Perjalanan Api—Ravankara
Saat dini hari Ravankara melakukan perjalanan hari pertamanya menuju Aksharamandala. Dia meninggalkan Padang Samana tanpa menoleh sedikitpun.
Langkahnya menuju Aksharamandala bukanlah langkah seorang penjaga melainkan langkah seorang anak yang telah kehilangan segalanya.
Dia pergi membawa api dendam dan luka dalam hatinya. Dan tidak seorangpun tahu bahwa perjalanannya ke Aksharamandala membawa bara untuk menagih balas.
Ravankara tidak sendirian saat berangkat ke Aksharamandala. Para tetua Samana telah menunjuk tiga prajurit tua untuk mengawalnya.
Mereka tidak untuk menjaga Ravankara tapi memastikan bahwa dia benar-benar pergi ke Aksharamandala. Karena di mata mereka Ravankara bukanlah calon penjaga melainkan kutukan yang harus dijauhkan dari Padang Samana.
Dengan dikawal oleh tiga prajurit tua, Ravankara meninggalkan Padang Samana. Mereka berempat berjalan menembus lebatnya hutan belantara Pegunungan Merana. Sebuah pegunungan yang menjulang tinggi dan menjadi tembok pemisah antara Padang Samana dengan dunia luar.
Udara di sana berbeda dari padang kering Samana, sangat dingin menusuk tulang. Hutannya penuh kabut disertai angin yang berputar liar.
Bagi Ravankara setiap embusan angin di Pegunungan Merana terasa asing seolah-olah dunia luar sedang menganalisa napasnya. Bahkan di sana dia selalu mendengar desiran angin yang berbisik, “Kau bukan bagian dari kami.”
Meski begitu dia terus berjalan membelah hutan belantara yang belum pernah dijamah oleh manusia.
Selama perjalanan ke tiga pengawal itu memperlakukan Ravankara seperti tahanan. Mereka tidak berbicara pada Ravankara kecuali hanya memberi perintah-perintah singkat. Misalnya, “Jangan tertinggal!" dan "Jangan menyalakan api!”
Ravankara hanya diam saja mendengar semua perintah itu. Tapi di dalam hatinya setiap langkah terasa seperti menginjak bara dendam.
Saat malam Ravankara terpaksa tidur di tanah dingin tanpa alas dan tanpa api. Para pengawalnya berjaga ketat agar dia tidak mengeluarkan nyala api sedikitpun.
Tetapi diam-diam dan tidak seorang pengawal pun mengetahuinya, Ravankara menyalakan bara kecil di telapak tangannya hanya untuk menghangatkan dirinya sendiri. Bara itu berwarna merah-hitam dan bergetar seperti detak jantung.
**
Hari ke dua merupakan pertemuan Ravankara dengan "dunia luar". Setelah melewati malam yang dingin di Pegunungan Merana, keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan turun menuju lembah.
Saat itu Ravankara melihat pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Hutan dengan bermacam-macam pohon yang hijau, air sungai yang mengalir deras dan berkilau, serta desa-desa yang tampak hidup dengan berbagai aktivitas warganya. Semua itu terasa seperti ejekan bagi Ravankara karena Padang Samana hanya berupa tanah kering dan mati.
Rombongan Ravankara telah melewati beberapa desa dan selalu menjadi pusat perhatian penduduknya. Mereka memandangnya dengan penasaran.
Hingga rombongan melewati sebuah desa di tepi hutan dan disambut oleh anak-anak. Tapi begitu mereka melihat api kecil yang tanpa sengaja keluar dari tangan Ravankara, anak-anak itu ketakutan. Mereka berlarian sambil menjerit-jerit lalu bersembunyi.
Bahkan di luar Samana pun api tetap dianggap sebagai kutukan. Hati Ravankara semakin mengeras.