Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #37

Chapter tanpa judul #37

Roda mobil Bumi berhenti berputar tepat di depan gerbang rumah Senja saat hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Bumi melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke samping.

"Aku antar kamu sampai di dalam. Jika nanti Ayah dan Bundamu bertanya, biar aku yang menjelaskan semuanya," ujar Bumi, suaranya terdengar cemas.

"Nggak perlu," tolak Senja dingin, matanya menatap lurus ke depan. "Aku bisa jelaskan semuanya sendiri."

"Tapi Senja, lihat keadaanmu sekarang. Demam kamu semakin tinggi."

"Aku bilang nggak perlu!" bentak Senja, menoleh cepat dengan tatapan menusuk. "Bima mungkin nggak ada sekarang, tapi dokter Bumi nggak perlu repot-repot mengurus hidupku!"

Bumi mencengkeram lingkar kemudi dengan sangat kuat mencoba meredam luapan emosi yang kian menyesakkan dada.

Senja menoleh, suaranya melemah, beralih menjadi lirih, dingin, dan datar seolah sedang meluapkan semua amarah yang selama sebulan ini ia pendam sendirian. "Aku benci semua ini. Aku benci Dokter Bumi yang hanya diam saja selama ini, padahal Dokter tahu aku selalu mencari keberadaan Bima."

"Aku hanya berusaha menjaga perasaanmu agar..."

"Agar apa, Dok?! Jika ternyata kebohongan itu nggak merubah apa pun? Justru aku semakin kecewa karena menjadi orang bodoh yang nggak tahu apa-apa! Lalu hal apa lagi yang sekarang sengaja Dokter sembunyikan dariku?!"

Bumi mengulurkan tangan, mencoba meraih jemari Senja untuk sedikit menenangkan gadis itu. Namun, Senja lebih dulu menepis tangan Bumi dengan kasar. Ia membuka pintu mobil, mengabaikan seruan Bumi, dan kembali menerjang lebatnya guyuran hujan.

Bumi hanya bisa diam membeku di balik kemudi. Sepasang matanya menatap nanar punggung Senja yang terbalut gaun putih penuh noda lumpur makam, berselimut jas putih miliknya yang kedodoran. Rasa frustrasi yang sangat menghantam kepala Bumi.

Brak!

Bumi menghantamkan kepalan tangannya ke atas permukaan dasbor mobil dengan sekali sentakan yang luar biasa keras. Kulit buku jarinya seketika pecah, mengalirkan sebaris darah segar yang beradu dengan rasa ngilu yang tak seberapa dibanding hancurnya ulu hatinya saat ini.

"Astaghfirullah..." Bumi mengusap wajahnya yang basah oleh peluh. Kalimat istighfar tak henti-hentinya lolos dari celah bibir yang bergetar, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya sendiri.

Senja mendorong pintu depan rumahnya yang tidak terkunci, lalu berjalan perlahan, seluruh persendiannya terasa lolos, lemas menahan dinginnya air yang meresap ke pakaian dan suhu tubuhnya yang semakin naik.

Di ruang tengah, Bayu sedang berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinga. Wajah paruh bayanya tampak tegang karena panggilannya tak kunjung diangkat oleh sang putri sejak siang. Langkah kaki Bayu seketika terhenti, sepasang matanya terbelalak saat melihat Senja melangkah masuk dalam keadaan yang sangat kacau.

"Senja..." teriak Bayu refleks, menjatuhkan ponselnya ke atas sofa dan berlari cepat menghampiri putrinya.

"Ayah..." Senja langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan sang ayah, menumpahkan seluruh tangis yang membakar dadanya di dalam dekapan hangat pria itu.

"Senja, katakan pada Ayah, Nak. Apa yang membuatmu sampai seperti ini?" Bayu mendekap erat kepala putrinya, hatinya teriris melihat kondisi Senja yang basah kuyup dan gemetaran.

Senja sudah tidak lagi memiliki sisa tenaga sekadar untuk bersuara. Bibirnya bergetar, hanya isak tangis pilu yang mampu lolos saat ingatan kepalanya terus memutar gundukan tanah merah berhias nisan yang baru saja ia datangi di bawah badai.

Merasakan hawa panas yang menyengat dari balik punggung putrinya, dahi Bayu mengernyit. Rentetan pertanyaan mendadak meluncur beruntun dari bibirnya tanpa jeda.

"Badan kamu panas sekali, Sayang. Kamu sudah demam karena kehujanan semalam, dan sekarang kamu pulang dalam keadaan basah kuyup lagi? Pasti karena Bima lagi, kan? Kamu lari dari taman siang tadi hanya untuk mencari anak itu?!" geram Bayu, napasnya ikut memburu menahan kejengkelan yang memuncak.

"Ayah... Bima, Yah..." rintih Senja, suaranya parau dan putus-putus.

"Ada apa lagi dengan anak itu, Senja?! Selalu nama Bima yang membuatmu hancur seperti ini!" Amarah Bayu kini berada di ambang batas. Ia tidak habis pikir kenapa pria sederhana itu tega membuat putrinya sesakit ini.

"Bima... dia..."

Belum sempat Senja menyelesaikan kalimatnya, pandangannya mendadak mengabur. Dunia di sekitarnya berputar, sebelum akhirnya berubah menjadi kegelapan. Tubuh lemah Senja ambruk, kehilangan kesadaran di dalam dekapan sang ayah.

"Senja! Senja, bangun, Nak!" teriak Bayu panik, menepuk-nepuk pipi putrinya yang terasa panas. "Bunda! Bunda, cepat ke sini! Senja pingsan, Bun!"

Namira berlari tergesa-gesa dari arah tangga dengan wajah panik melihat tubuh putrinya yang sudah tak berdaya. Dengan tangan gemetar, Namira mencoba mengganti pakaian Senja yang basah dan membalut tubuh gadis itu dengan selimut tebal. Namun, kain kompresan yang diletakkan di dahi Senja seolah tak mampu meredam suhu tubuh yang kian meninggi, disusul rintihan Senja yang terus mengigaukan nama Bima di dalam pingsannya.

Melihat kondisi putrinya yang semakin mengkhawatirkan, Bayu tidak mau mengambil risiko lebih lama lagi. "Nggak bisa begini, Bun. Kita harus bawa Senja ke rumah sakit sekarang juga!" ujarnya tegas.

Tanpa memedulikan hujan yang masih menderu di luar, Bayu kembali menggendong tubuh ringkih Senja menuju mobil, melesat membelah jalanan Minggu siang menuju Rumah Sakit.

***

Meskipun hari telah berganti menjadi Senin pagi, raut wajah Bumi masih belum berubah sama sekali. Gurat lelahnya masih sama kusutnya dengan hari kemarin, bahkan lingkaran hitam di sekeliling matanya tercetak jelas karena terjaga semalaman. Langkah kakinya terasa begitu berat ketika ia melangkah memasuki lobi Rumah Sakit.

"Bumi..."

Lihat selengkapnya