Gema suara gong dengan cepat merambat ke setiap sudut pelataran dan membuat lantai kuil yang berupa batu hitam bergetar halus.
Gema juga mengakibatkan obor di pilar api berkibar lebih tinggi dan pusaran udara di pilar angin makin cepat. Sedangkan aliran air yang membentuk tirai di pilar air bergetar dan menhir kolosal di pilar tanah berdengung rendah.
Di akhir gema, pintu gerbang batu Aksharamandala—pintu masuk utama dari pelataran ke dalam kuil, mulai terbuka perlahan. Cahaya mantra kuno pun dengan cepat menyemburat keluar dari pintu yang baru saja terbuka itu.
Cahaya itu berwarna biru pucat melayang seperti kabut. Cukup untuk menerangi wajah keempat calon penjaga dan menajamkan tatapan mata mereka. Dalam sekejap cahaya itu menciptakan ilusi di alam bawah sadar yang berupa luka, ambisi, dan rahasia yg mereka bawa.
Ke empat penjaga muda masih berdiri di tengah pelataran kuil. Mereka masih saling menunggu dan menimbang.
Ravankara dengan nyala api yang terus bergetar di jarinya dan siap meledak kapan saja. Bayuttara dengan senyum tipis, anginnya berputar penuh tenaga.
Nilacandra, auranya tampak seperti lautan yang menahan badai dari dalam. Dingin namun berbahaya. Sementara Satyabhumi masih diam bagai batu karang tapi tatapan matanya menegaskan bahwa dia siap menahan semua gelombang.
Ketegangan di antara mereka terasa semakin panjang. Mereka kini bukan lagi sekadar anak muda dari empat arah Bumi Biru. Mereka adalah empat unsur yang dipaksa bertemu dalam satu lingkaran. Bumi Biru pun menahan napas menunggu apa yang akan terjadi.
Pintu batu itu berhenti bergerak dan hanya terbuka satu jengkal saja. Saat itu tidak ada seorang tetua pun yang keluar. Cahaya biru di balik celah pintu itu pun perlahan meredup sebagai isyarat menunda pertemuan mereka dengan para tetua.
Yang tersisa hanyalah empat calon penjaga unsur yang saling mengukur dalam diam dan berdiri di tengah pusaran takdir yang mulai berputar. Dan pelataran Aksharamandala pun membeku dalam aura misterius menanti langkah pertama siapa yang berani memecahkan lingkaran sunyi itu.
***
Para tetua Aksharamandala tidak ada yang keluar. Namun, dari pintu kecil yang lain keluarlah seorang penjaga kuil dan langsung mendekat ke arah mereka. Penjaga itu memberi isyarat agar mereka mengikutinya.
Suasana kuil masih tampak hening. Hanya terdengar sayup-sayup gema gong dari dalam. Dan cahaya kuning keemasan dari ukiran mantra di dinding kuil merambat seperti urat, menyoroti bayangan empat sosok muda yang sedang berjalan mengikuti seorang penjaga kuil ke arah ruang Asrama Unsur tempat peristirahatan mereka.
Mereka ditempatkan di bangunan melingkar yang menghadap ke pelataran utama. Masing-masing kamar disesuaikan dengan unsur mereka.
Kamar Bayuttara tampak lebih terbuka karena tanpa jendela kaca. Hanya ditutup tirai tipis yang menari bersama angin malam. Bayuttara memperhatikan sekelilingnya kemudian menuju jendela kamar dan duduk di sana. Ke dua kakinya menjuntai keluar merasakan angin malam yang dingin. Dia mencoba tersenyum lalu bersiul pelan meski di dalam hatinya ada kegelisahan.
Tempat ini terlalu kaku. Terlalu diam. Bukan untuk orang bebas seperti aku. Tapi … tiga orang itu … apa mereka benar-benar kawan seperjalanan atau musuh dalam selimut!? kata Bayuttara dalam hati.
Kamar Nilacandra didominasi lantai basah dengan pancuran kecil yang menetes tanpa henti. Terbayang suasana laut ada di kamarnya. Dan aroma laut pun tercium samar.
Nilacandra mengelilingi kamarnya dan berhenti di depan pancuran air kecil. Dia menunduk menatap bayangan dirinya di atas permukaan air. Wajahnya tampak tenang tapi ada kilatan gelap di matanya yang menandakan kegundahan hatinya.
Ibu … roh laut … aku sudah sampai di sini. Tapi kenapa hatiku masih terasa sepi? Apakah mereka akan memahami? Atau lagi-lagi … aku hanya akan ditinggalkan? tanya Nilacandra dalam hati. Air di pancuran beriak halus pertanda merespons kegundahan hatinya.