Rumah besar itu kini terasa jauh lebih sepi ketika Bumi menapakkan kaki di ambang pintu. Hari masih siang. Ia sengaja mengosongkan jadwal poliklinik setelah mengawal seluruh proses operasi Senja. Langkah kakinya terasa begitu berat. Di ruang tengah, sang ibu duduk termenung sendirian, memeluk erat bingkai foto Bima.
Jas putih di tangan Bumi jatuh begitu saja ke lantai. Pertahanan pria itu runtuh setelah dipaksa kuat sejak kemarin.
"Mama…"
Bumi menjatuhkan diri di lantai. Ia memeluk lutut ibunya, menyandarkan kepala pada pangkuan wanita yang biasanya selalu penuh kasih mengusap rambutnya setiap kali ia lelah dan ingin menyerah.
Namun kali ini, tangan ibunya sama sekali tidak bergerak. Jemari wanita itu tetap terkunci, mendekap bingkai foto Bima.
Karina bergeming, bahkan setelah kain gamis hitamnya basah oleh rembesan air mata Bumi. Kekecewaan telah melunturkan cinta kasih pada putra sulungnya—putra yang selama ini selalu ia banggakan sebagai dokter hebat.
"Mama jangan diamkan aku, Mah… Aku kangen sama Mama," lirih Bumi, suaranya tercekat.
Karina justru mencengkeram kuat bingkai foto di pelukannya. Air mata wanita itu jatuh tanpa suara, namun pelukannya pada bingkai foto Bima justru kian erat—seolah dinding telah terbangun kokoh di sekeliling hatinya, menutup rapat celah untuk putra sulungnya. Bima, putra spesialnya, kini harus terkubur di dalam tanah dengan raga yang tak lagi utuh.
Erlangga yang baru turun dari tangga hanya bisa menatap nanar dari kejauhan. Jantungnya berdesir melihat bagaimana Bumi harus mengemis perhatian ibunya setiap hari, hanya untuk berakhir diabaikan. Erlangga menghela napas berat. Baginya, baik Bumi maupun Bima hanya sedang mencoba memperjuangkan kebahagiaan wanita yang mereka cintai dengan cara yang berbeda.
"Bumi, Papa mau bicara."
Bumi mendongak, melihat sang ayah sudah berdiri di dekat anak tangga. Ia segera menyeka pipinya yang basah. "Mama, aku nggak pernah bermaksud melukai hati Mama. Aku harap Mama mau memaafkan aku."
Bumi bangkit berdiri meski kakinya sedikit goyah. Ia memaksakan diri untuk tegar. Bumi membungkuk perlahan, mengusap sisa air mata di pipi ibunya, lalu mengecup kening wanita itu sedikit lebih lama—menyalurkan seluruh rasa rindu yang kini seolah terhalang oleh sekat tak kasat mata. Setelah itu, dengan langkah pelan ia berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
"Bagaimana operasi Senja?" tanya Erlangga begitu Bumi duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah lancar, Pah. Doakan semoga besok hasilnya seperti yang Bima harapkan, agar aku juga bisa berguna untuk orang lain."
Erlangga mengusap punggung putranya dengan lembut. "Papa juga berharap begitu. Dan untuk saat ini, kamu jangan ambil hati sikap Mama." Erlangga menarik napas dalam-dalam. "Mama hanya butuh sedikit waktu untuk bisa menerima semuanya."
"Ya. Aku hanya rindu sama Mama, Pa."
"Percayalah, tidak akan ada yang sia-sia dari semua pengorbanan kamu maupun Bima. Suatu hari, Mama akan menjadi orang yang paling bahagia."
Bumi tak lagi menjawab. Ia hanya diam, mengaminkan semua harapan ayahnya dalam senyap.
***
Ruang VIP Kamar Nomor 401
Namira memeluk erat putrinya begitu Senja perlahan sadar dari sisa pengaruh obat tidur.
"Senja, operasinya berjalan dengan lancar. Bunda sudah tidak sabar menunggu hari esok."
Senja tidak banyak bergerak. Ia terdiam dalam dekapan hangat sang ibu. 'Bun, Bima janji bakal jadi orang pertama yang aku lihat, tapi sekarang bahkan ponselku tak berdering.' Kalimat itu hanya mampu Senja telan dalam diam, terasa pahit namun ia tak berani bersuara karena ia tahu itu akan memicu amarah Ayahnya.