Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #36

Chapter tanpa judul #36

Senja meremas ponsel di tangannya kuat-kuat. Kepalanya masih belum bisa mencerna apa pun yang diucapkan Bumi semalam. Ingatannya mendadak terlempar kembali pada kegelapan taman yang hanya diterangi lampu temaram.

"Aku peduli karena aku sayang sama kamu! Cukup! Aku nggak mau kamu semakin sakit!"

Ucapan Bumi masih terdengar begitu jelas, bergaung berulang-ulang di telinganya. 'Bagaimana bisa Dokter Bumi tiba-tiba bilang sayang ke aku? Di saat aku bahkan sedang setengah mati mencari keberadaan Bima?'

Senja berjalan gontai, melangkah membuka pintu kaca menuju balkon kamarnya. Ia berdiri termenung menatap langit yang tampak suram pada Minggu pagi itu.

"Kamu tahu nggak, Bim? Setelah aku bisa melihat selama sebulan terakhir, aku bahkan belum pernah melihat langit itu berwarna biru," gumam Senja pada keheningan udara pagi. "Setiap hari hujan. Langit selalu kelabu. Kenapa, Bim?"

Sesekali, batuk keluar dari celah bibirnya, menyiksa tenggorokannya yang mulai meradang akibat flu. Suara batuk itu seketika mengingatkan Senja pada hari-hari terakhir sebelum Bima menghilang. "Bim... apa kamu sekarang sedang sakit? Dan kamu sengaja bersembunyi karena nggak mau aku khawatir?"

Senja melangkah kembali ke dalam kamar, lalu menyambar ponsel barunya di atas meja. 'Aku masih belum lancar mengetik huruf,' batin Senja getir saat menatap barisan papan ketik di layar. Namun sesaat kemudian, ia memutuskan untuk kembali mengirimkan sebuah pesan suara ke nomor Bima.

"Bim... aku harap, sekali ini saja kamu balas pesan aku. Tolong."

Senja meletakkan kembali ponselnya ke atas kasur setelah pesan suara itu terkirim, menanti dalam kepasrahan yang senyap.

***

Bumi yang baru saja keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya saat matanya tertuju pada layar ponsel milik Bima yang menyala di atas nakas.

'Senja... mau sampai kapan kamu terus mengirimkan pesan untuk Bima?' batin Bumi perih saat melihat nama gadis itu kembali berkedip di sana.

Sudah tak terhitung berapa ratus panggilan tak terjawab dan timbunan pesan masuk selama sebulan terakhir. Selama ini, Bumi hanya menatap sekilas pemberitahuan itu tanpa pernah memiliki keberanian untuk membukanya. Namun setelah ledakan amarah semalam, entah mengapa ibu jarinya mendadak bergerak menyentuh layar, membuka room chat dari kontak Senja.

Dua ratus tiga puluh satu pesan masuk menumpuk tanpa pernah dibuka sejak hari pemakaman Bima.

Bumi menarik napas dalam-dalam, lalu mulai memutar pesan-pesan suara itu satu demi satu. Setiap kali suara lembut Senja mengalun di dalam kamarnya, hati Bumi rasanya mencelos, seperti diiris sembilu yang getir. Suara manis Senja yang bermanja-manja pada Bima terasa terlampau kontras dengan jeritan penuh murka yang gadis itu lemparkan padanya semalam di taman.

Belum lagi ketika gema suara Bima membalas pesan-pesan lama itu, melontarkan janji-janji palsu yang kini mustahil untuk ditepati.

"Jika Allah izinkan, aku janji akan selalu ada buat kamu, Senja."

Mendengar itu, rasa bersalah kian menghimpit ulu hati Bumi. Bima tidak akan pernah mungkin bisa kembali untuk menepati janjinya. Dan di atas tempat tidur ini, Senja masih merawat semua harapan itu seolah akan menjadi nyata esok hari. Hingga pada pesan suara terakhir yang baru saja masuk beberapa menit lalu, ponsel di tangan Bumi nyaris terlepas.

"Bim, katakan kamu di mana? Kenapa ponsel kamu bisa ada di meja Dokter Bumi?"

"Bim, kakak kamu itu menyebalkan banget. Aku benci dia karena terlalu jauh ikut campur urusan kita. Apa dia yang sengaja membuat kamu nggak mau menemui aku lagi?"

"Kalau memang iya... ini akan jadi pesan terakhirku, Bim. Setelah ini aku nggak akan lagi berharap apa pun pada hubungan kita. Ini juga terakhir kalinya aku mau menunggu kamu. Tolong temui aku sekali ini saja. Sekarang. Di tempat biasa, di bangku taman."

Bumi reflek menoleh ke arah jendela luar yang semakin mendung. Awan hitam berarak pekat, menandakan badai akan segera runtuh.

"Apa lagi yang kamu harapkan dari Bima, Senja?" lirih Bumi, suaranya tercekat.

Ia menyambar jaketnya, lalu berjalan setengah berlari menuruni anak tangga.

Namun di ruang tengah, langkah kaki Bumi terhenti saat melihat Karina, ibunya, masih betah duduk membeku mendekap bingkai foto Bima. Sebulan lebih kepergian putra bungsunya, wajah Karina masih sedingin es, meratapi duka yang tak kunjung usai. Pemandangan itu selalu berhasil menggores luka baru di hati Bumi.

"Mama... aku mau keluar sebentar, Mah," pamit Bumi pelan.

Tak ada jawaban. Karina bahkan enggan sekadar menolehkan kepala untuk menatap anak sulungnya.

Bumi tidak memedulikan penolakan itu. Ia melangkah mendekat, mengecup kening ibunya dengan lembut meskipun hanya keabaian dingin yang ia dapatkan sebagai balasan. Setelah itu, Bumi melangkah keluar, menghidupkan mesin, lalu mengendarai mobilnya membelah Minggu pagi yang kelabu.

***

Dari kejauhan, Bumi langsung menangkap siluet Senja di bangku taman. Gadis itu kembali mengenakan gaun putih—gaun yang sama dengan kejadian setahun lalu saat tragedi perempatan kota, yang seketika memanggil paksa memori kelam ketika Bumi menarik tubuh itu hingga dirinya terhempas di atas aspal.

"Senja..." gumam Bumi lirih dari balik kemudi.

Saat melihat titik-titik air mulai jatuh dari langit, Bumi tidak sanggup lagi membiarkan Senja terus berdiri meratapi harapan kosong. Ia membuka pintu mobil, melangkah turun dengan payung di tangan kanannya.

Kehadiran langkah kaki Bumi seketika menyulut emosi Senja yang langsung berbalik badan begitu menyadari bayangan pria itu.

"Dokter Bumi lagi?!" ketus Senja. "Mau sampai kapan Dokter terus-menerus mengikuti aku?!"

"Senja, pulang! Sebentar lagi hujannya deras," ujar Bumi, mencoba menahan payung di atas kepala Senja.

Lihat selengkapnya