Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #11

Bab 9. Latihan Awal

Sudah lewat tiga hari empat calon penjaga muda itu tinggal di Aksharamandala. Mereka bukan teman. Tepatnya belum karena belum ada perkenalan. Hanya mendengar dan tahu nama masing-masing saja.

Namun di setiap pagi, saat matahari menyelinap di antara daun-daun pepohonan di Lembah Nirantara dan sinarnya menyentuh pelataran kuil, Bayuttara, Nilacandra, Satyabhumi, dan Ravankara selalu giat berlatih. Mereka berlatih secara mandiri dibawah bimbingan para guru. Sedangkan para tetua hanya mengawasi.

Mereka berempat berdiri sejajar dan mulai melakukan gerakan dengan irama yang aneh tapi selaras. Irama dari gerakan dasar unsur mereka masing-masing.

Kita perhatikan Bayuttara dulu. Dia berdiri di tengah pelataran. Terlihat gagah dengan jubah dan rambut yang acak-acakan terburai ditiup angin. Perlahan dia melakukan gerakan dasar pengendali angin. Tubuhnya meliuk-liuk menari bersama angin. Begitu indah gerakannya.

Tetapi sifat sembrononya sering muncul. Kalau sudah begitu Bayuttara akan berlatih dengan cara kacau, liar, dan penuh eksperimen. Dia bergerak ke sana kemari mengisi ruang latihan dengan pusaran angin kecil dan tawa kerasnya. Bayuttara juga suka melemparkan tantangan mendadak pada teman yang lain hanya untuk "melihat apa yang akan terjadi".

Sementara Nilacandra memilih tempat cukup jauh dari pusat latihan mereka. Dia berlatih di kolam refleksi yang berada di area taman unsur. Di balik air terjun kecil di sana, Nilacandra melakukan gerakan pemanasan pengendali air.

Ke dua tangannya bergerak lincah memutar, mengangkat, mengayun bahkan mengibaskan. Air kolam pun "bergoyang" hebat mengikuti irama gerakan tangan Nilacandra. Tapi tidak tumpah keluar.

Setelah itu Nilacandra melakukan gerakan memanggil gelombang. Ke dua tangannya membuat gerakan mengayun ke atas yang lembut tapi mematikan.

Terlihat air kolam bergerak ke atas membentuk gelombang setinggi pohon kelapa. Kemudian terhempas dengan cepat. Gelombang air tersebut meghantam dengan keras sisa air yang ada di dasar kolam.

Air kolam pun tersebar ke mana-mana. Tapi dengan cepat Nilacandra menggerakkan tangannya dengan arah memutar. Dan air berkumpul kembali ke dalam kolam.

Nilacandra tersenyum puas karena hari ini tidak ada badai kecil yang berputar-putar mengganggunya. Dia melirik ke arah Bayuttara. Mungkin belum karena si pembuat badai orangnya benar-benar suka usil.

Dia menoleh juga ke arah Ravankara. Sosok yang menurutnya jarang bicara dan paling rajin karena selalu datang di tempat latihan lebih awal dari yang lain.

Kita beralih ke Satyabhumi. Dia melatih dirinya dalam diam. Satyabhumi bisa duduk diam selama satu jam dan dengan cepat memunculkan dinding batu dari dalam tanah.

Ke tiga yang lain menghormati Satyabhumi tanpa kata. Bahkan Bayuttara menyebutnya sebagai "penahan badai".

Sementara Ravankara paling rajin. Dia datang paling pagi tetapi selalu pulang paling akhir. Ravankara tidak pernah mengeluh dan tidak pernah bertanya. Namun, ketika dia melepaskan api, nyala itu cukup membuat para guru mundur sejenak.

***

Senja merah baru saja berganti gelapnya malam. Diiringi udara dingin yang bergerak cepat menyelimuti Lembah Nirantara. Sang Dewi pun beranjak dari peraduannya di cakrawala timur.

Malam itu purnama penuh di tengah langit, kuning pucat warnanya. Sinarnya menyapu cahaya bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.

Pendeta Ghrava adalah salah satu wakil Tetua Unsur Tanah. Dia berjubah batu dan mempunyai suara sekeras batu jatuh.

Lihat selengkapnya