Author note:
Rumah bukanlah dinding dan atap yang megah. Rumah Hartawan memiliki segalanya: marmer, lampu kristal, dan nama besar. Namun sejak Bima pergi, rumah itu perlahan kehilangan nyawanya. Sejak Bumi diusir oleh diam ibunya sendiri, rumah itu hanya menyisakan gema kesepian. Dan sejak Senja mengetahui bahwa cahaya di matanya adalah utang darah, rumah di dalam dadanya ikut runtuh.
Novel ini berkisah tentang orang-orang yang kehilangan rumahnya masing-masing. Tentang seorang ibu yang kehilangan anak, seorang ayah yang kehilangan tempat bersandar, dan seorang pria yang rela menjadi "bumi", hanya untuk menyadari bahwa cinta yang ia pijak sepenuh hati tidak pernah benar-benar memilihnya.
Pada akhirnya, rumah sejati bukanlah tempat yang kita tinggali. Rumah adalah orang-orang yang membuat kita merasa aman untuk pulang, diterima tanpa syarat, dan tetap dipeluk bahkan ketika hidup sedang runtuh. Ketika orang-orang itu pergi, semegah apa pun bangunannya, yang tersisa hanyalah alamat. Bukan lagi rumah.