Hingga beberapa generasi setelah perang unsur di Bumi Biru, rahasia tentang pembekuan Kuil Api Purba tetap menggantung dan aura misteriusnya tetap terjaga. Tapi kini mulai terkuak saat Ravankara mengungkapkan pada Bayuttara ketika mereka menjalani pelatihan empat penjaga di Aksharamandala.
Timbul konflik di antara mereka berdua. Sementara Nilacandra dan Satyabhumi berperan sebagai penengah. Namun, bukan berarti mereka berhasil meredakan semuanya, melainkan sekadar menahan ledakan konflik agar tidak pecah menjadi pertarungan langsung antara Ravankara dengan Bayuttara.
***
Pelataran Kuil Aksharamandala tempat mereka latihan masih bergetar samar oleh energi dari ketegangan ke empat unsur calon penjaga.
Ravankara masih berdiri membelakangi ke tiganya. Api kecil di genggaman tangan Ravankara pun belum padam.
Nilacandra melangkah maju. Wajahnya dingin namun matanya berkilat tenang bagaikan air laut dalam yang tidak mudah diusik.
“Api dan angin boleh saling menuduh! Tapi jangan lupa, kita semua di sini karena pilihan para tetua. Kalau kalian bertarung sekarang, kalian hanya akan jadi pion permainan sejarah yang bahkan belum jelas kebenarannya,” kata Nilacandra.
Ucapannya seperti gelombang yang menampar batu karang. Tegas tapi tidak berteriak. Satyabhumi angkat bicara juga. Suaranya berat dan dalam bagaikan getaran dari dalam tanah yang merambat sampai di bawah telapak kaki.
“Aku tidak tahu kebenaran masa lalu. Tapi yang aku tahu satu hal. Kita belum mengenal satu sama lain. Bahkan belum mengenal diri sendiri sepenuhnya. Jika dendam ini dibiarkan menguasai, maka kita tidak akan pernah menemukan tujuan kita di Aksharamandala,” kata Satyabhumi.
Satyabhumi mengepalkan tangannya. Tubuhnya berdiri kokoh di antara Bayuttara dan Ravankara menjadi penahan agar mereka tidak saling menghantam.
Ravankara mendengus. Api di tangannya perlahan mengecil tapi sorot matanya masih menyala penuh kebencian.
“Kau pikir aku bisa melupakan begitu saja? Air dan tanah bisa saja jadi penengah! Tapi kau tidak pernah tahu rasanya tumbuh di tanah kutukan!” kata Ravankara dengan tegas. Dia berbalik menghadap ke tiga temannya kembali.
Bayuttara memandang Ravankara dengan tatapan tajam. Dia enggan mundur. Udara di antara mereka seperti bilah tipis yang siap memotong kapan saja.
Cahaya bulan pun perlahan meredup di atas pelataran. Bayuttara menghela napas panjang lalu tertawa singkat. Bukan tawa gembira tapi sebagai pelarian agar emosinya tidak meledak.
“Hmm ... percayalah, api! Kalau memang leluhurku melakukan itu, aku sendiri ingin tahu alasannya. Tapi sebelum aku mendengar kebenaran tentang itu, aku tidak akan menanggung beban yang bukan milikku!” kata Bayuttara. Angin di sekelilingnya berdesir seolah ikut merasakan kegusaran hatinya.
Ketegangan masih menggantung. Empat unsur itu terdiam. Ravankara masih dikuasai amarah. Bayuttara diliputi kebingungan sekaligus terusik harga dirinya.
Nilacandra menahan situasi agar tidak meledak menjadi pertarungan langsung. Sementara Satyabhumi berdiri sebagai batu penopang untuk menjaga keseimbangan yang telah rapuh itu.
Langit di atas Aksharamandala tampak lebih gelap dari biasanya seolah menyembunyikan jawaban. Rahasia tentang perang unsur pertama, tentang dosa leluhur, dan tentang alasan sebenarnya mereka dipanggil ke Aksharamandala masih menggantung semua dan belum terjawab.
***