Satyabhumi
"Tanah tidak mengejar langit, air, atau api. Tapi mereka semua kembali padanya."
Padang Karangartha berada di ujung barat Bumi Biru. Tempat itu berupa hamparan tanah keras dan lempengan batu purba yang nyaris tanpa pepohonan.
Di sana tidak mudah menemukan sumber air. Karena air tidak pernah mengalir di permukaannya tetapi keluar dari retakan batu yang dalam dan dari mata air vertikal. Airnya terasa lebih dingin dari tempat lain, jernih, dan dipercaya menyimpan ingatan tanah.
Selain itu lingkungan kering dan matahari yang bersinar terik sepanjang hari membuat udara di Padang Karangartha menjadi sangat panas. Dan embusan angin panas itu seringkali membawa debu dan butiran pasir yang dapat menggores kulit.
Sejauh mata memandang di dataran itu banyak dihiasi batu-batu raksasa. Batu-batu itu berdiri di atas lempengan purba dan menjulang tinggi seakan menjadi pilar-pilar kuno di Bumi Biru yang membeku sejak zaman purba.
Namun, di lanskap tandus yang begitu luas itu di bagian tengahnya tampak sedikit menghijau. Terlihat juga titik-titik kepulan asap yang meninggi tertiup angin. Dan di situlah berdiri Pura Watu Jati. Sebuah pura yang cukup besar dan dibangun dari batu hitam kecokelatan.
Pura Watu Jati berukiran dalam dan penuh retakan alami seolah tumbuh langsung dari dalam bumi. Pura ini bukan hanya tempat suci tapi juga perpustakaan batu. Di dinding dan lantainya tersimpan ukiran sejarah, kisah peperangan, ramalan, serta jejak perjanjian kuno antar unsur. Setiap celahnya menyimpan keseimbangan dan memori sejarah Bumi Biru.
Di sekeliling pura terdapat Desa Watujara tempat bermukimnya Suku Watujara, klan tua yang disebut Pelindung Bumi. Mereka keras tapi pendiam. Hidupnya sederhana dari hasil tambang, ukiran, dan tanah. Mereka para penjaga tanah yang memilih diam daripada runtuh.
Desa Watujara tidak dibangun di atas tanah datar melainkan di sela-sela dan di punggung batu-batu raksasa yang tersebar di sekitar Pura Watu Jati. Sehingga dari kejauhan, Desa Watujara terlihat seperti formasi batu alami seolah bukan buatan manusia.
Suku Watujara mampu mendengar detak bumi dan merasakan denyut kehidupan di bawah lapisan tanah. Jiwa mereka dalam dan sabar tapi sekali mereka bergerak mereka bagaikan gunung yang tidak akan tergoyahkan.
Dari suku ini lahirlah Satyabhumi, pengendali tanah dan batu, yang sekarang telah berusia 20 tahun. Seusia dengan Bayuttara tapi lebih tua satu dan dua tahun dari Ravankara dan Nilacandra. Satyabhumi mempunyai tubuh kekar dengan kulit terbakar matahari dan tatapan mata coklat yang teduh namun berisi semangat.
Satyabhumi lahir sebagai anak sulung dari seorang pemahat batu dan seorang penjaga pura. Sejak kecil dia terbiasa bermain di sekitar bongkahan batu besar untuk mendengarkan getaran tanah. Dia juga sering memanjat pilar batu yang menjulang tinggi.
Orang-orang Suku Watujara percaya bahwa anak-anak mereka harus belajar diam sebelum belajar bicara. Mereka juga harus belajar mendengar bumi sebelum memahami manusia.
Oleh karena itu Satyabhumi kecil sering diajak ayahnya duduk berjam-jam di ruangan pura yang sunyi. Dia menempelkan telinganya ke lantai batu untuk mendengarkan gema bumi yang dalam.
Dari kebiasaan itu Satyabhumi tumbuh menjadi anak yang tenang dan jarang bicara. Namun, sekali bicara kata-katanya selalu berat dan penuh makna. Teman-temannya kadang mengolok-oloknya lamban tapi dia tidak pernah marah. Satyabhumi tahu bahwa tanah tidak perlu menjawab angin tapi tanah hanya perlu bertahan.
Ketika masih anak-anak, usia kurang lebih sepuluh tahun, Satyabhumi dapat meretakkan tanah hanya dengan telapak kakinya. Awalnya dia kaget karena lantai batu di bawahnya pecah dan mengeluarkan debu. Namun ayahnya justru tersenyum bangga.
Ayahnya lalu mengingatkan, “Itu bukan kutukan. Itu napas bumi yang memilihmu. Jagalah! Jangan kau gunakan untuk amarah. Ingat, tanah adalah penopang bukan pemusnah!”