Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #30

Chapter tanpa judul #30

"Turut Berduka Cita Atas wafatnya Ananda Bima Sakti, putra kedua Bapak Dr. Erlangga Hartawan dan Ibu Dr. Karina Hartawan, Direktur Utama Rumah Sakit Aksara Medika."

Deretan papan karangan bunga berhias kain hitam masih berjejal memenuhi pelataran depan rumah sakit. Aroma bunga krisan dan lili memenuhi udara pagi, bercampur dengan bau khas rumah sakit yang samar menguar dari pintu lobi.

Bayu yang baru saja turun dari mobil memperlambat langkahnya. Namira ikut menoleh, membaca satu per satu untaian kalimat belasungkawa yang berjajar rapat hingga ke dekat pintu lobi utama.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," gumam Bayu dan Namira hampir bersamaan.

"Siapa yang meninggal, Yah?" tanya Senja yang menangkap getaran duka dari suara kedua orang tuanya. Jemarinya mempererat pegangan pada lengan Bayu.

"Dari papan ucapan yang Ayah baca, putra dari pemilik rumah sakit ini, Nak."

Senja mengangguk lurus ke depan, tatapan matanya yang kosong menyiratkan simpati yang tulus. "Semoga husnul khatimah dan diampuni segala dosanya."

Langkah Namira mendadak tertinggal satu jengkal di belakang suami dan anaknya. Matanya terpaku pada sebaris nama yang terpahat di atas stereofom hitam. Bima Sakti.

Dada Namira berdesir aneh. ‘Bima?’

Wanita itu menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran buruk yang mendadak mendera. 'Tidak, itu pasti hanya kebetulan. Nama Bima Sakti ada ribuan di kota ini. Pemuda yang selama ini menemani Senja hanyalah anak muda biasa yang selalu memakai pakaian sederhana saat datang ke yayasan. Mana mungkin dia adalah putra keluarga Hartawan, pemilik jaringan rumah sakit terbesar di kota ini?' Namira menarik napas dalam-dalam, mengubur kecemasannya sendiri, lalu bergegas menyusul langkah suaminya.

***

Sementara itu, di sebuah ruang dokter di lantai lima, Bumi masih duduk membeku. Kemeja hitam yang membungkus tubuh tegapnya tampak kusut, sewarna dengan lingkaran gelap yang menggantung di bawah matanya.

"Seharusnya operasi ini bisa ditunda satu atau dua hari, Bumi. Kamu tidak perlu memaksa diri tergesa-gesa seperti ini," ucap dr. Surya Hartawan, Sp.JP, dokter spesialis jantung senior yang juga paman Bumi. Wajah paruh bayanya dipenuhi rasa prihatin, ia sengaja datang menemui Bumi sekadar untuk memberi dukungan pada keponakannya.

"Aku nggak bisa mengulur waktu lagi, Om," suara Bumi terdengar serak. "Bima sudah nggak ada . Jika operasi ini ditunda, kualitas jaringan kornea donor akan menurun setelah melewati golden period dua puluh empat jam pertama. Kematian Bima. Aku nggak akan membiarkan pengorbanan Bima menjadi sia-sia jika kita kehilangan sel endotel kornea yang masih prima. Ini waktu terbaik untuk melakukan grafting, Om."

Surya mengembusen napas berat, lalu mendaratkan telapak tangannya di pundak keponakannya, meremasnya kuat-kuat demi menyalurkan simpati. "Baiklah. Tapi Om ingatkan sekali lagi, posisimu di dalam sana hanya sebagai dokter supervisor, bukan operator utama. Kamu harus bisa mengontrol emosimu."

Bumi tidak menyahut. Ia hanya mengangguk samar, memaiarkan duka kembali merayap di antara mereka. Hingga keheningan itu pecah saat pintu ruangan diketuk dua kali. Seorang perawat asisten bedah muncul di balik pintu dengan berkas rekam medis di tangannya.

"Dokter Bumi, Nona Senandung Senja sudah tiba di ruang transit pasien. Tim medis sedang melakukan skrining akhir dan mempersiapkan pre-medikasi sebelum pasien dipindahkan ke meja operasi. Kami menunggu instruksi Dokter untuk memulai proses sterilisasi."

Mendegar nama Senandung Senja disebut, ada getaran halus yang menusuk jantung Bumi.

"Aku titip Senja, Kak. Jangan biarkan dia memikul rasa kehilangan itu sendirian."

Jemari Bumi terkepal kuat di atas meja mengingat pesan terakhir sang adik. Tekad di hatinya semakin kuat; operasi ini benar-benar tidak boleh gagal. Bumi berdiri, menyambar jas putih dokternya. "Aku harus segera ke ruang operasi, Om."

Surya mengangguk, ia pun ikut bangkit dan berjalan beriringan meninggalkan ruangan Bumi.

Hingga akhirnya langkah kaki Bumi terhenti tepat di garis kuning koridor steril. Tubuhnya seketika membeku. Dari ujung lorong, ia melihat seorang perawat sedang mendorong kursi roda.

Seorang gadis yang sangat ia kenali duduk di sana dengan pakaian rumah sakit berwarna hijau yang tampak longgar. Rambut yang biasa ia lihat tergerai indah tertiup angin taman, kini terbalut rapat oleh penutup kepala sekali pakai.

Bumi melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin koridor. Ia menahan napas saat kursi roda itu kian bergerak mendekat. Dada Bumi bergemuruh saat jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. Bumi bisa melihat dengan begitu jelas senyum gadis itu mengembang sempurna saat berbicara dengan perawat.

Udara dari pendingin ruangan yang berayun lembut, meniupkan aroma dari kemeja hitam yang Bumi kenakan wangi parfum maskulin pekat bercampur bau antiseptik itu tercium samar di indera penciuman Senja.

"Bima…" nama itu lolos begitu saja dari bibir Senja.

Tubuh gadis itu seketika menegak di atas kursi roda. Senyum yang semula terpancar kini berganti menjadi kerutan dalam di dahinya. Tangannya mengayun bebas tepat di hadapannya, mencoba meraba udara kosong di sekitarnya.

"Nona Senja, ada yang tidak nyaman?" tanya perawat yang menyadari gelagat aneh Senja.

Senja tak langsung menjawab. Jemarinya meremas kuat kain selimut di pangkuannya.

"Bim, apa itu kamu? Kamu di sini? Bima, kamu menepati janji... kamu mau jadi orang pertama yang aku lihat, kan?"

Tak ada jawaban suara.

"Nona, anda mencari siapa?" tanya perawat yang mendengar Senja mentebut nama Bima.

Lihat selengkapnya