Pagi datang dengan cara yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Diiringi kabut tipis yang menggantung rendah seolah enggan pergi. Dan cahaya matahari pertama merayap perlahan di balik Lembah Nirantara.
Udara pun terasa berat dengan sesuatu yang hampir tidak terlihat—cahaya lembut kuning keemasan yang menjulang tinggi di balik kabut Lembah Nirantara.
Cahaya itu berasal dari Kuil Aksharamandala yang berdiri dengan kokohnya di Lembah Nirantara di kaki pegunungan. Lembah Nirantara merupakan titik pertemuan empat aliran energi Bumi Biru di mana angin, air, tanah, dan api bertemu dan saling menahan.
Aksharamandala didirikan bukan sebagai benteng atau istana tapi sebagai lingkaran suci. Tempat para penjaga unsur dilahirkan kembali bukan sebagai penguasa tapi sebagai penyeimbang di Bumi Biru. Berbentuk mandala raksasa, konsentris, dan melingkar seperti aliran unsur itu sendiri.
Dindingnya terbuat dari batu hitam yang tidak pernah berlumut, tidak pernah retak atau pecah meski telah berdiri selama ratusan tahun. Di setiap dinding luar tertulis huruf-huruf kuno dan simbol dari empat unsur. Dinding ini bukan sekadar pelindung tapi sebagai pengingat bahwa unsur bukan untuk dikendalikan tapi dihormati.
Pelataran Kuil Aksharamandala berupa ruang terbuka yang cukup luas. Lantainya disusun dari batu hitam yang berukir mantra.
Di sekeliling pelataran terdapat taman unsur yang di dalamnya berupa pepohonan dari semua iklim, kolam refleksi dengan aliran sungai kecil, dan jalur tanah menggembur.
Di tengah pelataran terdapat lingkaran yang dikelilingi oleh empat pilar unsur menjulang tinggi.
***
Pagi itu masih sunyi. Matahari masih merasa dingin. Tapi cahaya samarnya telah menyentuh lantai batu. Angin belum juga mau berbisik. Sedangkan langit hanya menyaksikan.
Bahwa di tengah lingkaran suci di pelataran Kuil Aksharamandala tempat para leluhur pernah bersumpah dan di mana batu-batu tua tersusun membentuk mandala raksasa, empat sosok dari empat arah yang berbeda berdiri dalam diam. Pakaian yang mereka pakai menunjukkan garis keturunan unsur mereka.
Mereka datang bukan sebagai sekutu bukan pula sebagai musuh melainkan sebagai teka-teki yang harus diselesaikan.
Mereka berdiri saling berhadapan. Diam dan seakan kata-kata belum layak diucapkan sebelum tempat ini mengakui keberadaan mereka.
Empat pilar unsur yang menjulang tinggi mengelilingi mereka. Udara berputar lembut di sekitar pilar angin. Air berkilau seperti permukaan danau di bawah cahaya pagi di pilar air. Percikan api kecil berlarian di sepanjang ukiran batu pilar api. Sementara akar dan lumut merayap dengan gagah di pilar bumi yang kuat, tenang, dan tidak tergoyahkan.
Keempatnya masih berdiri di tengah lingkaran suci tanpa ada yang saling bertegur sapa. Namun, di bawah mereka, simbol kuno baru saja bergetar halus seolah telah menyadari kehadiran mereka.
Sementara lantai batu mandala raksasa Aksharamandala merespon mereka dengan bersinar lembut dan seakan menyapa, “Selamat datang. Takdir kalian bukan dimulai melainkan dipanggil kembali.”
Mereka semua masih remaja dan baru pertama kali datang. Tapi disetiap sudut Aksharamandala dapat mengenali mereka. Dan dari percikan air, batu, daun, dan angin di tempat itu berbisik hal yang sama, Empat arah telah kembali. Bumi Biru akan bergerak lagi.
Demikianlah, kurang lebih satu abad setelah masa generasi empat penjaga sebelumnya berakhir, kini Aksharamandala berdenyut kembali. Akan melahirkan empat penjaga baru untuk sebuah keseimbangan dan keharmonisan ke empat unsur utama di Bumi Biru.
***
Ke empat remaja calon penjaga unsur itu masih berdiri saling berhadapan dan merasa asing satu sama lain. Mereka adalah empat arah yang akhirnya bertemu di satu lingkaran.
Suasana saat itu masih hening. Mereka hanya bisa saling menilai dalam diam di bawah bayang-bayang Aksharamandala yang akan menjadi takdir mereka.