Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #32

Chapter tanpa judul #32

Aroma parfum yang sangat familier kembali tercium di indra penciuman Senja. Meski samar dan tak sejelas biasanya, ia cukup peka pada kehangatan maskulin itu.

'Bim, apa itu benar kamu?' batin Senja. 'Kamu menepati janji untuk jadi orang pertama yang aku lihat?'

Senyum mengembang di bibir Senja. Bumi menatap binar itu dalam diam dari balik pelindung wajahnya, tepat saat ia dan tim medis bersiap membuka perban siang itu.

Di balik sarung tangan lateks yang membungkus jemarinya, tangan Bumi sedikit gemetar. Ada beban berat yang menghimpit dadanya. Jika ia gagal hari ini, bukan hanya hatinya yang hancur, tapi semuanya—pupusnya harapan Senja, pengorbanan adiknya, hingga harapan besar seorang ayah yang digantungkan melalui perantara tangannya. Bahkan ketakutan akan terulangnya kematian Jasmine pada diri Senja mendadak mengintai di sudut ruangan.

Jantung Senja pun kian tak karuan. Bukan hanya karena cemas akan hasilnya, melainkan karena aroma itu kian mendekat membuat batinnya kian bertanya-tanya. 'Ya Allah, siapa sebenarnya dia? Jika ini Bima, kenapa dia bahkan enggan menyapaku?'

Senja menggelengkan kepala pelan, gerakan kecil yang langsung ditangkap oleh mata Bumi.

"Nona Senja, Anda baik-baik saja?" tanya Bumi, suaranya mengalun datar.

"Maaf, Dokter Bumi…"

"Apa Anda sudah siap? Saya akan membuka perbannya perlahan. Jika nanti sudah terlepas, tolong buka mata Anda pelan-pelan saja, jangan dipaksakan."

"Baik, Dok. Terima kasih."

Detak jantung Bumi memburu saat jemarinya terpaksa menyentuh sela rambut Senja. Jarak yang begitu dekat membuatnya sempat terpaku sesaat, menahan napas hanya untuk meresapi helaian rambut itu di tangannya. Namun, kesadarannya segera menyentak. 'Istighfar, Bumi. Fokus.'

Lilitan kain kasa terakhir akhirnya terlepas. Dengan suara yang tercekat di tenggorokan, Bumi memberi aba-aba. "Sekarang, buka mata Anda pelan-pelan."

Tim medis di dalam ruangan ikut menahan napas. Di sudut ranjang, Namira dan Bayu berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Dalam setiap helaan napas, Bayu tak henti-hentinya mengetuk pintu langit, mengemis setitik cahaya pada Sang Pemilik Cahaya. 'Allah, hamba hanya seorang ayah yang tak akan berhenti memohon, izinkan Senja melihat.'

Buram.

Bukan gelap pekat yang menyambut Senja begitu kelopak matanya terangkat sepertiga. Melainkan rasa perih yang menyengat, memaksanya kembali terpejam rapat.

"Nona Senja, jangan dipaksa untuk terbuka lebar. Pelan saja," tegur Bumi cekatan.

Senja mengangguk pelan. Ia mencoba kembali membiarkan cahayanya masuk. Namun, kabut putih keabu-abuan langsung mengepung sudut pandangnya, tebal dan tak tertembus. Di tengah visual yang membingungkan itu, ingatan Senja mendadak melayang pada bait-bait kalimat yang selalu dibisikkan Bima selama ini di taman.

"Senja, dunia itu penuh warna. Merah itu hangat seperti api, biru itu tenang seperti saujana laut, dan kuning itu ceria seperti pelukan matahari."

Selama ini, Senja merawat harapan hanya dari ejaan warna yang meluncur dari bibir Bima. Ia membayangkan warna adalah sejenis sihir yang akan menyuguhkan keindahan begitu perbannya dilepas.

Namun kini, di tengah ruangan yang sunyi ini, Senja mulai ragu. Matanya berkedip cepat, menyeka air mata yang terus mengalir seiring rasa perih yang menyiksa matanya . Ia menatap lurus ke depan, mencoba mencari di mana merah yang hangat, biru yang tenang, atau kuning yang ceria itu.

Nihil. Semuanya melebur menjadi gumpalan blur yang kacau dan asing. Senja bahkan belum mampu mencerna apa yang sebenarnya sedang ia lihat. Apakah siluet pekat di depannya ini adalah wujud manusia, ataukah hanya ilusi dari kornea barunya yang membengkak? Titik-titik cahaya yang berpendar menyilaukan justru terasa seperti teror yang menusuk-menusuk retinanya.

Lihat selengkapnya