Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #33

Chapter tanpa judul #33

Jemari Senja bergerak pelan mengusap permukaan buku hitam milik Bima. Sudah tiga minggu berlalu tanpa satu pun kabar. Penglihatannya yang semula buram kini perlahan mulai beradaptasi dengan benda-benda di sekitarnya. Sebaris warna-warni indah yang dulu sering diceritakan Bima kini nyata berdiri di depan matanya. Namun, semuanya terasa kosong. Seolah keindahan itu kehilangan separuh nyawanya.

Senja membuka lembar demi lembar buku itu. Berkali-kali ia meraba barisan tinta di atasnya. Meski sepasang matanya kini mampu menangkap dunia, ia tetap buta aksara.

"Bim, apa yang kamu tulis di buku ini?" bisik Senja pada kesunyian kamar. "Aku ingin segera bisa membaca. Seandainya kamu ada di sini, kamu pasti akan mengajarkanku mengeja abjad satu demi satu." guma Senja membungkuk saat lipatan kertas yang terselip jatuh.

Senja tersenyum getir menatap kekosongan di hadapannya. "Sesibuk itukah kamu di sana? Sampai nggak bisa membaca satu pun pesan yang kukirimkan? Tapi aku masih menunggu, Bim. Semoga kamu segera kembali."

Ia kembali membalik lembaran tipis itu, memandangi tulisan tangan yang terukir begitu rapi. "Apa ini puisi? Atau justru surat yang sengaja kamu tinggalkan untuk menghindariku?"

Senja meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor Bima untuk kesekian kalinya. Nada sambung terdengar datar di rungu, namun sekali lagi, ia harus menelan kekecewaan yang sama saat panggilan itu terputus tanpa jawaban. Ia meletakkan ponselnya, lalu meraih kacamata photochromic di atas nakas. Sore itu, Senja berniat pergi ke taman.

Langkah kakinya menyusuri jalanan yang sudah ia hafal di luar kepala. Namun, setelah bisa melihat, jalanan yang dulu ia lalui dalam kegelapan ternyata terasa begitu mengerikan. Ratusan motor berlalu lalang tanpa henti, membelah aspal dengan bising.

Ingatan Senja mendadak terlempar pada tragedi perempatan kota yang hampir setahun itu. Dahinya berkerut samar saat menatap lampu merah. Ia mengingat kembali detik-detik mengerikan ketika seseorang melompat menyambar tubuhnya hingga bergulingan di aspal.

'Aku memang nggak bisa melihat waktu itu, tapi aku ingat jelas aroma parfum bercampur anyir darah di baju seseorang. Dan juga suara dentuman yang mengerikan.'

Senja menarik napas dalam-dalam. 'Siapapun kamu yang telah menyelamatkanku hari itu... jika suatu hari kita dipertemukan takdir, aku ingin berterima kasih. Mungkin aku nggak akan pernah bisa membayar pengorbananmu, tapi aku akan usahakan untuk menebus utang budiku.'

Begitu lampu merah menyala, Senja menyeberang dengan sangat hati-hati tanpa tongkat penuntun di tangannya. Ini adalah kali ketujuh ia mengunjungi taman sejak perbannya dibuka. Dan hingga detik ini, ia menolak untuk berhenti berharap bahwa Bima akan duduk di sana, menantinya.

Senja mengambil tempat di bangku taman yang usang, memandangi dedaunan yang berguguran. "Itu daunnya hijau, Bim. Dan yang jatuh di atas tanah itu cokelat. Langit sore ini juga kelabu karena mendung. Aku bahkan sudah menghafal semuanya, Bim," lirihnya pada angin sore.

***

Di Rumah Sakit, Bumi baru saja menyelesaikan tugasnya setelah pasien terakhir keluar dari poliklinik. Perhatiannya langsung tertuju pada ponsel milik Bima yang tergeletak di atas meja kerja. Hanya ponsel peninggalan adiknya itu yang bisa sedikit mengurangi beban di kepalanya saat ia merasa tak lagi memiliki tempat untuk bersandar.

Sepeninggal Bima sebulan lalu, Karina masih enggan menatap wajahnya. Rumah itu kini terasa asing bagi Bumi, rumah yang dulu hangat penuh canda dan tawa serta kehangatan sosok Ibu, kini benar benar hilang. Kosong itu kian menganga di hati Bumi Aksara.

Bumi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang lelah, lalu meraih ponsel Bima. Layar digital itu menyala, menampilkan pemberitahuan yang menyengat matanya: tujuh panggilan tak terjawab dari Senja hari ini. Dan sudah tak terhitung berapa ratus panggilan serupa selama sebulan terakhir.

Dada Bumi berdesir ngilu. Sakit. Jelas itu yang ia rasakan. Jika ia nekat mengangkat panggilan itu, Senja pasti akan mendengar suaranya dan berharap Bima masih bernyawa di suatu tempat.

Namun jika ia terus mengabaikannya, sama saja ia sedang menimbun luka baru di hati gadis itu saat kebenaran maut ini terungkap nanti.

Bumi bangkit dari kursinya, menyambar tas dan kunci mobil. Ia meninggalkan poliklinik dengan satu tujuan: melihat Senja di taman sore ini.

***

Bumi membetulkan letak masker medisnya, melangkah pelan hingga berdiri tepat di belakang bangku tempat Senja duduk. Langkah kakinya menyentak Senja untuk segera menoleh.

"Dokter Bumi?" Sapa Senja sedikit heran melihat dokternya mendadak muncul.

Lihat selengkapnya