Bumi terlihat sangat sibuk di dalam ruang poliklinik miliknya sore itu. Kemeja biru langit yang ia kenakan bahkan sudah terlihat sangat kusut, sama dengan gurat wajahnya yang terus-menerus disita oleh bayangan Senja sejak hari di mana ia mengantarkan gadis itu pulang di tengah hujan.
Di sela tumpukan berkas rekam medis yang berserakan, sepasang mata Bumi mendadak terpaku pada sebaris nama yang tertera di layar komputer. Senandung Senja.
"Hari ini jadwal kontrolnya," gumam Bumi lirih pada keheningan ruangan. "Tapi kenapa jam segini dia belum datang? Biasanya dia selalu jadi pasien yang tiba paling awal."
Bumi terdiam, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas permukaan meja, sedikit gelisah. Ingatannya mendadak terlempar kembali pada tatapan ketus dan nada bicara Senja di dalam mobil hari itu.
'Itu belum seberapa, Bumi. Kamu harus bersiap menghadapi ledakan kemarahannya saat dia tahu semuanya' batin Bumi memperingatkan dirinya sendiri.
Ia menggelengkan kepalanya, seolah ingin mengusir ketakutan yang kian merayap di dadanya. 'Nggak, Senja… aku nggak ada niat sedikit pun untuk membohongi kamu. Aku hanya nggak tega mematahkan harapanmu dalam satu detik yang kejam. Tapi melihatmu terus-menerus menunggu dalam delusi kosong seperti ini, aku juga merasakan sakit yang sama.'
Bumi memijat pangkal hidungnya perlahan, mencoba mengurai ketegangan yang mendadak menari-nari di benaknya.
"Dokter Bumi?"
Suara ketukan pintu dan panggilan lirih itu ternyata sama sekali tidak sempat menembus pertahanan kepala Bumi yang bising. Hal itu memaksa suster perawat melangkah mendekat ke sisi mejanya. "Maaf, Dok. Apa ada masalah? Ada yang bisa saya bantu?"
Bumi tersentak, buyar dari seluruh lamunan tentang Senja. Ia berdehem kecil, mencoba mengembalikan wibawa. "Eh, tidak ada, Sus," jawabnya singkat, mengalihkan pandangan untuk menghindar.
Jemari Bumi bergerak mengetuk dua kali layar ponsel milik Bima yang tergeletak di atas meja. Angka digital menunjukkan pukul 16.08. Jadwal praktiknya di poliklinik akan berakhir dua puluh dua menit lagi, namun tanda-tanda kehadiran Senja masih nihil.
"Sus, pasien atas nama Senandung Senja apa memang belum datang ke bagian administrasi?" tanya Bumi akhirnya, tidak bisa lagi membendung kecemasannya.
Suster perawat tersenyum kecil. "Baru saja tiba, Dok. Saya tadi sempat melihat Nona Senja sedang melakukan skrining awal di meja depan."
Mendengar kalimat itu, sebaris kehangatan yang asing mendadak menjalar di rongga dada Bumi, meredakan sedikit sesak yang mengimpitnya sejak siang. Namun bersamaan dengan itu, jantungnya justru mulai berpacu liar. Bumi membetulkan letak kerah kemeja dan maskernya, bersiap menghadapi sepasang mata baru Senja yang sebentar lagi akan melangkah masuk melewati pintu polikliniknya.
Namun hingga pukul 16.25, Senja yang ia tunggu tak kunjung melangkah masuk. Bumi hanya mampu menatap kosong ke arah pintu, jemarinya mengetuk-ngetukkan penlight logam di tangannya dengan ritme yang tak beraturan.
'Apa dia benar-benar marah sampai enggan memeriksakan matanya?' batin Bumi, dilingkupi rasa cemas yang menyiksa.
Bumi meraih ponsel milik Bima dari atas meja, sekadar untuk memandangi foto Senja yang tengah tersenyum manis di samping adiknya. 'Bim, apa aku mampu menjalankan amanahmu? Sementara dia masih terus berharap kamu ada di sini. Aku nggak cukup punya keberanian untuk mengatakan keberadaanmu yang sebenarnya. Aku nggak tega menyakitinya lebih dalam lagi, hanya karena dia menganggap kamu nggak peduli lagi padanya.'
Haciiiihhh!
Pintu poliklinik terbuka diiringi suara bersin dari arah luar, seketika membuat Bumi tersentak dari lamunannya. 'Senja.'
Gadis itu melangkah masuk dalam keadaan yang sedikit kacau. Wajahnya terlihat pucat, dengan sweater tebal dan syal rajut yang membalut lehernya. Sepasang mata Bumi seketika terkunci pada syal itu. Syal yang sama, yang ia lihat masih tersimpan rapi di dalam lemari kamar Bima.
"Kak Bumi percaya nggak, kalau syal serapi ini dirajut oleh seorang gadis yang bahkan nggak bisa melihat dunia?"
Gema suara Bima dari masa lalu berputar di kepala Bumi, membuatnya mematung di atas kursi kerja.
"Dokter Bumi, Anda baik-baik saja? Apa ada yang salah dengan saya?"
Senja mengernyit heran. Ia menatap dokter di hadapannya yang tampak tidak fokus setelah berkali-kali ia sapa sejak melangkah masuk.
Suara Senja yang sedikit meninggi itu seketika membuyarkan ingatan Bumi. Ia segera menegakkan posisi duduknya, berdehem kecil untuk menenangkan kegugupannya.
"Um... ya. Silakan duduk, Nona Senja."
Senja mengambil tempat duduk di hadapan Bumi. Tanpa sebaris senyum hangat seperti biasanya, wajah Senja tampak datar, bahkan seolah sengaja menghindari tatapan mata Bumi.