Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #29

Chapter tanpa judul #29

Langit kelabu menggantung rendah, menumpahkan warna abu-abu yang pekat ke atas hamparan rumput memorial park. Sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang menusuk hidung saat kaki Karina tenggelam dalam lumpur tipis tanpa alas kaki.

Di tepi lubang persegi yang menganga, Erlangga dan Bumi berdiri dengan lutut berlumur tanah, perlahan menurunkan kain kafan putih yang membungkus tubuh kaku Bima Sakti.

Kedua lutut Karina lemas. Pandangannya terpaku pada jemari Erlangga yang gemetar saat menyentuh dinding liang lahat, memastikan tubuh putranya berbaring menghadap kiblat.

Isak tangis tertahan menyusup di antara desau angin. Detik berikutnya, sebuah getaran suara keluar dari tenggorokan Erlangga yang tercekat.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."

Suara itu serak, bervibrasi menembus udara dingin. Bagi Karina, gema itu seketika meruntuhkan sekat waktu, melemparkannya kembali ke dua puluh lima tahun lalu. Di dalam ruang persalinan yang hangat, suara yang persis sama mengalun di dekat telinga bayi mungil yang baru saja lahir ke dunia—sebuah sambutan selamat datang untuk sebuah anugerah bernama Bima Sakti.

Namun siang ini, di bawah rintik yang mulai turun satu-satu, getaran suara yang sama merayap di sela-selas tanah merah, menjadi sebuah salam pamit yang di paksakan.

Dunia di mata Karina mendadak berputar. Kekuatan yang tersisa di kakinya menguap habis. Tubuhnya limbung, ambruk begitu saja ke atas rumput basah.

Bumi, yang baru saja memanjat keluar dari liang lahat dengan telapak tangan penuh noda tanah, melompat sigap menangkap tubuh ibunya sebelum membentur tanah sepenuhnya.

"Mama…."

Bumi mendekap erat tubuh yang telah kehilangan kesadaran itu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu, sementara di bawah sana, gema adzan Erlangga perlahan terserap oleh bumi yang sunyi.

***

Deru mesin mobil yang mendadak mati di halaman rumah seolah tak mampu mengimbangi detak jantung Bayu yang berpacu liar. Pintu mobil digebrak. Langkah kakinya ia tarik lebar-lebar, setengah berlari melintasi teras, tak peduli pada napasnya yang memburu.

Di ruang tengah, ia mendapati Namira sedang merapikan sofa. Tanpa sepatah kata, Bayu menyambar pundak istrinya, menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapan dengan erat hingga dadanya naik turun dengan tidak teratur.

Namira terkesiap, melirik jam dinding yang masih bertengger di angka 10.46.

"Ayah? Ada apa? Kok sudah pulang jam segini?"

"Bun... Ayah baru saja dapat kabar," suara Bayu bergetar, bukan karena amarah, melainkan sebuah letupan suka cita yang begitu besar hingga matanya berkaca-kaca.

"Baru saja pihak bank mata menelepon Ayah. Ada donor kornea untuk Senja."

Lihat selengkapnya