Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #3

Bab 1. Bayuttara

Bayuttara

“dia dibesarkan angin, dan ditinggalkan langit.”

Bayuttara adalah putra tunggal pasangan Ravina dan Garynda, dua pengendali angin yang disegani dari Klan Luhur Angin—para pengatur cuaca di pegunungan tinggi. Dia lahir di Desa Tarimaya dataran tinggi Kalayun.

Tarimaya adalah desa yang sunyi tetapi penuh harmoni. Angin menjadi teman sekaligus penguji. Desa itu berada di hamparan tanah luas dengan awan yang menggantung rendah dan terletak di antara tebing-tebing tinggi Pegunungan Kalayun. Kalayun merupakan tempat tertinggi ke dua di Bumi Biru setelah Puncak Mahameru. Tempat itu dikenal dengan angin abadi yang tidak pernah berhenti bertiup.

Penduduk Tarimaya membuat rumah-rumah dari kayu pinus dan batu cadas gunung. Sedangkan atapnya ditutup ijuk dan serat pohon kalpa*. Desa itu tidak besar dan hanya dihuni oleh belasan keluarga saja. Namun, setiap keluarga adalah bagian dari Klan Luhur Angin. Mereka adalah pewaris ilmu Vayu* yang konon lahir dari nafas pertama langit.

Di sekeliling Desa Tarimaya terbentang hamparan padang rumput gunung yang sebagian besar ditumbuhi dandelion liar yang menari dan berhamburan ditiup angin. Di sisi utara dibatasi jurang dalam yang terbuka dan memperlihatkan awan putih yang berarak seperti lautan. Sebelum jurang ada hutan pinus berdiri tegak dan rapat sehingga dapat melindungi Desa Tarimaya dari angin badai musim dingin.

***

Bayuttara kecil sering jatuh dari tebing karena mencoba melawan badai atau bermain di jurang tanpa berpikir panjang sehingga dikenal sebagai Anak liar angin.

Dia juga sering berlarian menuruni lereng-lereng tebing batu cadas yang curam. Dia juga senang mendengarkan siulan angin di celah-celah batu gunung atau duduk di atas batu tebing yang tinggi menatap awan bergerak.

Ravina adalah sosok yang lembut dan dikenal dengan julukan Suara Angin yang Menenangkan. Dia sering menidurkan Bayuttara dengan nyanyian kuno yang disebut Rasi Bayu. Sebuah kidung leluhur yang dipercaya bisa meredakan badai.

Ravina mengajarkan pada Bayuttara untuk “mendengarkan” angin bukan sekadar menguasai atau mengendalikannya. Ravina juga pernah berpesan pada Bayuttara kecil.

“Angin adalah pesan langit. Dia bukan milikmu, Nak. Angin tidak dapat kau genggam. Dia hanya menitipkan dirinya padamu. Dengarkan dulu suaranya, baru kau bisa berjalan bersamanya atau mengajaknya menari.”

Hidup Bayuttara waktu itu sederhana. Dia berlatih dasar tarikan napas Vayu, bermain dengan anak-anak lain di ladang rumput, dan mendengarkan kisah legenda angin dari ibunya. Dia tumbuh dengan kebebasan yang tak terkekang.

Namun suatu malam, kejadian tragis merubah hidup Bayuttara. Saat itu bergulung-gulung awan hitam turun dari puncak Kalayun dan lebih pekat dari biasanya. Petir pun menyambar dan angin berputar menjadi pusaran besar yang menghantam Desa Tarimaya.

Orang-orang berteriak melihat rumah-rumah mereka terangkat atapnya. Sementara rumput liar beterbangan dan pohon-pohon pinus tercabut dari akarnya.

Ravina keluar dari rumah kemudian berdiri di antara amukan badai. Dia bernyanyi dengan suara yang bergetar memanggil kidung Rasi Bayu untuk meredakannya. Sementara itu Bayuttara kecil memeluk pinggang ayahnya sambil memandang ibunya yang sedang melawan amukan badai yang liar.

Badai akhirnya mereda tetapi tubuh Ravina tidak pernah kembali. Disaksikan Bayuttara dan Garynda, Ravina lenyap ditelan pusaran angin terakhir yang meledak di atas jurang.

Sejak hari itu kehidupan Bayuttara berubah. Senyumnya yang cerah menghilang. Dia sering pergi ke tepi jurang tempat terakhir melihat ibunya. Di sana dia bisa duduk diam berjam-jam sambil mendengarkan suara angin.

Lihat selengkapnya