Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #5

Bab 3. Ravankara

Ravankara


"Api bukan untuk menghangatkan tapi untuk mengakhiri.”

Samana—Lembah Api yang Terbuang—adalah nama sebuah padang yang luas dan terasing dengan iklim kering, tandus, dan nyaris tanpa kehidupan. Samana ibaratnya penjara tanpa dinding. Di sana angin hampir tidak berembus, air jarang menetes, dan tanahnya retak-retak bagai tubuh yang kehausan.

Langit Samana selalu muram, seakan sinar mentari pun enggan menyentuh tanah di sana. Namun, di situlah pasca perang unsur di Bumi Biru, generasi demi generasi Suku Bara—pewaris api purba— bertahan hidup dengan stigma "Api adalah kutukan. Api adalah dosa yang diwariskan."

Beberapa abad setelah keseimbangan antar unsur digaungkan dari Aksharamandala, di padang yang terasing itu lahirlah Ravankara. Dia merupakan anak dari garis keturunan penjaga kuil api purba.

Ravankara memiliki nyala mata merah keemasan seolah memantulkan bara api yang tidak pernah padam. Tetapi dia berkepribadian "dingin" bagai bara yang membeku.

Ravankara mempunyai julukan Putra Bara. Dia percaya bahwa dunia hanya akan damai jika dibakar hingga bersih. Dan kekuatan tertinggi harus mengendalikan semua.

Baginya api bukan alat kekerasan tapi bentuk pembersihan dari kebusukan dunia. Ravankara ingin api bisa diterima dan dianggap bukan sebagai ancaman.

Tapi semua itu harus dipendam dan hanya menjadi impiannya. Karena sejak kecil Ravankara tumbuh bersama cerita kelam sejarah perang unsur di Bumi Biru. Bahwa api telah dituduh sebagai pemicu perang atau sumber kekacauan.

Hanya ibunya satu-satunya sosok yang bisa membuat Ravankara merasa tenang dan selalu berpesan, “Ravankara, api bukan hanya membakar tapi juga menghangatkan. Kau hanya perlu belajar mendengar napasnya.”

Namun, kata-kata ibunya selalu dipatahkan oleh bisikan para tetua Suku Bara, "Bumi Biru membenci api. Jangan kau nyalakan. Jangan kau hidupkan. Tahan, tekan, atau matikan api itu!"

Sejak saat itu Ravankara kecil mulai diajarkan bahwa dunia luar atau Bumi Biru membenci api. Api harus ditekan, dibatasi, bahkan dimatikan. Sehingga Ravankara menganggap dirinya sebagai pewaris api yang terkutuk. Kemarahan dan kesedihan pun pelan-pelan menumbuhkan rasa dendam pada kehidupan dunia luar.

***

Saat berusia sekitar tujuh tahun, Ravankara jatuh sakit. Dia mengalami demam tinggi hingga membuat tubuhnya menggigil hebat. Sementara malam itu, angin dingin Padang Samana bertiup kencang hingga menerobos masuk ke gubuk sederhana tempat dia berbaring bersama ibunya.

Tubuh kecil Ravankara menggeliat menahan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Sehingga tanpa sadar dia mengeluarkan api kecil dari telapak tangannya.

Karena kondisi tubuh yang lemah Ravankara tidak bisa mengendalikan nyala api di tangannya sendiri. Dia panik hingga api itu dengan cepat membesar kemudian menyambar tirai, kayu, dan jerami di sekitar mereka. Terjadilah kebakaran hebat yang melahap gubuk mereka.

Ibunya mencoba menyelamatkan dengan cara membungkus tubuh Ravankara dengan kain basah sambil berusaha menggendongnya keluar. Tapi api yang lahir dari kepanikan Ravankara itu bukanlah api biasa. Api itu sangat kuat seperti api dendam yang tidak bisa dipadamkan oleh gelombang air dan tidak bisa diredakan oleh embusan badai.

Gubuk itu pun runtuh menimpa mereka berdua. Hanya Ravankara kecil yang berhasil diseret keluar oleh orang-orang yang mengetahui musibah itu. Sementara ibunya masih terjebak di dalam kobaran api dan meninggal di sana.

Lihat selengkapnya