Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #38

Chapter tanpa judul #38

Di balik kaca mobil yang tertutup rapat, Bumi duduk mencengkeram kemudi. Pandangannya lurus menyisir gedung berlantai dua di kejauhan. Di selasar aula Yayasan Lentera Senja, seorang gadis tampak memeluk gitar akustik, dikelilingi anak-anak yang bernyanyi riang.

Enam bulan telah berlalu sejak Senja mengetahui kebenaran pahit tentang donor kornea itu. Enam bulan pula Senja membangun tembok tinggi untuk menghindarinya. Namun, Bumi masih melakukan hal yang sama: setia menjadi bayangan yang mengawasi dari kegelapan.

Dorongan hati memaksa Bumi membuka pintu mobil. Langkah kakinya membawa tubuh tegap itu berjalan pelan menembus lobi yayasan. Dari jarak yang tak begitu jauh, Bumi bisa melihat senyum di wajah Senja.

Sebuah senyuman yang dipaksakan. Gadis itu memang sudah bisa melihat dunia, tetapi binar matanya telah padam. Sepasang mata baru itu tampak kosong.

"Kak Senja, itu lagu yang biasa Kak Bima mainkan saat main piano dulu, kan?" tanya salah satu anak perempuan kecil yang dulu cukup dekat dengan Bima.

Senja memetik senar gitarnya lambat, menghasilkan satu nada rendah yang mengalun pilu.

"Lagu ini sudah menjadi lagu wajib bagi Kak Bumi, setelah... dia kehilangan dunianya."

Senja tersenyum getir mengenang cerita Bima. Dan sekarang, lagu ini menjadi lagu wajibku setelah kamu pergi, Bim, batin Senja meremang.

Senja mengedipkan matanya berkali-kali, menghalau genangan air yang siap tumpah. Namun saat ia menoleh ke ambang pintu lobi, napasnya mendadak tercekat. Di sana, seorang pria berkemeja hitam berdiri diam, menyembunyikan kedua tangannya di saku celana bahan, sedang menatapnya dengan sorot mata yang penuh luka yang tak terlihat.

Senja meletakkan gitarnya perlahan ke lantai ubin. "Kak Senja izin sebentar, ya. Ada tamu. Kalian lanjut bernyanyi dulu."

Anak perempuan berusia sepuluh tahun di dekatnya mencebikkan bibir. "Ada Kak Bima, ya, Kak? Kalau Kak Bima datang, Kak Senja pasti langsung pergi."

Hati Senja seperti ditusuk benda keras, terasa nyeri. Ia memaksakan sebuah tawa kecil seraya mengusap rambut bocah itu dengan tangan gemetar. "Bukan... Kak Bima sudah tidak akan ke sini lagi."

Kalimat itu terucap parau sebelum Senja berbalik, melangkah kaku menemui Bumi di ambang pintu.

"Sejak kapan Dokter Bumi di sini?" tanya Senja, nadanya terdengar ketus.

"Belum lama," jawab Bumi, suaranya nyaris berbisik.

Senja berjalan mendahului Bumi, keluar menuju bangku kayu di halaman depan. Bumi mengikuti dari belakang, menjaga jarak dua langkah di belakang Senja.

Begitu duduk, Senja langsung memalingkan wajah ke arah lain. "Harus berapa kali aku bilang, Dok? Aku nggak mau bertemu Dokter Bumi selain di rumah sakit untuk urusan medis."

"Senja, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

"Aku akan jauh lebih baik jika Dokter Bumi nggak terus-menerus datang ke sini."

"Senja..."

"Apa lagi?" Senja menoleh, menatap tajam sepasang mata Bumi. "Meskipun aku sudah bisa melihat hari ini, nggak akan ada yang bisa berubah. Keadaan nggak akan pernah bisa mengembalikan Bima. Jadi tolong... jangan temui aku lagi. Dokter membuatku terus-menerus merasa bersalah atas mata ini!"

Bumi refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Kalimat Senja barusan memicu gema suara ibunya di masa lalu, merobek kembali luka lama di dadanya yang belum sempat mengering.

"Mama... kenapa Mama menemui Senja dan mengatakan semuanya?"

"Supaya dia tahu kalau mata yang sekarang dia pakai adalah milik Bima!" jawab Karina dingin tanpa ekspresi.

"Tapi Senja nggak salah apa-apa, Mah..."

"Senja memang tidak salah. Tapi supaya dia tahu kegilaan kamu, Bumi! Kamu mengorbankan adikmu demi bisa menghidupkan Jasmine!"

Bentakan sang ibu malam itu terasa nyata di telinga Bumi, berputar paralel dengan tatapan penuh penolakan dari Senja saat ini. Di mata ibunya, ia adalah orang gila. Dan kini, di mata Senja, ia tidak lebih dari sekadar benalu yang egois.

Bumi membuka matanya perlahan. Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksakan sebuah senyuman tipis—senyuman paling pasrah yang pernah ia miliki. Ia menegakkan tubuhnya, mundur satu langkah untuk memberi jarak.

"Baiklah. Kalau kehadiranku hanya menambah luka untukmu... aku minta maaf, Senja. Aku nggak akan pergi."

Bumi memutar tubuhnya. Ia melangkah meninggalkan halaman yayasan dengan punggung yang tampak rapuh, berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang lagi. Sementara itu, Senja tetap duduk termenung sendiri di bangku kayu, membiarkan jemarinya mencengkeram roknya kuat-kuat, sengaja mengunci pandangannya pada tanah agar tidak perlu melihat punggung Bumi yang perlahan menghilang dari pandangan.

***

Malam telah larut di kamar Senja, membawa kesunyian yang perlahan terasa menusuk. Gadis itu berdiri diam di depan cermin meja riasnya. ia hanya menatap lurus pada pantulan matanya sendiri. Mata yang benderang, namun terasa asing.

Kata-kata Dokter Karina enam bulan lalu kembali menggema di kepalanya, tumpang tindih dengan punggung Bumi yang melangkah meninggalkan yayasan sore tadi.

"Dia masih hidup dalam bayang-bayang perempuan yang sudah lama mati, dia sengaja ingin menghidupkannya kembali dalam diri kamu Senja!"

Senja memejamkan mata, meremas tepian meja riasnya dengan jari gemetar. Tuduhan Karina tentang Bumi, dan bagaimana Bumi tadi siang hanya diam pasrah menerima semua usirannya, mendadak memicu rasa penasaran yang menyakitkan.

Dengan napas yang mulai memburu, Senja membuka laci paling bawah meja riasnya. Di sana, Buku titipan Bima yang selama ini tidak pernah bisa ia baca tergeletak. Senja membawa buku itu ke atas ranjang. Di bawah temaram lampu tidur, ia duduk meringkuk. Selama enam bulan ini otaknya dipaksa mati-matian belajar mengeja huruf Latin demi bisa mengenali dunia baru, kini ia mulai menyentuh permukaan sampul itu dengan ragu.

"Bima... apa sebenarnya yang terjadi?" bisik Senja pada sunyi ruangan.

Dengan sisa keberanian yang ada, Senja membuka lipatan kertas yang terselip rapi. Matanya mulai mengeja baris demi baris kalimat dengan lambat, meniti rangkaian aksara di sana. Ia sudah bersiap untuk menemukan untaian kata cinta atau pesan perpisahan dari Bima.

Namun, tulisan di kertas itu tampak berantakan. Goresan penanya penuh penekanan, di beberapa tempat bahkan ada huruf yang tercoret dan tintanya melebar—jejak bisu dari tangan yang bergetar saat mencoba menahan rasa sakit.

Senja mendekatkan kertas itu ke wajahnya, mengeja setiap aksara dengan napas yang kian sesak.

***

Untuk Senja,

Jika kamu sudah membaca tulisan ini, berarti doaku sudah dikabulkan Allah.

Kamu sudah bisa melihat dunia.

Lihat selengkapnya