteriak frustrasi, jemarinya gemetar saat mencoba memeriksa jalur infus.
"Sakit, Pah... sudah cukup," bisik Bima lirih, setitik air mata meluncur di sudut matanya yang sayu.
Melihat itu Bumi tak sanggup lagi. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Bima. Dengan suara yang bergetar namun terdengar sangat jelas di antara raungan mesin, Bumi membisikkan kalimat syahadat.
"Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah... Ikuti aku, Bim…"
Bima mengedipkan mata, seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang pias seiring bibirnya bergerak tanpa suara, mengikuti bimbingan sang kakak.
Tepat setelah kalimat itu selesai, dada Bima mengembuskan napas terakhirnya yang sangat halus, seolah raga itu akhirnya menemukan kedamaian yang dicarinya selama dua belas tahun. Bersamaan dengan itu, bunyi nyaring mesin monitor EKG berubah menjadi satu nada panjang yang monoton dan memekakkan telinga.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT…