Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #35

Chapter tanpa judul #35

Bumi melangkah tergesa-gesa keluar dari gedung rumah sakit, tepat saat melihat Senja menaiki sebuah taksi berlogo biru di lobi depan. Tanpa membuang waktu, Bumi segera melompat ke balik kemudi mobilnya, menghidupkan mesin, dan bergerak membelah kepadatan jalanan Jakarta demi menjaga agar taksi tersebut tetap berada dalam jangkauan pandangannya.

Namun, tebakan Bumi melesat jauh. Taksi itu tidak melaju ke arah perumahan tempat tinggal Senja. Kendaraan itu justru berbelok dan berhenti di halaman sebuah masjid besar di tepi jalan protokol.

Melalui kaca depan mobilnya, Bumi melihat Senja turun dengan langkah yang gontai. Gadis itu berjalan memeluk tubuhnya sendiri, memasuki pelataran masjid tepat saat gema adzan maghrib berkumandang membelah langit kota. Bumi menghentikan mobilnya di bahu jalan, mematikan mesin, lalu memutuskan untuk ikut melangkah masuk ke dalam rumah ibadah tersebut.

Usai menyelesaikan salam terakhir di penghujung salat, Bumi perlahan menoleh ke belakang. Di balik sekat pembatas jemaah wanita, ia bisa melihat punggung Senja yang terbalut mukena tengah tertunduk dalam. Pundak gadis itu bergetar. Senja sedang menangis, mengadukan seluruh sesak di dadanya langsung kepada Sang Pemilik Semesta.

Bumi akhirnya memilih kembali ke mobilnya, duduk di balik setir untuk menunggu hingga gadis itu keluar. Ia hanya ingin memastikan Senja pulang ke rumah dalam keadaan aman.

Sepuluh menit kemudian, taksi yang membawa Senja kembali bergerak. Namun lagi-lagi, arahnya melenceng. Kendaraan itu justru berhenti di tepi taman kota—tempat yang sangat familier baginya.

Bumi hanya bisa terpaku saat melihat Senja turun, berjalan lambat menyusuri jalan setapak, lalu melabuhkan tubuhnya di atas bangku taman yang dingin.

Cukup lama Bumi hanya diam di dalam mobil, mengamati dari jarak jauh. Detik berganti menit, malam perlahan jatuh memeluk kota, namun Senja tetap bergeming di sana. Duduk sendirian di bawah temaram lampu taman. Hati Bumi kian tak tega melihat bagaimana gadis itu meringkuk, merapatkan kedua lengannya demi menghalau gigitan angin malam yang kian menusuk tulang.

"Bim... seandainya saja kamu ada di sini dan melihat bagaimana Senja sekarang. Dia sangat kehilangan kamu," bisik Bumi lirih pada kesunyian kabin mobilnya.

Bumi membalikkan badan, meraih jaket yang tergantung di gantungan jok belakang. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar menembus taman demi memastikan Senja baik-baik saja.

***

Angin malam semakin berembus kencang, terasa bagai jarum yang menusuk hingga ke tulang. Paduan sweater tebal dan syal rajut di leher ternyata tak mampu lagi menghalau dingin, namun Senja tetap bertahan dalam diam. Sepasang matanya menatap lurus ke arah langit malam yang pekat.

"Bim... aku sudah bisa melihat galaksi Bima Sakti di atas sana," lirih Senja, air matanya kembali meluncur melewati pipi yang pucat. "Tapi kenapa justru kamu yang ingkar janji, Bim? Kenapa kamu nggak ada di sini?"

Senja menyeka basah di wajahnya dengan kasar. Bayangan buku milik Bima melintas di benaknya, 'Aku harus banyak belajar. Aku harus bisa cepat membaca agar aku bisa segera tahu apa yang kamu tulis di dalam buku ini, Bim. Aku mau tahu semuanya.' tekat Senja penuh.

Kepala Senja mendadak berdenyut nyeri, tubuhnya kian menggigil menahan demam yang mulai menjajah fisiknya. Namun, tepat saat rasa dingin semakin terasa, sebuah aroma yang familier mendadak menusuk indra penciumannya. Sangat nyata. Harum parfum maskulin yang persis sama tajamnya seperti saat Bima pergi di hari terakhir mereka bertemu. Bersamaan dengan itu, rasa hangat menyelimuti pundaknya yang bergetar. Sebuah jaket krem besar telah tersampir di sana.

Senja tersentak, menolehkan kepalanya dengan cepat. Di belakang bangku taman, Bumi Aksara berdiri mematung. Pria itu masih mengenakan kemeja kusut yang sama saat mengejarnya di koridor rumah sakit tadi.

Lihat selengkapnya