Ke empat tetua mengumpulkan calon empat penjaga di pelataran kuil. Mereka menuju ke tengah lingkaran. Setelah itu ke empat tetua menggerak-gerakkan tangannya.
Tidak lama kemudian empat pilar unsur bergetar. Lingkaran batu tempat mereka berpijak pun terangkat beberapa jengkal sehingga membentuk sebuah arena latihan bagi mereka.
Tetua tertua, Maruta Wisesa, dari unsur angin berkata, “Keseimbangan tidak lahir dari kesendirian. Mulailah dengan menyatukan kekuatan kalian, agar unsur tidak saling memusnahkan.”
Latihan pun dimulai. Mereka dibagi menjadi dua pasangan. Api Ravankara berpasangan dengan angin Bayuttara. Air Nilacandra berpasangan dengan tanah Satyabhumi.
Ravankara berpasangan dengan Bayuttara. Tugasnya sederhana yaitu memadukan api dengan aliran angin untuk menciptakan nyala api yang terkendali.
Mereka berdiri berhadapan dengan jarak cukup jauh. Ravankara menjulurkan ke dua tangannya dengan telapak tangan terbuka. Muncul nyala api yang bergerak liar.
Bayuttara segera membuat pusaran angin untuk mengurung api itu. Tapi dia meniupkan anginnya terlalu keras hingga terjadi benturan dan membuat api Ravankara meledak liar.
“Kau sengaja mempermainkanku!” bentak Ravankara.
“Bukan salahku kalau api kecilmu tidak tahan sedikit embusan anginku,” kata Buyuttara menyeringai.
Ledakan kecil itu membuat para tetua menghela napas panjang.
Sementara itu Nilacandra dipasangkan dengan Satyabhumi. Mereka diminta membuat aliran air yang menembus tanah tanpa merusak strukturnya.
Mereka berdiri berdampingan. Nilacandra mengayunkan ke dua tangannya untuk mengalirkan air dari kolam refleksi ke arah Satyabhumi.
Satyabhumi segera menghentakkan kakinya ke lantai batu pelataran. Lantai batu merekah kemudian muncul dinding tanah yang keras.
Tapi Nilacandra menyalurkan air terlalu deras seperti ombak. Hasilnya bukan harmoni melainkan banjir yang menghantam dinding tanah lalu pecah dan menyebar ke arena latihan.
“Tanahmu terlalu kaku,” kata Nilacandra dengan nada dingin.
“Airmu saja yang terlalu liar!” bantah Satyabhumi dengan tenang tapi menahan rasa jengkel.
Latihan bersama ini hasilnya belum sesuai harapan para tetua. Mereka kemudian kembali ke asrama masing-masing dengan wajah muram.
Malam itu terasa lebih lama bagi mereka. Mereka merasa bukan satu tim. Bahkan mereka hampir tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak saling melawan.
Sementara itu para tetua masih mengawasi mereka dari kejauhan. Mereka bertemu di Ruang Inti Mandala untuk membicarakan hal tersebut.
Ruang Inti Mandala adalah sebuah ruangan di lingkar ketujuh—lingkar paling dalam kuil Aksharamandala.
Tetua Sindhu membuka pembicaraan, “Mereka sama sekali belum siap. Unsur mereka masih saling melukai.”
“Justru itu! Api harus ditempa oleh benturan. Biarkan mereka saling mengikis,” sahut Tetua Teja.
“Keselarasan tidak akan lahir dalam sehari. Kita lihat saja apakah benturan ini bisa membentuk ikatan atau malah menjadi awal kehancuran bagi Bumi Biru,” kata Tetua Maruta menutup pembicaraan.
Hari-hari awal mereka di Aksharamandala berjalan penuh benturan. Belum ada kerja sama. Hanya ego dan luka yang saling menusuk. Karena masing-masing membawa luka, gengsi, dan sifat keras kepala.
***
Beberapa hari kemudian para tetua kembali membawa ke empat calon penjaga ke pelataran untuk latihan bersama lagi. Kali ini dengan materi latihan yang berbeda.