Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #12

Bab 10. Perkenalan

Ada sebuah pohon yang besar dan cukup tinggi sehingga bagian pucuknya tidak bisa dijangkau oleh mata manusia. Pohon itu berdiri di pelataran barat Aksharamandala.

Sebagian akarnya muncul di permukaan tanah. Tampak seperti sekat-sekat. Daunnya mirip pohon kelapa tapi lebih rimbun dan selalu bergerak walaupun angin berhenti bertiup.

Batangnya yang lebar mengeluarkan aroma seperti tanah basah dan dupa yang terbakar. Pohon itu diberi nama Kalpa Agung, berdiri laksana penjaga tua di Aksharamandala.

Malam-malam selanjutnya belum ada latihan lagi bagi calon ke empat penjaga. Dan malam ini purnama bersinar terang, sementara waktu tidur belum datang. Bayuttara, Nilacandra, Ravankara dan Satyabhumi berjalan ke arah Pohon Kalpa Agung.

Tanpa ada yang menyuruh. Hanya rasa ingin tahu yang sama di antara mereka. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa pohon Kalpa Agung itu telah memilih untuk menyambut mereka lebih dulu.

Di bawah naungannya, mereka duduk menghadap satu sama lain membentuk lingkaran dengan batu-batu pipih menjadi tempat duduk mereka.

Mereka datang sebagai remaja dari empat arah. Sepertinya takdir sudah menggambar posisi mereka. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka sebagai kelompok.

Dalam keheningan malam itu mereka adalah satu api kecil … yang belum tahu bahwa mereka kelak akan tumbuh menjadi badai, gelombang, atau retakan di Bumi Biru.

Satyabhumi menjadi yang pertama berbicara, “Langkah kita akhirnya sampai di sini,” ucapnya pelan, suaranya menggaung lembut di antara empat pilar unsur.

“Tempat yang selama ini hanya disebut dalam cerita di tempat asal kita masing-masing,” lanjutnya.

Nilacandra menoleh sebentar ke arah Satyabhumi kemudian memejamkan matanya sejenak. Dia mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh orang biasa.

“Unsur-unsur ini … mereka tidak diam,” kata Nilacandra. Dia membuka mata pelan. “Mereka telah menunggu kita.”

Bayuttara menoleh ke sekeliling merasakan angin yang memeluk wajahnya. “Tidak hanya menunggu,” katanya lirih, “mereka menilai kita.”

Ravankara mendengus kecil. “Baik ... kalau ini penilaian, biarkan mereka melihat kekuatan kita masing-masing,” katanya tajam.

Nilacandra memandang Ravankara bukan dengan kemarahan tetapi dengan tatapan mata penasaran.

Bayuttara menarik napas panjang. Pandangannya meredup. “Kita adalah empat unsur, empat pewaris … tapi satu peran,” ucapnya.

Satyabhumi melangkah satu tapak ke depan. Cahaya bulan menyentuh wajahnya menciptakan relief tegas seperti ukiran batu kuno.

“Mulai hari ini,” katanya dengan nada perlahan, “kita tidak lagi hanya pewaris.”

Satyabhumi menatap mereka satu per satu. “Kita adalah Penjaga,” lanjutnya.

Ke empat pilar unsur pun bergetar. Udara berdesis. Cahaya bulan berkedip. Tanah bergumam pelan dan percik api membentuk garis tipis melingkari simbol mandala di bawah kaki mereka.

Ravankara menatap fenomena itu dengan kekaguman sekaligus kecemasan. “Takdir ini ... tidak akan mudah,” katanya pelan.

Bayuttara merespon dengan senyum tipis. Senyum seseorang yang memilih harapan meskipun tahu kemungkinan kehancuran lebih besar.

Lihat selengkapnya