Nun jauh di sana, di pusat Galaksi Arkandhara yang berjarak jutaan tahun cahaya dari Galaksi Bimasakti. Dan di antara milyaran bintang yang bertaburan, terlihat setitik cahaya biru terang. Cahaya itu merupakan cahaya dari sebuah planet yang dikenal dengan nama Bumi Biru, yang dihuni oleh ras manusia pengendali unsur.
Untuk pertama kalinya sejak Bumi Biru dibentuk oleh unsur-unsur purba, para tetua empat unsur utama (angin, air, api, dan tanah) di Bumi Biru sepakat untuk tidak menyerang melainkan untuk saling menahan.
Mereka kemudian membuat sebuah tatanan baru. Sebuah mandala dari aksara dan sumpah. Di mana kekuatan tidak lagi berdiri sendiri tanpa penyeimbang.
Mereka sepakat untuk mendirikan Aksharamandala. Sebuah bangunan bukan benteng bukan pula kerajaan melainkan poros keseimbangan. Bangunan itu berbentuk kuil besar dengan empat pilar. Di kuil itu empat unsur diajarkan untuk saling menahan bukan saling meniadakan.
Setiap pilar ditanam di atas janji. Dan setiap janji menyimpan retakan yang sengaja dibiarkan begitu saja agar Bumi Biru tidak lupa betapa rapuhnya sebuah keseimbangan. Dan juga untuk mengingatkan bahwa pernah ada unsur yang melangkah terlalu jauh.
Sejarah Bumi Biru tidak pernah menulis nama unsur itu tapi memilih kata keseimbangan agar terasa lebih mudah diterima oleh semua unsur.