Perjalanan angin—Bayuttara
Pegunungan Kalayun tampak menjulang tinggi bagaikan dinding biru dan dikelilingi oleh awan yang bergerak lambat. Sementara Desa Tarimaya semakin lama terlihat semakin mengecil di balik kabut pegunungan saat Bayuttara melangkah pergi.
Hari ini Bayuttara memulai perjalanannya ke Aksharamandala. Dia hanya membawa suling bambu tua peninggalan ayahnya dan sehelai kain berlambang Tarimaya. Kain itu dia ikatkan di pinggangnya membentuk kantong yang diisi beberapa benda sederhana.
Udara dingin Pegunungan Kalayun menyapa wajah Bayuttara seakan mengingatkan betapa berat langkah yang harus dia tempuh. Sepanjang perjalanannya dia merasa seperti membawa dua beban. Yaitu, harapan warga Desa Tarimaya sebagai pewaris Luhur Angin dan luka pribadi karena kehilangan ibunya.
**
Hari pertama ini Bayuttara melewati jalan setapak di sepanjang tepi tebing-tebing terjal. Angin pegunungan yang berembus sangat kencang dan panasnya sinar mentari berusaha menggoyahkan tubuhnya.
Setelah melewati jalan setapak yang cukup panjang Bayuttara berhenti sejenak di atas tebing sambil memandang ke bawah. Dilihatnya jurang dalam yang hanya berisi kabut.
Tiba-tiba dia mendengar desiran angin yang berputar di ke dua telinganya. Desiran itu mirip suara sebuah bisikan.
“Bayuttara … cucu Tarimaya. Mampukah kau membawa kehendak kami? Atau kau akan tumbang seperti ibumu di badai itu?”
Bayuttara terkejut mendengarnya. Dia segera menggenggam sulingnya erat-erat. Saat itu wajah Ravina terlintas jelas di benaknya dengan senyum terakhir sebelum badai menelan hidupnya. Dadanya terasa sesak saat mengingatnya tapi dia berusaha menguatkan hatinya.
“Aku akan tetap berjalan meski angin melawanku. Karena aku bukan budak angin … akulah pewarisnya,” gumam Bayuttara.
Embusan angin yang semula liar pun tiba-tiba melunak seolah barusaja menguji sekaligus memberkati perjalanan Bayuttara.
**
Hari kedua Bayuttara melewati Lembah Bayangan. Sebuah lembah penuh kabut dan pepohonan besar dengan akar yang saling melilit. Konon lembah itu dihuni oleh roh-roh leluhur Klan Angin yang tersisa dari Perang Unsur Pertama.
Dia terus berjalan hingga melewati sebuah jalan yang sempit dan berkelok-kelok. Saat itu angin mendadak diam. Suasana pun menjadi hening dan terasa asing baginya. Kemudian Bayuttara melihat di balik kabut muncul sesosok bayangan yang menyerupai dirinya sendiri tapi dengan wajah murka.
Bayangan itu berkata sinis,"Engkau lemah Bayu! Bahkan ibumu pun mati karenamu. Bagaimana mungkin engkau bisa mewakili angin?”
Bayuttara tertegun sejenak. Namun, dia segera sadar bahwa bayangan itu bukan dirinya melainkan ujian jiwa. Dia segera menutup mata dan mengatur napasnya lalu berdiri tegap. Tidak lama berselang angin tipis mulai berputar di sekelilingnya dan membentuk lingkaran pelindung.
“Aku tidak akan menyangkal luka itu. Tapi luka bukan kelemahanku. Dia adalah alasan aku bertahan,” jawab Bayuttara.
Bayangan itupun lenyap diterpa embusan pusaran angin dan kabut kembali membuka jalan.
**
Hari ketiga Bayuttara akhirnya mencapai puncak tebing Nirantara. Dari sana dia bisa melihat bentangan luas lembah Nirantara, tempat Kuil Aksharamandala berdiri kokoh dengan cahaya emas menyala.
Bayuttara berdiri lama di tepi tebing. Rambutnya yang acak-acakan terbang bersama embusan angin pegunungan. Matanya yang hijau keabuan berkilauan memantulkan semangat yang baru.