"Meskipun aku sudah bisa melihat hari ini, nggak akan ada yang bisa berubah! Keadaan nggak akan pernah bisa mengembalikan Bima. Jadi tolong... jangan temui aku lagi. Dokter membuatku terus-menerus merasa bersalah atas mata ini!"
Bumi memejamkan mata rapat-rapat, menahan perih yang menghantam dadanya setiap kali ingatan itu datang mengiris jantung. Selama tujuh hari itu, tidak ada satu pesan pun dari Senja. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada kemarahan lagi. Yang tersisa hanyalah diam. Dan kadang, diam adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Bumi menoleh ke arah sudut kamar. Beberapa koper besar sudah tergeletak pasrah di sana. Keputusannya sudah bulat setelah melewati hari-hari yang terasa begitu berat. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman, kini telah kehilangan maknanya. Ibu yang dulu selalu melangitkan doa untuknya, kini memperlakukannya tak lebih dari seonggok hantu tak kasatmata.
Penolakan demi penolakan sang ibu semakin menguatkan keyakinannya untuk pergi. Bumi tidak ingin terus-menerus menjadi pengingat luka bagi ibunya, sementara Senja—lentera terakhir yang ia harapkan—pun tak lagi mampu ia gapai.
"Mas Bumi, apa memang tidak ada jalan lain lagi selain harus ke Jerman?"
Lamunan Bumi buyar saat suara Pak Rahmat memecah keheningan kamar.
"Aku nggak mau Mama semakin sedih setiap kali melihatku, Pak. Keberadaanku hanya akan membuat Mama terus teringat pada Bima."
"Tapi... bagaimana dengan Neng Senja, Mas? Kalau suatu hari nanti Neng Senja datang mencari Mas Bumi... bagaimana?"
Bumi tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Pak Rahmat. "Kalau memang ditakdirkan bertemu... kami akan bertemu. Tapi kalau tidak... berarti memang sampai di sinilah cerita kami.”
***
Di belahan kota yang lain, Senja melangkah memasuki gerbang memorial park. Pagi itu, ini adalah kali keenam kakinya menapak di tanah tempat Bima terbaring dalam pelukan bumi selama enam bulan terakhir.
Dalam balutan gaun berwarna putih gading dan sebuket mawar putih di genggamannya, Senja berlutut di samping gundukan tanah yang masih basah oleh embun. Ia memejamkan mata, berdoa sejenak.
"Bima..." panggil Senja lirih pada keheningan makam. Jemarinya mengusap permukaan nisan yang dingin. "Bim, aku datang lagi. Musim sudah berganti sekarang. Sudah nggak ada lagi hujan. Aku sudah bisa melihat birunya langit, meski aku belum sempat melihat pelangi. Tapi... perasaan kehilangan ini masih sama, Bim. Bahkan setelah aku sanggup membaca surat terakhirmu dan buku titipanmu yang kamu tinggalkan."
Senja tersenyum getir, menahan sesak yang mendadak mencekik tenggorokannya.
"Tapi aku masih nggak mengerti, Bim. Bagaimana mungkin kamu memintaku belajar menapak pada bumi... sementara hatiku selama ini hanya tahu caranya mendongak ke langit tempatmu berada? Bagaimana bisa kamu memintaku melihat ke arah lain, sementara sepasang mata yang kupakai ini adalah milikmu? Meskipun aku tahu ada luka nyata yang Bumi korbankan demi menyelamatkanku."
***
Bumi mengusap dahinya perlahan. Bekas luka di sana terasa berdenyut, memanggil kembali ingatan tentang seorang gadis bergaun putih di persimpangan jalan setahun setengah yang lalu. Namun, waktu tak lagi memberinya ruang untuk sekadar berdiam diri ketika Pak Rahmat mulai mengangkat koper-kopernya menuju bagasi mobil.