Nilacandra
“Bulan di atas laut biru.”
Di kepulauan Samayra hiduplah sekelompok manusia dari garis keturunan klan kuno pengendali air yang bernama Rasi Tirta—penjaga air yang mampu membaca memori dunia lewat riak gelombang.
Samayra adalah gugusan pulau yang tersebar di tengah samudra luas. Disebut juga Mata Laut karena dari atas, Samayra terlihat seperti lingkaran raksasa dengan pulau-pulau kecil mengitari satu pulau utama. Lautnya berwarna biru pekat dan kadang berkilau keperakan seperti kaca di bawah sinar bulan. Terdapat danau air asin di tengah pulau utama yang dipercaya sebagai cermin dunia roh air.
Klan Rasi Tirta hidup dari laut. Mereka menyebut dirinya sebagai penyanyi gelombang, karena setiap kegiatan laut seperti menjala, berlayar, bahkan merawat perahu selalu ditemani nyanyian doa agar laut tenang.
***
Nilacandra merupakan satu-satunya anak perempuan dari pasangan Mayra dan Restu. Dua pengendali air yang dikenal luas di klan kuno ini. Tetapi Mayra meninggal ketika Nilacandra berusia tiga tahun. Sebelum meninggal Mayra telah mewariskan cincin laut tanda keturunan Rasi Tirta yang berbentuk ombak dan sebuah pesan kepada Nilacandra.
“Air menyimpan segala ingatan, bahkan ketika dunia lupa.”
Klan Rasi Tirta hidup damai setelah perang unsur di Bumi Biru ini berkat empat penjaga sebelumnya. Keadaan ini membuat mereka jarang berlatih menggunakan kekuatan pengendali airnya. Mereka pun terlena dan tidak siap saat bencana gempa besar dan tsunami melanda Kepulauan Samayra. Sebagian besar kepulauan tersapu ombak besar dan tenggelam bersama para penduduknya.
Waktu itu Nilacandra kecil melihat ibunya menyerah pada laut dan tenggelam saat berusaha melindunginya. Nilacandra selamat bukan karena diselamatkan tapi karena laut telah "memilihnya". Sejak saat itu dia sering duduk di tebing batu karang sambil memandang laut tempat ibunya tenggelam.
Selanjutnya Nilacandra dibesarkan oleh Restu dan dibimbing oleh Iramaya, roh tua penjaga laut Samayra yang berbentuk cahaya kebiruan, untuk menjadi Tirta Indriya — pengemban kehendak air. Kelak Nilacandra akan mempunyai kemampuan untuk menyelami memori yang tersimpan dalam air, mendengar bisikan memori air, dan menggunakannya untuk menuntun atau melindungi dunia.
Nilacandra juga belajar membaca kenangan lewat tetesan air hujan, arus sungai, bahkan air mata. Dia menanggalkan rasa cinta, kasih, dan bahkan dendam. Dari situ kekuatan pengendali airnya tumbuh kembali dan semakin kuat.
Namun Iramaya juga memperingatkannya, “Air menyimpan segalanya, baik luka maupun kasih. Jika kau ingin menjadi penjaga sejati, kau harus berani menatap keduanya.”
Nilacandra adalah sosok yang jarang bicara. Dia lebih memilih diam dan mengamati. Emosinya sulit dibaca. Bersikap seperti air, menyesuaikan, menyelinap, dan menghanyutkan. Dia tidak membenci dan tidak pula mencintai. Hanya menjalankan kehendak air yang membentuk dirinya.
Tapi di balik ketenangannya, Nilacandra menanggung luka lama yang menjadi sumber kekuatannya sekaligus beban batinnya. Setiap tetes air yang dia kendalikan membawa bayangan masa lalunya.
***
Ratusan tahun setelah Kuil Aksharamandala didirikan, para tetua kuil mencari Penjaga Unsur Air baru untuk menggantikan generasi sebelumnya. Mereka meyakini bahwa hanya seorang keturunan Rasi Tirta yang dapat mengembalikan keseimbangan memori dunia. Dan resonansi dari Aksharamandala ini membuat Samayra kembali bergetar dan meresponnya.
Nama Nilacandra pun disebut oleh para tetua Samayra untuk mengikuti ujian penjaga air. Namun Nilacandra yang saat itu berusia 18 tahun masih ragu. Dia segera menemui Iramaya.