Bendera kuning dan ratusan karangan bunga ucapan duka cita berderet panjang menghiasi sepanjang jalan perumahan elitis itu. Mobil-mobil para pelayat mengular, berjejer rapi hingga memakan bahu jalan.
Di dalam ruang tamu yang luas, ratusan orang datang silih berganti dengan wajah pias, mengitari tubuh kaku Bima yang kini terbaring tak berdaya dalam balutan kain kafan.
Di sisi jenazah, Karina tak henti-hentinya terisak. Matanya bengkak dan sembab luar biasa. Sudah tak terhitung berapa lair air mata yang luruh membasahi pipinya yang tak sempat kering. Setiap kali air matanya mengering, duka yang baru kembali memaksanya meneteskan air mata.
Di sampingnya, Erlangga hanya mampu menangis dalam senyap. Sesekali ia menyeka sudut matanya yang basah, seraya mengulurkan tangan untuk menyalami para pelayat yang datang menguatkan.
Sementara itu, Bumi memilih termenung sedikit menjauh di sudut ruangan. Ia sengaja menarik diri. Bukan karena tak ingin berada di dekat adiknya untuk terakhir kali, melainkan demi menjaga situasi. Bumi tidak ingin menyulut ledakan amarah sang ibu di hadapan ratusan pelayat yang hadir. Meskipun, jauh di lubuk hatinya, Bumi sangat ingin merangsek maju, sekadar untuk mengusap permukaan kain kafan yang membungkus raga adiknya.
Tak jauh dari sana, Pak Rahmat masih menangis tersedu-sedu layaknya Karina. Bahunya terguncang, meluapkan seluruh penyesalan yang mengendap di dada. Pria tua itu terus merutuki dirinya sendiri karena terlanjur pulang kemarin sore. Padahal biasanya ia selalu setia berjaga di rumah sakit. Pak Rahmat terpukul karena tak ada di samping Bima saat anak itu mengembuskan napas terakhirnya.
Rombongan keluarga besar Karina dan Erlangga yang baru saja tiba pun tak mampu membendung duka. Beberapa kerabat menutup mulut mereka. Yang lain hanya mampu menggeleng pelan sambil menatap tubuh Bima yang telah dikafani.
Bima Sakti yang mereka kenal selama dua puluh lima tahun ini adalah sosok pemuda yang kuat dan keras kepala melawan sakitnya. Namun, kembali lagi pada garis takdir. Rezeki, jodoh, dan maut adalah rahasia Ilahi yang tak akan pernah bisa ditawar, bahkan dengan harta dan obat-obatan mahal yang Erlangga miliki sekalipun.
***
Jarum jam tepat menunjuk angka sepuluh pagi saat jenazah Bima selesai di salatkan, pihak keluarga bersiap mengangkat keranda untuk diberangkatkan menuju pemakaman.
Di saat yang bersamaan, di sebuah gedung pencakar langit yang terletak di pusat kota Jakarta, riak suka cita yang sangat kontras justru bersiap untuk meledak. Keheningan di dalam ruang kerja seorang direktur pecah ketika sebuah ponsel di atas meja berdering nyaring.
Bayu Aditama yang tengah berkutat dengan tumpukan dokumen tebal mengerutkan dahi. Ia menatap heran pada rentetan nomor tak dikenal yang menghiasi layar ponselnya. Bayu sempat mengabaikannya hingga dua kali dan kembali membalik kertas dokumen.